Senin, 31 Maret 2014

Psikologi 1

A.              Konsep Kebutuhan Individu
Sebagaimana telah diuraikan di depan bahwa individu adalah pribadi yang utuh dan kompleks. Kekompleksan tersebut dikaitkan dengan kedudukanaya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Oleh karena ituselain harus memahami dirinya sendiri, ia juga harus memahami orang lain dan memahami kehidupan bersama di dalam masyarakat dan memahami lingkungan sekitar bahwa ia adalah makhluk Tuahan, dan memahami kebutuhan fisik dan psikologis. Dengan demikian, setiap individu memiliki kebutuhan  karena ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupanya.
 Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menuju ke jenjang kedewasaan, kebutuhan kehidupan seseorang mengalami perubahan dengan pertumbuhan perkembanganya kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik karena pengalaman kehidupan sosial semakin luas. Dan kebutuhan itu timbul karena dorongan-dorongan (keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu Sumadi, 1971 : 70; Lefton, 1982:137). Lebih lanjut Lefton (1982) menyatakan bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadakan psikologis yang mengalami guncangan atau ketidak seimbangan. Dan munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan skunderkebutuhan primer pada hakiatnya merupakan kebutuhan biologis atau organik dan umumya kebutuhan ini didorong oleh motif asli. Contoh makan, minum, bernapas, dan kehangatan tubuh. Pada tingkat remaja dan dewasa, kebutuhan bertambah seperti kebutuhan seksual.
Adapun kebutuhan skunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang di pelajari, seperti kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebuthan akan hiburan, alat transportasi, dan semacamya. Klasifikasi kebutuhan primer dan skunder sering digunakan namun pengklasifikasian semacam ini sering membingungkan. Oleh karena itu, Cole dan Bruce (1959) (Oxindine, 1984:227) membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan filosofis dan kebutuhan psikologis dan pengelompokan ini sejalan dengan yang di kemukakan oleh Murray (1938) (Oxindine, 1984:227) yang menjelaskan istilah yang berbeda, yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psychologenic. Seperti contohnya: makan, minum,istirahat, seksual, perlindungan diri, sedangkan kelompok kebutuhan psikologis seperti yang di kemukakan Mslow (1943) mencakup;
·       Keinginan untuk memiliki sesuatu
·       Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang
·       Kebutuhan akan keyakinan diri
·       Kebutuhan aktualisasi diri
Dalam bidang kehidupan ekonomi , kebutuhan primer dikenal sebagai kebutuhan pokok yang mencakup kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut kebutuhan yang mendesak dan harus segera di penuhisedangkan kebutuahan kedua masih bisa di tunda bilamana dapat di lihat dari skala prioritasnya. Kebutuhan psikologissemakin luas dan kompleks. Freud mengemukakan bahwa sikap dan prilaku manusia didorong oleh faktor seksual (dorongan seksual) yang terkenal sebagai teori libido seksual. Yang mempunyai prinsip kenikmatan senantiasa mendasari perkembangan sikap dan prilaku manusia dan dengan prinsip itu, ia menyatakan bahwa faktor pendorong terutama manusia adalah seksual dan untuk kenikmatan atau kepuasan seksual. Namun, freud menjadi terkenal sehubungan dengan pandanganya yang menyatakan bahwa dalam perkembangan manusia terjadi pertentangan antara insting pribadi dan tuntutan masyarakat. Dalam pendekatan pembentukan  kepribadian, ia mengemukakan penyelesaian pertentanagan dengan pendekatan analisis pesikologik, sehingga teori freud dikenal denganteori psiko analisis.
Menurut teori freud, struktur kepribadian seseorangberunsurkan tiga komponen utama yaitu: id, ego, dan superego. Ketigannya merupakan faktor penting terhadap prilaku serta struktur pibadi manusia. Dan teori freud ini terutama diawali dengan mengemukakan bahwa dorongan utama terutama yang berada pada id, id dikenal sebagai insting pribadi dan merupakan dorongan asli yang dibawa sejak lahir danmerupaka sumber kekuatan insting pribadi yang bekerja atas dasar kenikmatan yang pada proses berikutnya akan memunculkan kebutuhan dan keinginan. Ego adalah komponen pribadi yang praktis dan rasional; berdasarkan egonya manusia mencari kepuasan atau kenikmatan berdasarkan kenyataan. Jadi, ego adalah komponen pribadi yang mewakili kenyataan atau (reaita) yang berfungsimenghambat munculnya dorongan asli (id) secara bebas dalam berbagai bentuk. Dengan demikian tugas ego adalah menyelaraskan (menyeimbangkan) pertentangan yang terjadi antara id dan tuntutan sosial meski kadang-kadang ego mencegah id untuk mencul, tapi pada umumnya ego mendorong manusia bertindak berdasarkan id-nya. Adapun superego merupakan pembagian sesuai dengan sistem moral dan ideal.
Erik Ericson (Buss, 1978:393-393) dalam menyelesaikan pertentangan antara dorongan dan tuntutan sosial mengajukan pandangan yang merupakan revisi bagi teori Freud. Dalam teorinya  Erik Ericson lebih bersifat sosial dan berorientasi pada ego. Ericson lebih melihat kepentingan sosial. Revisi ini dimaksudkan agar perkembangan manusia lebih dilihat dari kepentingan sosial.
Carl loges (1902) (dalam Buss, 1078:395) juga mengemukakan tentang pendekatan perkembangan pribadi individu. Dan menyatakan seseorang individu pada hakikatnya mencoba mengekspresikan kemampuan, potensi, dan bakatnya untuk mencapai tingkat perkembangan pribadi yang sempurna atau mapan. Rogers menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengaktualitaskan diri, apabila pengaktualitasan diri dapat diwujutkan, hal itu merupakan pertanda bahwa individu telah mencapai tingkat pertumbuhan pribadi yang mempunyai lingkup yang luas sehingga menjadi lebih bersifat sosial dan mampu mengaktualisasikan diri dengan baik pada konsep dirinya.
Mengapa manusia berprilaku? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan organismik (internal) dan pendekatan lingkungan (eksternal). Prilaku merupakan pengejawatan untuk aktualisasi diri. Perilaku didorong didorong oleh motif dan berarti kita mengesampingkan faktorlingkungan, tapi perlu kita ketahui bahwa motivasi dan lingkungan padadasarnya berinteraksi, sehingga persoalan lingkungan dengan sendirinya tercakup dalam uraian ini.
Beberapa psikolog, seperti Carl Rogers (1951), Arthus W. Combs dan Snygg (1959) meyakini bahwa motif dasar manusia adalah “need for adequacy” yang mereka artikan sebagai sesuatu “great driving striving, force in each of us by wich we are continually seeking to make ourselves ever more adequate to cope with live” (Lindgren, 1980:36). Kebutuhan akan keyakinan diri ini diekspresikan melalui dua bentuk prilaku yaitu kebutukan untuk mempertahankan diri (maintenance) dan mengembangkan diri (enchancement).sejak lahir hingga meninggal kebutuhan untuk mempertahankan dirinya agar tetap hidup  merupakan kebutuhan dasar. Hal ini berarti menempatkan funsi organisme menjadi amat penting artinya. Dan kebutuhan mempertahankan dirinya selain itu juga setiap individu senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan  biologisnya yang lebih memadai atau menjadi lebih baik.
Lebih dari yang dialami binatang manusia bisa mengantisipasi kejadian-kejadian masadepan, tidak hanya terbatas untuk mempertahankan dirinya pada saat sekarang, tetapi juga bermaksud mengubah diri dan lingkunganya agar pengembangan dirinya menjadi lebih baik di waktu yang akan datang, Yang biasa diartikan sebagai kebutuhan normatif dan bukan semata-mata kebutuhan psikologis.
Kebutuhan psikologis muncul dalam kehidupan manusia, seperti apa yang dialami setiap hari secara rasional yaitu: senag, puas, susah, lega, kecewa dan semacamnya. Untuk itu seharusnya manusia belajar memahami norma-norma atau sifat-sifat dari norma itu, artinya perilaku manusia diarahkan dan disesuaikan dengan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu dalam kehidupan manusia juga berkembang kebutuhan-kebutuhan normatif, yang di tentukan dan sesuai dengan harapan-harapan pihak lain dan yang diterima oleh dirinya sekarang maupun yang akan datang.
B.    Kebutuhan Dasar Individu
Pada bayi, perilakunya di dominasi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis, yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri. Atau bisa disebut dengan definciency need yang artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang di perlukan untuk hidup (survival). Kemudian, padamasa kehidupan berikutnya, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri. Dan berkembangnya kebutuhan seperti ini terjadi karena faktor lingkungan dan faktor belajar; seperti akan kebutuhan cintakasih kebutuhan untk memiliki (yang di tandai berkembangnya “aku” manusia kecil) seperti yang telah disebutkan Henry A. Murray (Lindgren 1980:40) menyatakan tentang need for offilation  atau disingkat n’Aff dan need for achievement  sebagai n’Ac. Carl Roger dan Abraham H. Maslow (1954) menyebut n’Aff ini sebagai  self actualizing need. Kebutuhan untuk mengaktualisasi diri yang di tandai oleh berkembangnya kemampuan mengekspresi diri. Dan kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat tinggi karena termasuk kebutuhan berprestasi.
Kebutuhan-kebutuhan sebelumnya adalah kebutuhan untuk memiliki, kepemilikan itu berkaitan dengan lingkungan manusia maupun yang berkaitan dengan keadakan. Dalam keadakan tertentu seorang individu berusaha memiliki teman sejawat, mendapatkan kasih sayang, dan memiliki benda-benda yang disenanginya. Dan hal seperti ini berarti dalam dirinya telah terjadi kontak dengan hubungan luar diri dengan “yang lain” atau n’Aff. Sebagaimana telah dikatakan seperti mempertahankan diri.
Remaja sebagai individu atau manusia pada umumnya juga mempunyai kebutuhan dasar tersebut. Secara lengkap kebutuhan tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut (Lindgren, 1980:42).
·       Kebutuhan individu untuk mendapatkan teman sejawat
·       Kebutuhan individu untuk mengembangakan diri dan memiliki benda yang disenangi
·       Kebutuhan individu untuk berhasil dan munculnya kebutuhan untuk bersaing
·       Kebutuhan individu untuk mendapatkan kasihsayang dan cintakasih
Keempat kebutuhan tersebut bersifat hierarki, dari kebutuhan yang tingkat rendah yaitu kebutuhan jasmaniah, sampei kebutuhan tingkat tinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
Hierarki diatas sejalan Seperti yang di kemukakan Maslow (Lefton, 1982:171)
Menurut Lewis dan Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia itu didorong oleh berbagai kebutuhan, yaitu:
a)     Kebutuhan jasmani
b)     Kebutuhan psikologis
c)     Kebutuhan ekonomi
d)     Kebutuhan sosial
e)     Kebutuhan politik
f)      Kebutuhan penghargaan
g)     Kebutuhan aktualisasi diri.

C. Kebutuhan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja) dan Pemenuhannya
            Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall (dalam Libert dan kawan-kawan, 1974:478) memandang masa remaja ini sebagai masa”strom and stres”. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja, banyak masalah  yang di hadapinya karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya)- kebutuhan aktualitas diri. Usaha penemuan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan agar ia dapat mengaktualitaskan diri secara baik. Beberapa kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan antara lain:
1.     Kebutuhan organik, yaitu kebutuhan makan, minum, bernapas dan seks
2.     Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari pihak lain
3.     Kebutuhan berprestasi atau need of achiment (yang dikenal dengan A’Ach), yang berkembang dengan didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukan kemampuan pisikofisis; dan
4.     Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Perumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologi pada masa remaja pada dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan proses pertumbuhan dan perkembangan dari proses sebelumnya. Pertumbuhan fisik ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awalmasa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi seksualnya.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan sosil-psikologi yang menonjol, kebutuhan yang keduanya (fisik dan psikologi) sering terkait. Oleh karena itu, pembagian yang memisahkan kebutuhan dari dasar kebutuhan fisik dan psikologi pada dasarnya sulit dilakukan secara tegas. Sebagai contoh”makan” adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi pada jenjang masa remaja “makan dilakukan bersama dengan orang tertentu orang lai”, makan dengan mengikutiaturan atau norma yang berlaku di dalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak hanya dikelompok sebagai kebutuhan fisik semata.
Selain itu, remaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya, yang menurut Waslow kebutuhan ini disebu kebutuhan penghargaan. Remaja membutuhkan penghargaan dan pengakuan bahwa ia (mereka) telah mampu berdiri sendiri,  ampu melaksanakan tugas-tugas seperti yang dilaksanakan orang dewasa, dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang telah dikerjakan. Faktor nonfisik, yang secara intgratif bergabung didalam faktor sosial psikologi di jiwai oleh tiga potensi dasar yang dimiliki manusia, yaitu pikiran, rasa, dan kehendak.
Dalam kehidupan dunia modern, manusia tidak hanya berpikir tentang kebutuhan pokok. Pikirannya telah bercakrawala luas sehingga kebutuhan pokonya juga berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya.
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1.     Upaya untuk mengubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan prilaku dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perenpuan.
2.      Proses Perkembangan Kemandirian
Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologi lain, dapat berkembang dengan baikjika diberikesempatang untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Meningkatkan banyaknya dampak positif bagi perkembanan individu, kemandirian sebaiknya diajarkan pada anak sendiri mungkin sesuai dengan kemampuannya. Seperti telah diakui, segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dinid akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. Kemandirian ini harus disesuaikan dengan usia anak misalnya : Untuk anak –anak yang berusia 3-4 tahun, latihan kemandirian tersebut dapat berupa memberikan kesempatan untuk memakai kaos kaki dan sepatu, membersihkan mainan setiap kali selesai bermain, dan lain-lain.
3.     Kemandirian sebagai kebutuhan Psikologi Remaja
Memperoleh kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut, remaja harus belajar dan berlatih dan membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian, ia akan beransur-ansur melepas diri dari kebergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya.
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan pisikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukakan Erikson (dalam Hurlock, 1992) yang menanamkan proses tersebut’’ sebagai proses mencari identitas ego’’.
Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri, sering remaja mengalami hambatan hambatan yang disebabkan masih adanya kebutuhan untuk bergabung kepada orang lain. Remaja mengalai delima yang sangat besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua, dari segi ekonomi (biaya sekolah) akan terjamin karena orangtua pasti akan membantunya. Sebaliknya, Jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua, bisa jadi orangtuanyatidak mau membiayai sekolahnya. Situasi ini sering dikenal sebagai keadaan anbivalensi dan akan menimbulkan konflik pada diri remaja.
4.     Peran Orangtua terhadap Pembentukan Kemandirian Remaja
Kemandirian anak pada berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial.
Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, berikut ini terdapat beberapa saran yang layak untuk dipertimbangkan.
a.     Komunikasi.
Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja, komunikasi di sini harus dua arah, aetinya kedua belah pihak saling mendengar pandangan dari satu dengan yang lain
b.     Kesempatan
Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remaja untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya.
c.      Tanggung jawab
Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci menuju kemandirian. Dengan bertanggung jawab (betapa pun sakitnya), remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak –dampak negatif (tidak mengenangkan) bagi dirinya. Dalam khasus, masih banyak orangtua yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tersebut tidak dapat memperoleh kesempatan untuk bertanggung jawab atas prilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sampai melewati pemeriksaan itensif pihak berwajib).

D. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis pada Remaja
1. Pengertian Kemandirian
            Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan bergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada dilingkungannya hinggawaktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang akan perlahan-lahan akan melepaskan diri dari kebergantungannya pada orangtuanya atau orang lain disekitarnaya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.
            Selama masa remaja, tuntutan terhadap mandiri sangat besar dan jika direspon secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologi sang remaja di masa mendatang.
            Kemandirian menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi “prilaku maupun berinisiatif, maupun mengatasi hambatan/masalah, mempunyai percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Pendapat ini diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987), yang menyatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertia.
1.     Keadaan seseorang yang memiliki hasrat perseorangan maju demi kebaikan dirinya
2.     Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi
3.     Memiliki kepercayaan dalam mengerjakan tugas-tugasnya,
4.     Bertanggung jawab terhadap apa yanga dilakukan.
Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek,yaitu:
1.     Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak bergantung pada orang lain,
2.     Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak bergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
3.     Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi
4.     Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak bergantung atau menunggu aksi dari orang lain
d.     Konsitensi
Konsitensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai sejak masa kanak-kanak dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua akan konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidup sendiri dan dapat memilih berbagai alternatif.


F. Implikasi pemenuhan kebutuhan Remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan
     Kebutuhan ini harus di penuhi karena merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan agar tetap tegar (survival). Kebutuhan ini sangat di pengaruhi oleh factor ekonomi, terutama ekonomi kepada keluarga. Tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial seseorang individu. Untuk itu, latihan kebersihan, hidup teratur dan sehat sangat perlu di tanamkan oleh orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.
Khusus kebutuhan seksual, yang juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mndapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual pada remaja, yang telah menyadari adanya norma agama, sosial dan hukum, banyak di lakukan secara diam-diam aktivitas onani atau masturbasi. Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenal berbagai norma sosial, amat penting di kembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti kelompok olahraga, kelompok seni dan music, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan semacamnya.

E.  Kepercayaan Diri Sebagai Kebutuhan Remaja
A.    Pengertian Kepercayaan Remaja
Seseorang yang kehilangan rasa percaya diri (tidak pede), menjadi sesuatu yang sangat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan atau situasi baru. Seseorang sering berkata pada diri sendiri, “dulu saya tidak penakut seperti ini....kenapa sekarang jadi seperti ini?” ada juga yang berkata, “ kok saya tidak seperti dia,...yang selalu percaya diri....rasanya selalu saja ada yang kurang dari diri saya...saya malu menjadi diri saya!”
Menyikapi hal seperti ini, muncul pertanyaan: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam kehidupan seseorang. Lalu, apakah kurangnya rasa percaya diri dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan seseorang dalam menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal.
Kepercayaan diri adalah sikap positif  seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut bahwa ia merasa memiliki kompetensi, yakni mampu dan percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.


B.    Karakteristik Individu yang Percaya Diri
Ciri-ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional sebagai berikut:
a.      Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun hormat oarang lain.
b.     Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok.
c.      Berani menerima dan menghadapi penolakan oarang lain, berani menjadi diri sendiri.
d.     Mempunyai pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil).
e.      Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaaan serta tidak bergantung/mengharapkan bantuan orang lain).
f.      Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya.
g.     Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.
Adapun karakteristik individu yang kurang percaya diri, sebagai berikut:
a.      Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok.
b.     Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan.
c.      Sulit menerima realita diri dan memandang rendah kemampuan diri sendiri, namun di lainpihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri.
d.     Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif.
e.      Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil.
f.      Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus.
g.     Selalu memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu.
h.     Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangat bergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain).

C.    Perkembangan Rasa Percaya Diri

a.      Pola Asuh
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orangtua. Meskipun banyak faktor yang memengaruhi kepercayaan diri seseorang, faktor pola asuh dan interaksi di usia dini merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri. Sikap orang tua akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orang tua yang menujukkan perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai dimata oarang tuanya. Dan, meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua, ia melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan bergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksistensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunya harapan yang realistik terhadap diri seperti orang tuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.
Lain halnya denga orang tua yang kurang memberiakan perhatian pada anak, suka mengkritik, sering memarahi anak, namun kalau anak berbuat baik, meraka tidak pernah memuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau menujukkan tidak kerpercayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan kebergantungan. Menurut para psikolog, orang tua dan masyarakat sering meletakkan standar dan harapan yang kurang realistik terhadap seorang anak atau individu. Sikap membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan kelemahan anak, atau membicarakan kelebihan anak lain didepan anak sendiri, tanpa sadar , menjatuhkan harga diri anak-anak tersebut.selain itu, tanpa sadar masyarakat sering menciptakan trend yang dijadikan standar patokan sebuah prestasi atau penerimaan sosial. Contoh kasus yang real pernah terjadi di tanah air, ketika seorang anak bunuh diri gara-gara dirinya tidak diterima masuk dijurusan A1 (IPA), meskipun ia sudah bersekolah di tempat yang elit, rupanya sang orang tua mengharap anaknya diterima di A1 atau paling tidak A2, agar kelak bisa menjadi dokter.
Situasi ini pada akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena di masa lalu (bahkan hingga kini), setiap orang mengharapkan dirinya menjadi seorang yang bukan dirinya sendiri. Dengan kata lain memenuhi harapan sosial. Akhirnya, anak tumbuh menjadi individu yang mempunyai pola pikir bahwa untuk bisa doterima, dihargai, dicintai, dan diakui, ia harus menyenangkan orang lain dan mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu tersebut ditantang untuk menjadi diri sendiri, mereka tidak punya keberanian  untuk melakukannya. Ras percaya dirinya begitu lemah, sedangkan ketakutannya begitu besar.
b.     Pola Pikir Negatif
Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
1.     Menekankan keharusan-keharusan pada dir sendiri (“ saya harus  bisa begini, saya harus bisa begitu”). Ketika gagal, ia merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
2.     Cara berpikir totalitas dan dualisme, “ kalau saya sampai gagal, berarti saya memang jelek”
3.     Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil menyebabkan dirinya merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salh satu mata kuliah, langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
4.     Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism: suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
5.     Labeling: mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif seperti: “ saya memang bodoh”...”saya dilahirkan untuk jadi orang susah”, dan sebagainya.
6.     Sulit menerima pujian atau hal-hal positif dari orang lain. Ketika orang memuji secara tulus, ia langsung merasa tidak eank dan menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, ia langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.
7.     Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri, senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil membuatnya merasa menjadi orang tidak berguna.

D.    Memupuk Rasa Percaya Diri
Seseorang dalam menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional, harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya dialah yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Berikut beberapa saran bagi yang kurang memiliki kepecayaan diri:
a.      Evaluasi diri secara obyektif
Belajar menilai diri secara objektif dan jujur. Susunlah daftar “kekayaan” pribadi seperti, prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri, baik yang sudah disktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau sarana yang belum mendukung kemajuan diri. Sadari semua aset berharga anda dan temukan aset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri anda, seperti: pola pikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, selalu bergantung pada bantuan orang lain, atau sebab-sebab eksternal lain. Hasil analisis dan pemetaan terhadap SWTO (Strengths, Weaknesses, Obstacles, and Threats) diri, kemudian di gunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik.
b.     Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar , berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri mendorong  munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan. Contoh: ingin cepat kaya, ingin menjadi cantik, populer, mendapat jabatan pentng dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut, semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidak mampuan menghadapi diri sendiri sehingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.

c.      Positive Thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak anda. Katakan pada diri sendiri bahwa nobody’s perfect and it’s okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar, pikiran itu akan terus terbakar, bercabang, dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran anda dan perasaan anda. Hati-hatilah agar masa depan anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di-review kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.

d.     Gunakan self-affirmation
Untuk mengatasi negatif thinking, gunkan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri:
Contoh:
»       Saya pasti bisa!
»       Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya!
»       Saya bisa belajar dari kesalahan saya ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan.
»       Sayalah yang memegang kendali hidup ini.
»       Saya bangga pada diri sendiri.


e.      Berani mengambil resiko
Berdasrkan pemahaman diri yang objektif, anda bisa memprediksi resiko setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, anda tidak perlu menghindari resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mecegah ataupun mengatasi resikonya. Contohnya anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari resiko ditolak. Jika anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan tantangannya. Namun , lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju dengan mengambil resiko. Ingat: No Risk, No Gain.

            Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orang tua dan masyarakat, hingga tanpa sadar melandasi individu untuk “harus” menjadi orang sukses. Selain itu, persepsi yang kelirupun dapat menimbulkan asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar tidak dilandasi oleh kemapuan yang nyata. Contohnya: seorang anak yang sejak lahir ditanamkan oleh orang tua bahwa dirinya adalah spesial, istimewa, pandai, pasti kan menjadi orang sukses, dsb. Namun dalam perjalanan waktu , anak itu sendiri tidak pernah punya track record of success yang real dan original (atas dasar usahanya sendiri) . akibatnya, anak tersebut tunbuh menjadi seorang manipulator dan otoriter-memperalat, menguasai, dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan . Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan oleh real competence, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama besar orangtua, dan sebagainya. Jadi, jika semua atribut itu di tinggalkan, sang individu tersebut bukan siapa-siapa.

F. Implikasi pemenuhan kebutuhan Remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan
     Kebutuhan ini harus di penuhi karena merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan agar tetap tegar (survival). Kebutuhan ini sangat di pengaruhi oleh factor ekonomi, terutama ekonomi kepada keluarga. Tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial seseorang individu. Untuk itu, latihan kebersihan, hidup teratur dan sehat sangat perlu di tanamkan oleh orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.
Khusus kebutuhan seksual, yang juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mndapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual pada remaja, yang telah menyadari adanya norma agama, sosial dan hukum, banyak di lakukan secara diam-diam aktivitas onani atau masturbasi. Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenal berbagai norma sosial, amat penting di kembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti kelompok olahraga, kelompok seni dan music, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan semacamnya.



Filsafat Buddhis

Oleh: Samanera Herman Vimalaseno

Pada masa Pra Buddha ada tiga golongan besar dalam teori Kauasalitas, dalam kausalitas sendiri memiliki penjelasan yang pertama adalah faktor yang menyebabkan terjadinya sesuatu berasal dari dalam diri menurut kaum Subtansialis, sedangkan pandangan kedua adalah tentang faktor yang menyebabkan adalah dari luar diri menurut kaum Naturalis, dan yan terakhir adalah faktor yang menyababkan terjadinya adalah dua sebab baik dari dalam diri dan dari luar diri hal ini dipegang oleh kaum Jaina.
Kaum Substansialis berpendapat bahwa segala faktor berasal dari dalam diri, umumnya orang berpendapat bahwa kita memiliki jiwa, roh, nyawa,ego, aku atau atma sebagai sesuatu inti yang kekal, tetap dan absolut yang merupakan substansi yang tidak berubah-ubah, di balik “dunia yang terlihat ini” yang senantiasa dalam keadaan bergerak dan berubah.
Dalam sejarah umat Buddha, ajaran Buddhalah yang menentang adanya roh, aku atau atma yang kekal dan abadi. Didalam pandangan ajaran Buddha sendiri bahwa dengan adanya ide tentang roh, aku atau atma adalah khayalan belaka. Ide ini menciptakan pikiran yang sangat merugikan, yaitu tentang adanya aku, milikku, serta adanya keinginan yang mementingkan diri sendiri, kebencian, pikiran yang jahat, persilisihan hingga peperangan antar negara dapat terjadi, semua ini dapat disimpulkan adalah dengan adanya ide ini maka kejahatan dapat dicari melalui sumbernya yaitu pandangan salah ini.
Secara Psikologis ada dua macam pandangan berakar kuat dalam setiap diri manusia, yaitu:
1.     Pandangan tentang perlindungan diri (Self-Protection).
2.     Pandangan tentang kelangsungan diri (Self- Preservation).
Selanjutnya adalah pandangan tentang faktor penyebab adalah dari luar diri yang
dipengang oleh kaum Naturalis. Untuk melindungi dirinya, manusia lalu menciptakan kekuatan luar, kepadanya dia bergantung untuk mencari perlindungan, keselamatan, dan keamanan, seperti halnya seorang anak kecil yang bergantung dan mencari perlindungan kepada orang tuanya.
            Untuk kelangsungan diri, manusia menggambarkan dalam pikirannya satu ide tentang adanya roh, jiwa, nyawa, atau atma yang dapat hidup kekal abadi. Manusia memerlukan dua hal tersebut karena dengan hal tersebut dia akan merasa terhibur terus dan ia akan memegang hal itu erat-erat dan tidak merasakan rasa takut lagi dalam dirinya.
Dalam pandangan kaum jainah yang berusaha menyatukan kedua pandangan itupun di tentang dalam ajaran Buddha, yang dimana dijelaskan bahwa, Agama Buddha tidak menyokong kedua pandangan itu dan bertujuan untuk menolong manusia mencapai Kesadaran Agung dan Buddha benar-benar mengaskan bahwa ajaran beliau melawan arus dan bertentangan dengan keinginan yang mementingkan diri sendiri dari seorang manusia.
Didalam ajaran Buddha dijelaskan pada penjelasan Kata ‘Paticcasamuppāda’ mempunyai arti : PATICCA, berarti : Tinggal atau menempati SAM, berarti : Siap UPPĀDA, berarti : Timbul. Paticcasamuppāda, berarti : Keadaan yang menempati dan siap untuk timbul. Kata “Paticcasamuppada” mempunyai makna Hukum Originasi tergantung /Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan atau timbul karena kondisi-kondisi yang saling bergantungan. Paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dan pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.

 Apabila dikaitkan dalam Hukum Paticcasamuppada yang berbunyi:
 "Imasmim sati idam hoti;
imasuppāda idam uppajjāti
 Imasmim asati idam na hoti;
imassa nirodhā imam nirujjhati"

Artinya :

Dengan adanya ini, adalah itu; dengan timbulnya ini, timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, tidak adalah itu; dengan lenyapnya ini, lenyaplah itu. Dengan  memahami  seluruh  fenomena  kehidupan  ini,  agama  Buddha memandangnya sebagai  suatu lingkaran  dari kehidupan  yang tak dapat diketahui permulaan dan akhirnya. Dengan demikian masalah Sebab Pertama (causa prima) bukan menjadi masalah dalam filsafat agama Buddha.
Proses kemunculan yang saling bergantungan (Anuloma):
1.   Avijja, mengkondisikan sańkhara
2.   Sańkhara, mengkondisikan viññana
3.   Viññana, mengkondisikan nāma-rūpa
4.   Nāma-rūpa, mengkondisikan salāyatana
5.   Salāyatana, mengkondisikan phassa
6.   Phassa, mengkondisikan vedanā
7.   Vedanā, mengkondisikan taņhā
8.   Taņhā, mengkondisikan upādanā
9.   Upādanā, mengkondisikan bhāva
10.   Bhāva, mengkondisikan jāti
11.   Jāti, mengkondisikan jarā-marana
12.   Jarā-marana


Proses kepadaman yang saling bergantung (Patiloma):
·     Dengan padamnya avijja maka padam-lah sańkhara
·     Dengan padamnya sańkhara maka padam-lah viññana
·     Dengan padamnya viññana maka padam-lah nāma-rūpa
·     Dengan padamnya nāma-rūpa maka padam-lah saļāyatana
·     Dengan padamnya saļāyatana maka padam-lah phassa
·     Dengan padamnya phassa maka padam-lah vedanā
·     Dengan padamnya vedanā maka padam-lah taņhā
·     Dengan padamnya taņhā maka padam-lah upādanā
·     Dengan padamnya upādanā maka padam-lah bhāva
·     Dengan padamnya bhāva maka padam-lah jāti
·     Dengan padamnya jāti maka padam-lah jarā-marana

Segala sebab yang terjadi bukan dikarenakan oleh satu sebab melainkan dari berbagai sebab, mungkin saya akan memberikan suatu contoh perumpamaan:
Proses terjadinya hujan. Hujan terjadi dengan menguapnya air laut atau air danau. Uap air ini naik ke angkasa, di angkasa uap air menjadi awan dan terbawa oleh angin. Awan tertahan oleh gunung atau diam diangkasa karena pendiginan dan tak ada angin. Karena pendiginan, awa yang berisi uap air membentuk titik-titik air. Titik-titik air hujan jatuh ke bumi ini disebut hujan. Air hujan mengalir ke dataran yang rendah membentuk aliran air dalam got atau kali kecil menuju sungai. Aliran air sungai menuju danau atau laut. Selanjutnya karena terik matahari air laut atau air danau menguap. Demikian selanjutnya, proses terjadinya hujan tetap berlangsung, tanpa henti.
Demikianlah maka penjelasan yang paling ilmiah dan berdasarkan akal pikiran mengenai sesuatu peristiwa hanya mungkin diberikan berdasarkan Hukum Paticcasamuppada.
Banyak contoh yang ada di sekitar kita yang berproses terus tanpa hentinya. Proses terjadi, lalu hal yang terjadi terurai. Hal yang telah terurai berproses menjadi lagi dan seterusnya.

Daftar Pustaka

Maha Thera Narada.(2006). Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya. Majalah Dhammacakka, no.43/XII/. Jakarta.
K. D. Buddhima Hansinie Subasinghe.(2008). Hukum originasi tergantung. Artikel  Pelajaran Agama Buddha.
Maha Thera  Dhammavuddho.(2008). Asal Usul Yang Saling Bergantungan.Patria Sumatra Utara. Medan
Felita Nursatama Lestari.( 2003). Buku Pelajaran Agama Buddha Sekolah Menegah Tingkat Atas Kelas III. ”,  C.V. Felita Nursatama Lestari.Jakarta.
Mulyadi Wahyono, S.H.,.( 1994/1995.). Modul Materi Pokok-Pokok Dasar Agama Buddha II.,. “Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Dan Universitas Terbuka. Jakarta.