Kamis, 29 Agustus 2013

Musik klasik yang masih bertahan




JAMBI – Salah satu tradisi yang menarik dan masih dilakukan oleh warga Tionghoa adalah musik tradisional, musik klasik ini dimainkan untuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka dirumah duka. Penampilan musik klasik tersebut biasanya hanya diundang jika yang meninggal berusia 50 tahun keatas.
Sedangkan jika yang meninggal dunia masih muda atau di bawah 50 tahun, dianggap sebagai pantangan. “Hanya saja, pantangan hanya bagi sebagian orang saja. Ada beberapa keluarga yang pernah mengundang kita untuk tampil saat pihak keluarga yang meninggal masih muda. Sebenarnya sangat jarang dilakukan, tetapi jika kita diundang, kita tetap hadir,” ujar Abu, pengurus grup musik dari Perkumpulan Teo Chew Jambi yang sering tampil di suasana duka ini.


Menurut pria yang gemar bermusik sejak berusia muda ini bahwa pihak keluarga biasanya memang merasa lebih terhibur jika ada grup musik yang tampil saat mereka berada dalam suasana duka, bukan sebaliknya. Tentu saja, ini memberikan efek psikologis yang berbeda bagi keluarga yang baru ditinggalkan. Ini karena biasanya grup musik ini tampil selama tiga hari atau selama jenazah belum dikebumikan atau dikremasi.Tampil di saat suasana duka tentunya harus sedikit berbeda. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu sendu dan lebih klasik. Musik seperti ini dipercaya bisa memberikan pengaruh yang berbeda bagi jiwa yang sedang bersedih. “Ada lagu khusus yang kita bawakan. Berbeda saat kita tampil di beberapa tempat dan suasana yang berbeda. Kadang kita juga menampilkan lagu dan musik atas permintaan keluarga dan tamu yang hadir.”
Grup musik yang berada di bawah naungan Perkumpulan Teo Chew Jambi ini sudah terbentuk sejak 1970-an. Tidak ada nama khusus yang diberikan dalam grup ini. “Ini karena grup musik ini bagian dari bidang seni dan budaya yang ada di Perkumpulan Teo Chew Jambi. “Karena kita merupakan anggota dalam bidang seni dan budaya, maka kita tetap menggunakan nama yayasan,” ujar Abu, yang juga menjadi penanggung jawab dalam grup musik ini.

Menurutnya, walaupun ada remaja yang tertarik, jumlahnya sangat sedikit. “Paling hanya satu atau dua orang saja dan kita pun harus mencari waktu yang pas untuk melatih mereka. Kalau jumlahnya sekalian banyak kan lebih enak. Jadi, hingga sekarang, kita sangat kesulitan untuk mencari regenerasi,” jelasnya.

Sumber:

KIAMAT MENURUT PANDANGAN AGAMA BUDDHA



Di Publikasikan oleh : Samanera Herman Vimalaseno
Sebagaimana hukum alam semesta, Sang Buddha mengatakan bahwa awal dan akhir dari alam semesta adalah tidak dapat dibayangkan. Buddhisme tidak mempercayai bahwa dunia akan tiba-tiba berakhir dalam penghancuran total. Tidak ada sama sekali yang namanya penghancuran alam semesta dalam sekejap.
Sesuai dengan sifat ketidakkekalan (anicca), begitu pula dunia kita (bumi) pun akan mengalami kehancuran pada suatu saat. Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Sebab seperti apa yang telah diuraikan di atas, bahwa di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya- tata surya yang tersebar di alam semesta ini.
Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Aguttara Nikya, Sattaka Nipata, Agañña Sutta diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam, dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita ini terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.
Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukanlah berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta ini, yang terdapat di setiap tata surya.
Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaksi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah mari kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu:
Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati…
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada…

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu, dan Mahi surut, kering dan tiada…

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada…

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana, lalu surut 200 yojano, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana, dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua, dan hanya sedalam tinggi seorang raja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan, dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah para bhikkhu, semua bentuk (sańkhara) apapun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk ini, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di  akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5, 6 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar, bumi dan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus terbakar hingga bara maupun debu tidak tersisa sama sekali.

Rabu, 28 Agustus 2013

Indahnya Kasih Dengan Mengingat Budi Baik Orang. 爱走向一个美丽的新生活

                                              


       oleh Penulis: Samanera Herman Vimalaseno



                                 

Gāravo ca nivāto ca santuññhã ca kata¤¤utā
Kālena dhammassavanaÿ Etammaïgalamuttamaÿ.

Memiliki rasa hormat, berendah hati, merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang, dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah berkah utama.
(Bait 11; Paritta Maïgala Sutta[1])
D ikisahkan, disebuah desa kecil di pelosok China ada  sebuah keluarga miskin dengan dua anak. Sang kakak adalah seorang gadis yan cantik, sedangkan adiknya lelaki kurus namun sehat. Mereka tinggal dirumah sangat sederhana ditepi hutan yang jauh dari keramaian. Satu-satunya sekolah SD dan SMP didaerah itu, jauhnya hampir 3 kilometer dari rumah mereka. Setiap subuh, kakak beradik itu berjalan beriringan menempuh perjalanan jauh demi menuntut ilmu. Lulus SMP, si adik memutuskan berhenti sekolah. Ia memilih tetap tinggal didesa membantu bekerja diladang orangtuanya, demi kehidupan keluarga kecil mereka dan menghasilkan uang demi membiayai si kakak yang bersekolah di kota.
            Melihat keputusan adiknya untuk berhenti sekolah dan berniat untuk membantu orangtuanya, akan hal ini sang kakak tidak akan mengecewakan orang tuanya dan adiknya. Ia belajar keras setiap hari agar mampu menjadi Sarjana. Kerja kerasnya ternyata tidak sia-sia, sang kakak behasil lulus dengan nilai yang terbaik dan akhirnya bekerja dengan penghasilan yang cukup. Ia bahkan kemudian menikah dengan seorang pria yang menyandang gelar Direktur disebuah perusahaan Multinasional.
            Dengan ekonomi yang serbah lebih daripada cukup , ia mengajak orang tuanya bersama adiknya secara berulang-ulang untuk pindah kekota untuk tinggal bersamanya dirumah yang mewah. Akan tetapi tawaran itu ditolak oleh mereka. Serta sang kakak juga mengajak adiknya untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan jabatan dan gaji yang memadai, juga ditolak. Mereka merasa hidup dala kesederhanaan didesa telah membuat mereka betah.
            Hingga, suatu hari, keluarga besar mereka berkumpul di hari pernikahan si adik. Dalam acara ramah tamah, sang kakak memberi ucpan dengan terbata-bata, “Untuk adikku tercinta. Selamat menempuh hidup baru dan berbahagia. Sungguh saya, sebagai seorang kakak memiliki adik yang begitu baik seperti adikku ini. Dia rela putus sekolah, bekerja keras mendukung kakaknya, hingga saya bisa berhasil seperti ini. Terima kasih adikku, semoga Tuhan membalas kebaikanmu dan kalian berbahagia senantiasa.”
            Mendengar hal itu , tiba-tiba si adik yang tengah berbahagia itu segera menyela berbiacara dihadapan kerabat yang hadir “ puji sykur dan terima kasih kpd TYME atas kasih orang tua ku dan kakakku selama ini. Saya pun sangat bersyukur memiliki seorang kakak seperti kakakku ini. Ada sebuah kisah yang ingin saya bagikan kepada semua yang hadir disini, yang membuat saya bisa hidup dan berdiri tegak hingga saat ini.”
            “ Saat itu musim dingin, seperti biasa kami berdua berangkat bersama-sama kesekolah. Waktu itu saya kelas 3 dan kakak saya kelas 5. Kami memang terbiasa pergi kesekolah bersama-sama, karena sekolah kami sangat jauh, hal itu juga membuat kami tidak terasa. Hari itu sebenarnya saya sakit dan tidak masuk sekolah, karena ada ulangan, saya memaksa pergi dan celakanya, satu sarung tangannya saya sobek dan tidak mampu menghangatkan dingin yang membeku, melihat saya mengigil dan seperti hampir beku, kakak serta merta melepas sarung tangannya, lalu ia menggosok tangan saya dengan jemarinya yang sangat kecil dan berusaha meremas-remas dengan sekuat tenaganya untuk memeberi kehangatan dan menyalurkan kekuatannya pada saya. Kemudian ia memakaikan sarung tangannya ke tangan saya dan memeluk tubuh saya sepanjang perjalanan.”
            “ Sepulang sekolah yang kembali harus berjalan ditengah dingin cuaca, saya melihat tangan kakak membeku kedinginan, pucat berkerut, dan sulit digerakkan. Bibirnya bergetar hebat dan membiru! Tapi dia tidak sedikitpun mengeluh, bahkan tidak keluar sepatah kata pun dari mulutnya walau tampak jelas penderitaan diraut mukanya. Saya sungguh sangat tersentuh, terharu... kakak yang tubunya begitu mungil dan nampak rapuh, namun mempunyai hati yang begitu mulia, mengorbankan dirinya demi adiknya ini. Sejak saat itu, saya akan melakukan apa saja untuk mendukung kakak. Karena bagi saya , tidak ada kerja yang terlalu berat demi membalas utang nyawa ini kepada kakak, terima kasih kak!”
            Mendengarkan kisah itu, mereka berpelukkan dan haru. Si kakak tidak pernah menyangka, di balik ketegaran sikap adiknya, ternyata tersimpan beban utang yang berusaha dibayar olehnya, yang bahkan dia sendiri pun tidak lagi mengingat kisah yang diceritakan adiknya tadi...

PEMBACA YANG BUDIMAN,
Sebenarnya , kehidupan manusia adalah 互相帮助 = hu xiang bang zhu ( lingkaran yang saling tolong menolong, membantu, dan dibantu. Tidak ada manusia yang bisa hidup mengandalkan dirinya sendiri. Sebab, pasti ada orang- orang disekitar kita, baik yang terhubung karena ikatan persaudaraan maupun karena situasi dan kondisi yang ada, yang membantu menjadikan diri kita apa adanya hari ini. Maka, sehebat apapun kita hari ini, jangan pernah lupa pada siapapun mereka yang pernah mendukung kita dan menjadikan kita seperti saat ini. Setidaknya, kepada orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, Guru, saudara, tetangga, teman, bahkan pembantu di rumah, kita harus menghargai peran mereka.
            Jika setiap manusia bisa melakukan itu, maka pasti kita akan mengisi kehidupan ini dengan damai, bersahaja, dan penuh rasa bahagia. Untuk membalas kebaikan yang orang lain berikan kepada kita adalah dengan cara, selain kita mengingat budi baiknya, cara yang lain adalah kita dapat memberikan sesuatu dalam segala hal yang positif.
Seperti contoh yang sangat sederhana dalam kehidupan kita adalah mengingat budi baik kedua orang tua kita, hal demikian saja masih banyak orang yang sulit melakukannya. Meskipun di dalam Dhamma dijelaskan bahwa budi baik kedua orang tua kita tidak dapat terbalaskan, walaupun mereka kita gendong di pundak kanan dan kiri dengan menaiki serta menuruni gunung secara berulang-ulang.
            Pengorbanan dan perjuangan yang orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, guru, saudara, tetangga, teman, bahkan pembantu di rumah lakukan untuk kita dan kita lakukan untuk diri kita dan juga secara langsung maupun dan tidak langsung juga mereka akan menerima dan merasakan kebahagiaan yang sama apabila kita mampu meraih impian kita menjadi yang lebih baik. Memang tiada suau rencana atau janji yang mereka tuntut dari kita.  Hal itu terjadi secara otomatis. Dalam hal ini kita mampu berhasil karena tidak terlepas dari keuletan, kasabaran (Khanti), semangat (Viriya), dan tekad (Aditthana), serta perhatian (Sati) dalam melaksanakan tugas atau sesuatu yang mampu membuat kita sukses.
            Keberhasilan atau kesuksesan yang telah kita dapatkan adalah telah memasuki suatu pola hidup baru menuju indahnya kebahagiaan.
“Anda berjalan disuatu tempat yang gelap tanpa membawa lentera untuk menerangi jalan anda, begitu anda berpapasan dengan orang yang membawa lentera lebih, anda diberikan 1 lentera , karena orang itu memiliki rasa peduli dan kasih sayang pada anda. Setelah anda memiliki lentera yang mampu menerangi jalan dan anda merasa lebih nyaman dari sebelumnya, serta anda akan tau jelas tujuan yang hendak dicapai tanpa harus tersesat dalam perjalanan dari gelapnya suasana, dan ini ada suatu perubahan yaitu, dari gelap menuju ke terang”.
“Akan tetapi karena anda merasa berat untuk membawa lentera itu dikarenakan lentera itu hanya menjadi beban bagi diri anda , maka anda meninggalkan lentera itu di pinggir jalan tanpa memperdulikan akan jasa baik/ budi baik dan pengorbanan kasih sayang dan rasa pedulinya orang yang memberikan lentera itu padanya, sehingga ia harus kembali berjalan tanpa arah yang jelas dalam kegelapan hidupnya,  Maka ini juga kita katakan ada perubahan , yaitu dari terang kembali menjadi gelap.”
Dari perumpamaan ini bisa kita simpulkan: bahwa pada dasarnya kita yang tidak mengenal sesuatu yang baru, tidak tau kemana harus melangkah, setelah ada orang yang peduli, baik, dan memiliki kasih sayangnya , mereka memberikan pengorbanannya untuk membagikan kepedulian dan kasihnya kepada kita dengan cara dibimbing dalam mencari pengalaman baru, untuk menuju perubahan yang lebih baik, dengan memperbanyak perbuatan baik dalam menjalankan kehidupan ini , apabila diasah terus menerus pendalaman Dhamma, maka sesorang akan mencapai pencerahan yang mampu menerangi dunia ini.
Akan tetapi ada orang yang tidak mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan pada dirinya, dapat diambil sebuah contoh dalam dunia kerja, pada saat seseorang diberi kepercayaan untuk mengelolah sebuah perusahaan, serta mulai menggunakan kekuasaan untuk menindas karyawannya dan juga melakukan tipu menipu untuk memenuhi nafsu (Tanha) yang diliputi oleh kebodohan batinnya (Avijja) , mungkin juga setelah sukses ia berusaha untuk melupakan orang yang pernah membantunya, karena ia merasa tidak mau berutang jasa kebaikan pada orang tersebut. Dan ia merasa sulit untuk membalasnya.
Di dalam Dhammapada Atthakatha  PIYA VAGGA (XVI; 9) , diceritakan:
Kisah Lima Ratus Anak Laki-Laki
  “Pada suatu hari festival, Sang Buddha memasuki kota Rajagaha untuk berpindapatta dengan ditemani oleh sejumlah bhikkhu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan lima ratus anak laki-laki yang sedang berjalan menuju ke suatu taman yang indah. Anak-anak itu membawa beberapa keranjang kue pancake tetapi mereka tidak memberikan satupun kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.
        Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, ‘Para bhikkhu, kamu akan memakan pancake itu hari ini; pemiliknya akan datang mendekati kita. Kita akan mendapatkannya hanya setelah ada yang mengambil beberapa pancake’.
        Setelah mengatakan hal itu, Sang Buddha dan para bhikkhu berteduh di bawah pohon.
        Pada waktu itu Kassapa Thera datang ke sana sendirian. Anak-anak itu melihatnya dan kemudian menghormat Kassapa Thera, serta mendanakan pancake mereka kepada Sang Thera.
        Kassapa Thera kemudian berkata kepada anak-anak itu, ‘Guruku Yang Mulia beristirahat di sana di bawah pohon ditemani oleh beberapa bhikkhu. Pergi dan danakan pancake kalian kepada-Nya dan para bhikkhu’.
        Anak-anak itu melakukan apa yang dikatakan oleh Kassapa Thera. Sang Buddha menerima dana pancake itu. Kemudian, para bhikkhu berkata bahwa anak-anak itu sangat menyukai Kassapa Thera.
        Sang Buddha berkata kepada mereka, ‘Para bhikkhu, semua bhikkhu yang seperti anak-Ku Kassapa disukai oleh para dewa dan manusia. Beberapa bhikkhu hanya selalu menerima cukup pemberian empat kebutuhan bhikkhu’.
        Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 217 berikut:
Sīladassanasapannaṁ             Dhammaṭṭhaṁ saccavedinaṁ
Attano kamma kubbānaṁ         Taṁ jano kurute piyaṁ.”

Artinya:
“Sempurna dalam tingkah laku dan memiliki pengertian benar,
Memahami Dhamma, mengenal kebenaran, berkata benar, dan
Penuh tanggung jawab, melakukan apa yang seharusnya di lakukan,
Akan dihormati oleh orang banyak.”
        Lima ratus anak laki-laki mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
             Apabila kita benar-benar mampu melaksanakan apa yang telah dipaparkan dalam Syair Dhammapada tersebut, maka kita dapat berkata: Guru yang paling berharga didalam hidup kita adalah pengalaman, kegagalan adalah kunci awal dari kesuksesan, dari keterpurukan adalah awal dari kebangkitan menuju perubahan yang lebih baik, dari tekad, kesabaran dan perjuangan dilandasi semangat adalah usaha yang benar (Samma Vayama) untuk mencapai kesuksesan.
            Tanpa pengalaman maka tidak ada sesuatu yang dapat kita ceritakan dan bagikan pada orang lain, anak cucu kelak, tidak ada yang dapat kita jadikan sebagai motivasi dalam hidup.
            Tanpa kegagalan , maka tidak akan timbul suatu usaha untuk berjuang.
            Tanpa berjuang maka tidak ada kata untuk sukses.
            Tanpa ada keterpurukan , maka kita tidak akan bangkit menuju perubahan.
            Degan adanya itu semua maka manusia yang cerdas dan bijaksana, ia akan membuat perubahan dalam hidupnya untuk lebih baik, dan menjahui hal-hal yang tidak baik, dengan dilandasi tekad untuk tidak gagal kedua kalinya, dan mendapatkan pengalaman dari kegagalan.
            TERUS BERJUANG DALAM HIDUP, KARENA HIDUP UNTUK BERJUANG MENCAPAI APA YANG HENDAK DICAPAI ADALAH PERJUANGAN, TANPA PERJUANGAN ADALAH TIDAK ADA SESUATU NILAI-NILAI PERJUANGAN YANG MEMBAWA PERUBAHAN BARU DALAM HIDUP.

只要我们今天有多大,
远不要忘记他们的人支持
像目前,使我
“Sehebat apa pun kita hari ini,
Jangan pernah lupa pada siapa pun mereka yang pernah mendukung kita
Dan menjadikan kita seperti saat ini”
Refrensi
-         Wongso, Andrie. 22 WISDOM & SUCCESS Classical Motivation Stories 5. AW Publishing Pusat Niaga Roxy Mas. Jakarta Pusat, 2010.
-         Dhammadhãro Bhikkhu. Kumpulan Wacana Pāli untuk Upacara dan På. Yayasan Saïgha Theravāda Indonesia. Jakarta Utara, 2005.
-         Khantidharo, Bhikkhu. Kitab Suci Dhammapada. Yayasan Dhammadīpa âramā. Jakarta, 2005.
-         Jotidhammo,Bhikkhu.  Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada. Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.


[1] . Khudakanikāya; Khuddakapāñha