Selasa, 27 Agustus 2013

Mukzizat dan Kesaksian




 Dipublikasikan oleh: Samanera Vimalaseno 

Sering kita membaca koran, menonton televisi, ataupun mendapat ajakan dari teman yang `non-Buddhis' untuk menghadiri kebaktian dengan tujuan menyaksikan kebesaran `Hyang Agung' yang memperlihatkan kemampuan-Nya dalam menyembuhkan orang yang cacat fisik (seperti pincang, buta) dan menyembuhkan orang dari berbagai penyakit ringan (seperti batuk-batuk terus) hingga penyakit yang ganas seperti kanker.

Pernahkah Anda mengikuti acara seperti itu? Apakah Anda memang tertarik atau ikut-ikutan saja? Yakinkah Anda bahwa kemampuan yang ditunjukkan adalah benar milik `Hyang Agung'?
Seiring dengan perkembangan jaman, cara penyebaran agama pun sudah tidak seperti dahulu. Saat ini `agama' sudah disetarakan dengan `produk' oleh kaum `non-Buddhis', yang dalam menunjang suksesnya perlu dilakukan berbagai promosi, di samping penyusunan strategi yang jitu.

Melalui televisi dapat kita saksikan berbagai `acara yang menayangkan kesaksian-kesaksian atas mukjizat yang terjadi, terutama oleh orang-orang yang tadinya tidak memeluk agama tersebut. Acara tersebut dikemas seperti sedang mempromosikan suatu produk. Kesaksian atas mukjizat yang ditayangkan tidak jarang merupakan pengakuan yang belum tentu benar dan objektif. Ironisnya, tidak sedikit nara sumber yang mengaku dulunya beragama `Buddha', yang jika kita teliti dengan seksama sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti agama `Buddha'.

Tidak jarang di rumah sakit, kita menjumpai kelompok agama `non-Buddhis' yang sedang mendoakan pasien yang tidak seagama dengan mereka. Suatu perbuatan yang sesungguhnya sangat mulia dan patut dihargai jika tidak diilhami dengan maksud tertentu yang kurang bijaksana. Sering terdengar pesan dari mereka bahwa Anda akan sembuh jika benar-benar menyerahkan diri atau percaya pada `Hyang Agung' mereka dan jangan percaya pada `Hyang Agung' yang lain (dalam agama si pasien). Jika si pasien sembuh, mereka akan menyatakan bahwa hal itu karena mukjizat dari `Hyang Agung' mereka, seakan-akan mereka lupa bahwa pada saat bersamaan si pasien masih terus menerima pengobatan medis. Jika tidak sembuh, mereka akan menyatakan bahwa hal itu karena si pasien tidak/kurang percaya pada `Hyang Agung' mereka. Jika si pasien meninggal dan sempat dialihkan agamanya menjadi penganut agama yang mereka yakini sebelum detik-detik kematian si pasien, mereka pasti menyatakan dia akan berada di sisi `Hyang Agung' atau surga dan sudah terselamatkan. Apakah Anda yakin, semudah itukah surga dapat dicapai hanya dengan modal 'percaya'?

Coba Anda bayangkan, ada beberapa suku primitif yang masih belum mengenal atau tidak yakin pada dunia pengobatan. Jika ada anggota suku yang sakit mereka hanya membawanya ke `dukun' dan meletakkannya di bawah pohon. Setelah si `dukun' membacakan `mantra-mantra', ternyata sembuh. Mungkin ini lebih canggih karena tidak diperlukan bahwa si pasien harus "percaya."

Demikian juga, tidak kurang acara kebaktian yang dikoordinasikan oleh berbagai jenis aliran `non-Buddhis', dengan tujuan untuk mempertontonkan mukjizat-mukjizat `Hyang Agung' dan dikemas seperti acara `show'. Pada acara tersebut akan terlihat adanya sekelompok orang, baik yang cacat fisik (misalnya buta, pincang), mengalami sakit (misalnya diabetes, hepatitis, kanker), hingga yang sedang stress atau depresi, berbondong-bondong menunggu dan mengharapkan terjadinya mukjizat dari `Hyang Agung' melalui pemuka aliran `non-Buddhis' tersebut.

Apakah `Hyang Agung' perlu mempertontonkan kesaktian-Nya agar manusia percaya akan keberadaan-Nya? Apa sesungguhnya tujuan yang hendak dicapai, memuji kebesaran `Hyang Agung'? Apakah pengakuan/pemujian manusia terhadap-Nya begitu penting hingga mengalahkan rasa cinta/kasih-sayang yang seharusnya diberikan oleh-Nya? Bukankah akan lebih baik `Hyang Agung' menunjukkan mukjizat-mukjizat-Nya di rumah sakit, yang jelas-jelas merupakan orang yang harus segera disembuhkan daripada mukjizat dipertontonkan di depan umum? Siapa tahu suatu saat tidak diperlukan lagi dokter dan rumah sakit seperti kembali ke masa lalu.

Demikian beberapa contoh pertanyaan yang akan terlintas di pikiran orang yang tidak mudah percaya begitu saja.

Dari data yang diperoleh, kalaupun benar terjadi mukjizat pada saat acara 'kebaktian' tersebut, diperkirakan hanya 1-3 yang mungkin sembuh setiap 100 orang. Dalam bidang statistik, kesimpulan yang diambil adalah bahwa mukjizat `Hyang Agung' yang dipertontonkan pada saat acara tersebut tidaklah benar. Bayangkan saja, persentase orang yang tidak sembuh berada di atas 90%, sehingga yang sembuh lebih tepat disebut sebagai `sampling error' (data yang menyimpang) untuk mengambil suatu kesimpulan generalisasi. Sebagai gambaran, andaikan dalam proses pengobatan untuk seratus pasien ternyata yang sembuh hanya tiga pasien, apakah dapat dikatakan proses pengobatan tersebut sukses? Komentar defensif yang sering terdengar adalah bahwa orang yang benar-benar percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya pada `Hyang Agung hanyalah sekitar 1-3 % tadi, dan itu adalah suatu keberhasilan yang telah disimpulkan secara terbalik. Tidak jarang justru yang sembuh adalah orang yang tidak pernah atau jarang kelihatan di tempat ibadah mereka.
Belum lagi ditambah banyaknya penipuan yang sering dilakukan oleh pemuka aliran agama yang tidak benar, di mana untuk acara seperti itu, terdapat pengurus yang dikhususkan untuk mencari orang-orang yang berpura-pura mengalami cacat fisik ataupun sakit, dan terlihat sembuh mendadak saat dibacakan `doa kesembuhan' oleh sang pemuka aliran agama tersebut. Kasus yang sudah dianggap kriminal ini pernah diungkapkan dalam berita.

Dalam agama Buddha, peristiwa yang mengisahkan mukjizat tak terhitung banyaknya, dan bukan monopoli Sang Buddha saja, tetapi juga dapat dilakukan oleh siswa-siswa Beliau, baik itu bhikkhu maupun upasaka/upasika. Tidak saja dengan mengacu pada peristiwa di dalam kitab suci Tipitaka (saudara dapat membacanya), berbagai peristiwa pun dapat kita jumpai saat ini, di mana tidak sedikit yang sembuh dari penyakit berat seperti kanker dan sebagainya, dengan melatih meditasi Vipassana. Terdapatnya umat yang mempunyai kemampuan membaca pikiran orang, menyembuhkan orang dari jarak jauh, dan sebagainya.

Dalam agama Buddha, seseorang yang mempunyai kekuatan batin bukanlah sesuatu yang luar biasa, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Melalui meditasi, jika seseorang sudah mencapai Jhâna keempat, ia dapat mengembangkan enam Abhiñña dan Iddhividhañna (kemampuan yang luar biasa) sebagai berikut:
  1. Pubbenivâsânussatiñâna: kemampuan untuk melihat kehidupan masa lampau
  2. Dibbacakkhuñâna atau Cutûpptañâna: mata batin, mampu melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk yang lahir sesuai dengan kammanya masing-masing.
  3. Cetopariyañâna atau Paracittavijañâna: kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain.
  4. Dibbasotañâna: telinga dewa, kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam manusia, alam dewa, alam brahma yang dekat maupun yang jauh.
  5. Iddhividhiñâna: kekuatan magis, yang terdiri dari:
    a. Adhittana-iddhi, yaitu kekuatan kehendak (will power) untuk mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak. Atau dari banyak menjadi satu.
    b. Vikubbanâ-iddhi, yaitu kemampuan untuk mengubah rupa, misalnya mengubah rupa menjadi anak kecil, raksasa, ular, membuat diri menjadi tidak nampak.
    c. Manomaya-iddhi, yaitu kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran, misalnya menciptakan istana, taman, singa, dan benda-benda lain.
    d. Ñânavipphara-iddhi, yaitu pengetahuan menembus ajaran.
    e. Samadhivipphrâ-iddhi, yaitu konsentrasi lebih jauh sebagai berikut:
    - Kemampuan menembus dinding, gunung, dan lain-lain,
    - Kemampuan menembus ke dalam bumi bagaikan menyelam air
    - Kemampuan berjalan di atas air.
    - Kemampuan tak terbakar oleh api.
    - Kemampuan terbang di angkasa.
  6. Âvakkhayañâna: kemampuan untuk memusnahkan sava atau kekotoran batin. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi (Arahat).
Penyebaran ajaran melalui kesaktian atau mukjizat sudah ada jauh sebelum masa Sang Buddha, di mana para pertapa sering menunjukkannya untuk memperbanyak pengikutnya. Tetapi saat agama ‘non-Buddhis’ menggunakan ‘mukjizat’ untuk menyebarkan ajarannya, justru Sang Buddha menunjukkan sikap Beliau yang unik dengan melarang para bhikkhu ataupun para siswa-Nya menggunakan kesaktian untuk menyebarkan Dhamma, dan telah ditetapkan menjadi larangan untuk para bhikkhu dalam Vinaya.

Dikisahkan, seorang bendahara dari Rajagaha membuat tantangan untuk para pertapa, bila ada yang berhasil mengambil mangkuk (yang terbuat dari kayu cendana) yang digantungkan di udara dengan seutas tali dari sambungan bambu dengan ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah, maka dia beserta anak dan istrinya akan menjadi muridnya. Pada saat tidak ada seorang pertapa pun yang dapat mengambil mangkuk tersebut, Y.M. Pindola Bharadvaja yang sedang berpindapatta bersama Y.M. Maha Moggollana, terbang dan mengambil mangkuk tersebut. Setelah mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Y. M. Pindola Bharavadvaja, Sang Buddha menegur beliau dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil serta menyerahkannya kepada para bhikkhu untuk dijadikan bubuk kayu cendana. Sejak itu, Sang Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktikkan kekuatan supranatural untuk tujuan seperti itu di masa yang akan datang.

Pelanggaran atas peraturan latihan akan menyebabkan seorang bhikkhu mendapat hukuman yang disebut apatti. Dalam Vinaya bagian Sudhika Pacittiya, disebutkan bahwa apabila seorang bhikkhu mengatakan/menunjukkan kepada umat awam kemampuan gaib yang dimilikinya, maka ia melanggar pacittiya (pelanggaran yang dapat diperbaiki). Lebih jauh lagi, di dalam Vinaya bagian Parajika , dinyatakan jika seorang bhikkhu berbohong dengan menyatakan dirinya mempunyai kesaktian yang sebenarnya tidak dimilikinya, maka ia melanggar Parajika (pelanggaran berat) dan harus dikeluarkan dari kebhikkhuan.

Di dalam Dîgha Nikâya I, Sang Buddha menyatakan bahwa para pertapa yang melakukan peramalan suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, penujuman, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci dan berpraktek sebagai ‘dokter’, merupakan pertapa-pertapa yang mendapatkan penghidupan dengan cara rendah.

Berbagai kesaktian dan mukjizat yang pernah ditunjukkan oleh Sang Buddha dan para siswa, tidak untuk memamerkan kesaktian para Ariya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kisah, misalnya:
  • Pada saat Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu atas undangan Raja Suddhodana (ayah Pangeran Siddharta). Karena telah menjadi Buddha maka tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Raja Suddhodana (sesuai dengan tradisi saat itu bahwa seorang anak harus bersujud di depan ayahnya). Sang Buddha terbang ke angkasa mendekati Raja Suddhodana dan dari badan sebelah atas menyala api yang berkobar-kobar dan bagian bawah badan memancarkan air dingin, dan setelah itu air memancar dari badan sebelah atas dan api menyala berkobar-kobar dari badan sebelah bawah.
  • Sang Buddha terbang dan melayang di atas sungai Rohini memberikan khotbah untuk mencegah terjadinya perang antara suku Koliya dan suku Sakya dalam memperebutkan air.
  • Pada saat Añgulimala akan membunuh ibunya untuk melengkapi jari tangan yang dikumpulkan (seribu tangan) untuk dipersembahkan kepada gurunya. Sang Buddha mendatangi Añgulimala dan berdiri di antara Añgulimala dan ibunya. Pada saat Añgulimala melihat Sang Buddha, dengan pedang terhunus Añgulimala berlari mengejar Sang Buddha untuk membunuhnya. Walaupun Sang Buddha berjalan dengan lambat, Añgulimala tidak pernah berhasil mengejar dan menyentuh Sang Buddha walaupun sudah mengejar sekuat tenaga. Kemudian Sang Buddha memberikan nasehat kepada Añgulimala. Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, Añgulimala menyadari perbuatannya dan kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian Arahat.
  • Seorang upasaka ingin pergi ke Jetavana untuk melihat Sang Buddha. Ia sampai di tepi sungai Aciravati ketika hari sudah malam, dan tidak ada perahu untuk menyeberangi sungai itu karena tukang perahunya sedang pergi ke tempat Sang Buddha mendengarkan pembabaran Dhamma. Karena pemusatan pikirannya yang kuat sekali kepada Sang Buddha, ia dapat berjalan di atas air menyeberangi sungai, dan kakinya tidak tenggelam dalam air. Ia berjalan bagaikan di atas tanah.
Sang Buddha tidak mengajarkan kita untuk mencari kesaktian dan mukjizat, mempercayainya sebagai suatu kekuatan yang dapat memberikan kita berkah dan keselamatan. Karena hal itu tidak benar dan tidak berguna untuk pengembangan spritual atau batin.

Orang yang selalu mencari perlindungan pada hal-hal seperti itu, tidak akan dapat melihat Dhamma nan mulia yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha. Umat Buddha hanya akan mencari kesaktian dan mukjizat di luar dirinya, dan lupa akan pencapaian yang menjadi tujuan hidup seorang Buddhis.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, keberuntungan dan kebahagiaan dapat dicapai
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, kematian dapat dicegah
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, roda samsara dapat dihentikan.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, kesucian dapat diperoleh.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, penderitaan akan berakhir.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, pembebasan dapat direalisasikan.
Dhamma berada sangat dekat, mengundang untuk dibuktikan sendiri. Berkah kebahagiaan dapat Anda ciptakan sendiri tanpa harus menunggu terjadinya mukjizat dari luar diri kita. Karena dengan menjalankan Dhamma, ajaran nan agung yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha, Anda dapat menciptakan sendiri ‘mukjizat-mukjizat’ dalam kehidupan Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar