Rabu, 12 Juni 2013

Persembahan Bermanfaat Besar



Yathᾱ pi puppharᾱsimhᾱ
kayirᾱ mᾱlᾱguṇe bahū
evaṁ jᾱtena maccena
kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ

seperti setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga,
demikian pula hendaknya banyak kebajikan
dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.
(Dhammapada, Puppha Vagga;53)


            Ada istilah lain mengatakan Persembahan sama dengan Pemberian, arti sebuah persembahan adalah memberikan suatu tanda hormat berupa materi maupun non materi, yang dikatakan materi tentunya yang tampak oleh kasat mata, seperti uang, kado, rumah, motor, mobil.  Sebaliknya non materi tidak tertampak oleh mata kasar, melainkan berkaitan dengan kualitas batin, seperti ketaatan ibadah, perhatian, nasehat, kebahagiaan.
Masyarakat pada umumnya akan mempertanyakan persembahan apa yang cocok diberikan kepada sosok yang dianggap berarti didalam hidupnya, seperti pada remaja dalam mencari jati dirinya, ia rela berkorban untuk mempersembahkan waktu, materi untuk dapat mengenali lawan jenis yang ia sukai, demi mendapatkan cinta dengan kepuasan dan kebahagiaan duniawi.
            Adapula orang tua yang ingin menyenangkan buah hatinya pada saat berulang tahun dengan mempersembahkan kado kesukaan anaknya, dan masih banyak bentuk persembahan kepada orang-orang yang dianggap berarti didalam hidup ini.
            Persembahan dalam agama Buddha disebut  sebagai pemberian, dalam bahasa Pali disebut Puja, dikenal ada 2 macam: Amisa Puja (pemberian berupa materi, seperti persembahan:
a.       Air memiliki filosofi dari tempat yang tinggi air mengalir memenuhi ruang di tempat yang rendah, demikian layaknya manusia dapat memiliki sifat rendah hati, seperti air yang selalu mengalir  ketempat yang rendah.
b.      Bunga memiliki filosofi pertumbuhan awal berasal dari bibit dan tumbuh menjadi besar, kuncup, hingga bermekaran, dan pada akhirnya layu dan mati atau kering, sebagai arti bahwa layaknya manusia memiliki siklus kehidupan dari adanya janin dalam kandungan sang Ibu, lahir, menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, sakit, dan mati.
c.       Lilin memiliki filosofi penerang didalam sisi kegelapan, demikian layaknya manusia, dengan kebaikan yang ditanam dalam hidup ini, diharapkan dapat menjadi penerang dalam hidupnya, dan dapat menuntun diri keluar dari kegelapan batin menuju kejalan yang terang, yaitu pembebasan.
d.      Dupa memiliki filosofi keharuman kesegala penjuru, dan membuat orang yang merasakan wanginya menjadi bahagia, demikian layaknya kebaikan yang telah dilakukan dapat menyebar keseluruh penjuru dan mampu melawan arah angin, hingga dapat menembus alam dewa.
Paṭipatti Puja: Pemberian dengan melaksanakan kebaikan. Penghormatan ini adalah sebagai persembahan rasa syukur dan terima kasih kepada Guru Buddha yang telah mengajarkan Dhamma untuk umat manusia, agar dapat tercapainya kebahagiaan dan terbebas dari derita, ketidakpuasan (dukkha).
            Sesuai dengan Paṭipatti puja dapat diuraikan menjadi tiga kelompok Dhamma, yaitu: Pariyatti Dhamma, Paṭipatti Dhamma, Paṭivedha Dhamma,


Dalam Dῑgha Nikᾱya; III; PᾹṬIKA; Sigᾱlaka Sutta, halaman 483 dijelaskan : “DEMIKANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavᾱ sedang menetap di Rᾱjagaha, di tempat memberi makan tupai, di Hutan Bambu. Pada saat itu, Sigᾱlaka putra seorang perumah tangga, setelah bangun pagi dan keluar dari Rᾱjagaha, sedang menyembah, dengan pakaian dan rambut basah dan tangan dirangkapkan, ke arah yang berbeda-beda: ke timur, selatan, barat, dan utara, ke bawah dan ke atas.
            Dan Sang Bhagavᾱ, setelah bangun pagi, merapikan jubah, membawa jubah dan mangkuk-Nya pergi ke Rᾱjagaha untuk menerima dana makanan. Dan melihat Sigᾱlaka menyembah arah yang berbeda-beda, beliau bertanya dan memberikan pengertian dan bimbingan tentang penghormatan yang baik sesuai Dhamma, Ada beberapa hal penghormatan  atau persembahan  yang dapat diberikan untuk mendapatkan manfaat yang besar:
1.      Ayah dan Ibu (arah timur)
Ø  dengan lima cara anak dapat memberikan persembahan kepada kedua orang tuanya, yakni:
a.       Dulu aku dirawat, dibesarkan, dididik oleh mereka, sekarang aku akan menunjang mereka.
b.      aku akan melakukan kewajibanku sebagai anak yang berbakti.
c.       aku akan menjaga baik kehormatan keluargaku.
d.      aku akan menjaga baik warisanku
e.       aku akan mengingat, menjalankan budi baik dan selalu mengirimkan doa kepada orangtuaku, meskipun mereka telah tiada.
Sutta pendukung:
1.      Aṅguttara Nikᾱya II;iv;2 halaman 90 tentang membalas budi orang tua, dijelaskan bahwa: “Kunyatakan, O para Bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Siapakah yang dua itu? ayah dan ibu. Bahkan seandainya memikul ibunya dan ayahnya ke kedua bahunya dan pergi kemana saja hingga seratus tahun, bahkan memijiti, meminyaki, memandikan, membuang kotorannya, menggosokan kaki dan tanggannya, mengangkat mereka menjadi Raja, dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta tidaklah dapat membalas jasa mereka, yang dapat membalas jasa kedua orang tua kita adalah dengan cara mendorong mereka yang tadinya tidak percaya, menjadi percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan, moralitas, yang awalnya kikir, jadi dermawan, yang awalnya batinnya bodoh, menjadi bijaksana, cara demikian adalah cara balas budi yang tepat dan melebihi dengan apa yang mereka berikan kepada kita
2.      Majjhima Nikᾱya, Aṅgulimala Sutta;86 , dijelaskan bahwa: ahimsaka adalah anak yang sangat patuh, terdidik, dan pintar, karena sahabat yang iri akan kepintarannya, sahabat-sahabatnya menghasut gurunya dengan memfitnah tuduhan-tuduhan palsu kepada ahimsaka, sehingga guru sangat membenci ahimsaka, setelah lulus dari pendidikannya, ahimsaka diminta untuk mengganti uang sekolahnya bukan dengan uang, melainkan dengan mengumpulkan 1.000 untaian ibu jari tangan kanan dari orang yang berbeda, karena patuh kepada gurunya, dia melakukan hal itu, meskipun ahimsaka harus terpaksa melakukannya, karena ahimsaka tidak pernah melakukan hal itu, dengan pedang terhunus tajam, dia masuk ke dalam hutan Jatila, dan membunuh para pelancong yang lewat dihutan itu, sehingga ahimsaka mendapat julukan Aṅgulimala si pembunuh terkejam, tidak kenal ampun, pada saat untaian ibu jari terkumpul 999, dan yang terakhir adalah ibunya sendiri yang akan dibunuh untuk melengkapi jumlah untaian itu, maka dengan kekuatan kesaktian Buddha, Buddha dapat menghalau lebih cepat tiba dihutan itu daripada ibunya ahimsaka, buddha melihat bahwa Aṅgulimala akan mencapai kesucian pada saat itu, apabila Ahimsaka berhasil membunuh ibunya, maka garuka kamma telah terjadi, maka ahimsaka tidak akan mencapai kesucian, melainkan jatuh kedalam neraka avici. Pada saat itu Buddha dapat melumpuhkan Aṅgulimala dengan kekuatan kesaktian dan cinta kasih, Aṅgulimala dapat bertobat dan menjadi Bhikkhu dan berlatih hingga mencapai Arahat.
3.      Aṅguttara Nikᾱya; IV;63, halaman 238, dijelaskan bahwa keluarga berdiam dengan Brahmᾱ , guru-guru, dewa-dewa, bila di rumah mereka orang tua dihormati oleh anak-anaknya. Para Bhikkhu,  Brahmᾱ , guru-guru, dewa-dewa adalah istilah yang diberikan kepada ayah dan ibu, mengapa? karena mereka telah sangat banyak membantu anak-anaknya, membesarkan, memberi makan dan menunjukkan dunia kepada anak-anaknya.
4.      Pengantar Vinaya, kelompok Vassa, bagian 1, halaman 29 dijelaskan dalam menjalani masa Vassa, seorang bhikkhu diperkenankan untuk meninggalkan tempat dengan salah satu alasan adalah Jika teman Dhamma (bhikkhu dan Samanera), atau ibu dan ayah sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.

Ø  Lima cara orang tua menunjukkan kecintaan terhadap perlakuan anaknya:
a.       mencegah anaknya berbuat jahat.
b.      menganjurkan anaknya berbuat baik.
c.       mendidik anaknya agar mandiri.
d.      mencarikan pasangan yang sesuai dengan anaknya.
e.       pada waktu yang tepat, warisan diberikan.
Sutta pendukung:
1.      Majjhima Nikᾱya; Piyajatika Sutta (seorang ayah yang sangat terpukul dengan kematian putra tunggalnya, dan tidak menerima nasehat Buddha yang menjelaskan orang yang kita cintai adalah membawa dukkha, kesedihan. Hal ini hingga ketelinga Raja Pasenadi dan Ratu Mallika, Ratu Mallika sangat percaya pada konsep Buddha, sedangkan  Raja Pasenadi yang awalnya menolak konsep Buddha, setelah direnungkan apabila puteri tercinta Vajiri mengalami perubahan terhadap dirinya, maka dukkhapun akan terjadi pada diri Raja. setelah memahami konsep bahwa orang-orang yang dicintai adalah membawa dukkha, maka Raja baru memahami konsep itu.
2.      Khuddaka Nikᾱya; Itivuttaka;III;74; halaman 69, dijelaskan bahwa orang bijaksana menginginkan anak yang berkualitas tinggi atau serupa. Mereka tidak menginginkan anak yang berkualitas rendah, yang akan menjadi aib bagi keluarga. tetapi di dunia ini, anak seperti itu yang merupakan umat awam yang berbakti, yang kuat dalam keyakinan dan keluhuran, dermawan, tidak egois, akan bersinar terang di antara orang banyak, bagaikan rembulan yang bebas dari awan.
3.      Dalam cerita Riwayat hidup Buddha Gotama, terdapat cerita seorang wanita bernama Kisagotami yang tidak menerima kematian anaknya, dan datang menghadap kepada Buddha, karena kisagotami mengetahui seorang Buddha adalah Guru para Dewa dan Manusia, dan dianggap mampu menghidupkan anaknya yang baru meninggal, Buddha menjelaskan tentang konsep anicca, dukkha dan anatta, akan tetapi dalam kesedihan yang mendalam kisagotami terus tenggelam dalam kesedihannya, Buddha menjanjikan akan menghidupkan anaknya, apabila kisagotami mampu mencari biji lada hitam disetiap rumah penduduk yang anggota keluarganya belum ada yang pernah mengalami kematian, akhirnya kisagotami menyadari setelah ia mengunjungi hampir semua rumah penduduk dengan syarat yang Buddha berikan, bahwa anaknya meninggal dan tidak dapat hidup kembali, sehingga dengan kesadarannya, ia melepas kepergian anaknya, dan kisagotami juga memohon pada Buddha untuk ditabiskan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni, dengan tekun kisagotami menjadi bhiikhuni, dia dapat menembus pencapain kesucian arahat.
2.      Murid dan Guru
Ø  ada lima cara murid memberikan persembahan kepada gurunya, yaitu:
a.       bangun dari tempat duduk untuk memberikan penghormatan.
b.      melayani gurunya.
c.       bertekad keras untuk rajin belajar.
d.      memberikan jasa-jasa padanya.
e.       memperhatikan dengan baik, pada saat diberi mata pelajaran.
Sutta Pendukung:
1.      Aṅguttara Nikᾱya; V; 2, dijelaskan bahwa kekuatan-kekuatan siswa yang berlatih memiliki lima kekuatan, yaitu: kekuatan keyakinan, malu, takut moral, semangat, dan kebijaksanaan. Memiliki keyakinan dan menempatkannya pada pencerahan Tathᾱgata. Memiliki rasa malu, malu akan apapun yang jahat dan tidak bermanfaat. memiliki rasa takut terhadap tubuh, ucapan, pikiran, takut akan apa pun yang jahat dan tidak bermanfaat.

Ø  ada lima cara guru mencintai muridnya, atas perlakuan baiknya, yaitu:
a.       Ia melatih dengan baik muridnya sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
b.      ia membuat muridnya menguasai pelajaran yang diberikan.
c.       ia mengajar secara mendalam semua ilmu pengetahuan yang dikuasainya.
d.      ia berbicara baik tentang muridnya kepada sahabatnya dan orang lain.
e.       ia menjaga muridnya dari setiap segi.
Sutta Pendukung:
1.      Dῑgha Nikᾱya; I; 15; Lohicca Sutta, halaman 142, dijelaskan tentang Guru yang baik dan yang buruk. Buddha menjelaskan kepada Brahmana Lohicca di Sᾱlavatikᾱ, ada tiga jenis guru di dunia ini yang layak di cela, dan jika siapa pun mencela guru-guru demikian, celaannya adalah pantas,benar, sesuai dengan kenyataan dan tidak salah. Apakah tiga itu?,
1.      Guru yang meninggalkan duniawi, dan hidup tanpa rumah, akan tetapi belum mencapai buah pertapaan, dengan ini ia mengajarkan suatu ajaran, dengan mengatakan ini baik untukmu, bahagia untukmu. Namun murid tidak mau mendengarkan, memperhatikan, mencemooh. Ibarat seorang laki-laki yang terus menerus mendekati seorang perempuan yang menolaknya dan merangkulnya walaupun ia telah berpaling. Aku nyatakan ini adalah ajaran jahat dan berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?
2.      Guru yang meninggalkan duniawi, dan hidup tanpa rumah, akan tetapi belum mencapai buah pertapaan, dengan ini ia mengajarkan suatu ajaran, dengan mengatakan ini baik untukmu, bahagia untukmu. Muridnya mau mendengarkan, memperhatikan, mereka ingin membangkitkan pikirannya, untuk mencapai pencerahaan dan tidak mencemooh nasihat gurunya. Guru ini juga pantas dicela, karena diibarat ia memikirkan ladang orang lain yang perlu dikerjakan. Aku nyatakan ini adalah ajaran jahat dan berdasarkan pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?
3.      Hanya ada satu guru yang tidak dapat dicela, ia adalah Tathᾱgata, beliau adalah guru yang telah meninggalkan duniawi, telah meninggalkan rumah, dan telah mencapai jalan ksempurnaan, guru para Dewa dan Manusia.

3.      Suami dan Istri
Ø  ada lima cara suami memberikan persembahan kepada istrinya, yaitu:
a.       dengan memperhatikan kebutuhan istrinya.
b.      bersikap lemah lembut.
c.       setia dengan isterinya (tidak selingkuh).
d.      memberikan kekuasaan/ kepercayaan tertentu kepada istrinya.
e.       memberikan perhiasan kepada istrinya.
Sutta Pendukung:
Aṅguttara Nikᾱya IV, 53, tentang empat pasangan dalam agama Buddha, yaitu:
1.      Raksasa-Raksasi, layaknya seorang suami dan istri tidak memiliki moralitas, melanggar moralitas yaitu pancasila buddhis, dan mencela kehidupan luhur para petapa.
2.      Raksasa-Dewi, layaknya suami tidak bermoral, mencela para petapa, akan tetapi sang isteri selalu taat menjalankan pancasila buddhis dengan baik, dan menunjang kehidupan luhur para petapa.
3.      Dewa-Raksasi, layaknya suami berkelakuan baik, tidak melanggar pancasila buddhis, dan selalu menyokong kehidupan para petapa, sedangkan isterinya tidak bermoral, dan mencela para petapa.
4.      Dewa-Dewi, keduanya antara suami dan isteri merupakan pelaksana sila yang baik dan tanpa cela, dan bersama-sama dalam menyokong sepenuhnya dengan ketulusan kehidupan para petapa.
Ø ada lima cara seorang isteri mencintai suaminya, atas perlakuan yang diberikannya:
a.       melakukan tugasnya dengan baik
b.      ramah-tamah kepada keluarga dari kedua belah pihak.
c.       setia kepada suaminya
d.      menjaga baik barang yang dibawa suaminya.
e.       pandai dan rajin mengurus rumah tangga.
Sutta Pendukung:
1.      Aṅguttara Nikᾱya........ menjelaskan ada tujuh macam jenis isteri, yaitu:
a.       Isteri seorang pembunuh, ialah seorang isteri yang berkelakuan seperti pembunuh, keji, kejam, tidak mengenal ampun, dan bisa mencelakaan bahkan membunuh suami.
b.      isteri seorang pencuri, tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapat dari suami, selalu menuntut dan suka mencuri uang suaminya demi memenuhi keinginan dan keserakahannya.
c.       isteri seorang tiran, selalu bermalas-malasan dan tidak giat serta tidak mengerjakan tugas layaknya seorang isteri, selalu membuat susah suami, dan membuat rumah tangga selalu menimbulkan konflik.
d.      isteri seorang pelayan, layaknya isteri tunduk dan patuh dengan perintah dan kemauan suaminya, menyiapkan makanan kesukaan suaminya, melayani suaminya, mencuci dan menyeterika pakaian suaminya.
e.       isteri seorang ibu, layaknya isteri yang memperlakukan suaminya seperti anaknya, memberikan perhatiannya dan kasih sayangnya tiada batas dan tanpa pamrih, mengarahkan suami untuk berbuat kebaikan, dan melarang untuk berbuat buruk.
f.       isteri seorang saudara perempuan, layaknya menganggap isteri seperti adiknya sendiri dan isteri menganggap suami seperti kakak, saling perhatian dan berbagi suka dan duka, serta saling mendukung dalam segala hal.
g.      isteri seperti seorang sahabat, layakanya sahabat yang selalu berdua kemana saja, tidak pernah terpisahkan, selalu setia, dan berbagai dalam suka dan duka, salaing memberikan penguat dan motivasi, selalu menyatukan ide untuk masa depan, menghidari pertengkaran, saling belajar untuk memahami.
Aṅguttara Nikᾱya IV, 55, empat macam kondisi yang dapat mempersatukan pasangan dalam kehidupan saat ini dan kehidupan selanjutnya yaitu:
a.       Keyakinan seimbang, meskipun berbeda agama, yang terpenting kualitas keyakinan seimbang dan saling mendukung.
b.      Moralitas yang seimbang.
c.       Kedermawanan yang seimbang.
d.      Kebijaksanaan yang seimbang.

4.      Seseorang  dan sahabat/ kenalan
Ø  ada lima cara seseorang memberikan persembahan kepada sahabat dan kenalannya, yaitu:
a.       murah hati
b.      ramah tamah
c.       berbuat baik
d.      tepat janji
Ø  ada lima cara sahabat dan kenalan akan mencintainya:
a.       mereka melindunginya jika ia tidak siaga.
b.      menjaga harta bendanya.
c.       dalam keadaan bahaya, ia akan melindunginya.
d.      pada saat keadaan susah, ia tidak akan meninggalkannya.
e.       senantiasa menghormatinya.

5.      Atasan/ majikan  dan karyawan/ buruh
Ø  lima cara atasan memberikan persembahan kepada bawahan/buruhnya:
a.       memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
b.      memberi mereka makanan dan gaji yang sesuai.
c.       memberi perawatan sewaktu mereka sakit.
d.      membagikan makanan enak kepada mereka pada waktu-waktu tertentu.
e.       memberikan libur pada waktu-waktu tertentu.
Ø  lima cara bahawan/ karyawan mencintai atasan/majikan dari perlakuannya:
a.       mereka bangun lebih pagi dari mereka.
b.      mereka tidur setelah majikan tidur.
c.       mereka akan berterima kasih atas perlakuan yang mereka terima.
d.      mereka akan bekerja dengan baik.
e.       mereka akan memuji majikan mereka dimanapun berada.
·         Kasus kekerasan TKI dan TKW, pemerintah harus berperan aktif.
·         Layaknya menjadi pimpinan tidak bersifat otoriter, melainkan demokrasi.
Pemimpin layaknya turun tangan untuk membantu mereka yang yatim piatu, fikir miskin, mengangkat derajat mereka, mensejahterakan mereka, bukan justru ditindas, rumahnya digusur tanpa ada uang ganti rugi, mereka protes dengan pemerintah, oknum aparat memukul.  Mencontoh salah satu pemerintah yang baik di DKI Jakarta yaitu Pak Joko Widodo (Jokowi) memberikan persembahan bhaktinya pada praktik nyata, bukan sekedar janji kepada masyarakat.
·         Layaknya bawahan memberikan persembahan kepada atasan dengan menjunjung tinggi kejujuran dalam bekerja. tidak serakah, lupa daratan. menjadi rakyat tentunya juga ikut menjaga kemanan dan perdamaian negara/ dunia. contoh demo anarkis, merusak fasilitas umum, antar aparat perang, tidak rukun.

6.      Umat Biasa dengan Tokoh Agama
Ø  dengan lima cara umat biasa memberikan persembahan kepada Tokoh agamanya:
a.       dengan perbuatan yang penuh kasih sayang.
b.      dengan ucapan yang ramah-tamah.
c.       dengan pikiran yang penuh kasih sayang.
d.      dengan selalu membuka pintu untuk mereka.
e.       dengan memberikan keperluan hidup mereka.

Ø  ada enam cara tokoh agama akan mencintai perlakuan umatnya:
a.       mencegah mereka untuk tidak berbuat jahat.
b.      menganjurkan mereka berbuat kebaikan.
c.       mencintai mereka dengan pikiran yang penuh kasih sayang.
d.      mengajari umatnya sesuatu yang belum diketahuinya/ didengar.
e.       memperbaiki dan menjelaskan sesuatu yang mereka pernah ketahui/didengar.
f.       menunjukkan mereka jalan ke surga
·          (bukan secara nyata, melainkan dari konsep teori yang siap di praktikkan untuk menuju ke surga)
hanya menunjukkan jalan, bukan menunjukkan tempat (surga).
teorinya: lenyapkan kekotoran batin, pikiran jahat, ucapan jahat, prilaku jahat.
·         Istilah: lebih baik seorang mantan preman menjadi tokoh agama, karena tobat bukan tomat = tobat nanti kumat, daripada tokoh agama berkelakukan seperti preman, seperti : petantang petenteng memukul, membunuh, melakukan perzinahan.
Sebagai manusia layaknya mampu memberikan persembahan yang bermanfaat bagi kesejahteraan banyak orang sehingga persembahan yang diberikan tidaklah sia-sia, sehingga bermanfaat besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar