Senin, 14 Oktober 2013

Masyarakat Pasca Majapahit


A.    MASYARAKAT TENGGER

Makna Arti kata ‘Tengger’
            Suku Tengger yang beragama Hindu hidup di wilayah Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pada tahun 1985 jumlah mereka sekitar 40 ribu. Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.

Nenek Moyang Kaum Tengger: Rara Anteng dan Jaka Seger
            Sebagaimana disebut di atas, Tengger biasa dikaitkan juga dengan mitos masyarakat tentang suami istri yang merupakan cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger. Sehingga bila nama keduanya diringkas menjadi: Tengger.
            Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman. Ia dan para punggawanya pergi ke Pegunungan Tengger. Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.
            Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan.
            Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya kekediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuatserong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu.Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun bergantiarah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.
            Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma. Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga  tempat-tempat lain. Maka setiap tanggal 14 bulan purnama di bulan Kasada, dikirimilah Raden Kusuma beragam hasil ladang ke kawah Gunung Bromo. Upacara persembahan tersebut menjadi tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun hingga sekarang yang diberi nama Yadnya Kasada.
Dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng

Orang Tengger: Keturunan Pengungsi dari Majapahit?
            Meskipun tidak banyak, kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru memiliki data kepurbakalaan dan kesejarahan yang dapat mengungkap siapa dan bagaimana kehidupan orang Tengger. Prasasti batu yang pertama kali ditemukan, berangka tahun 851 Saka (929 M), menyebutkan bahwa  sebuah desa bernama Walandhit, yang terletak di kawasan pegunungan Tengger, adalah sebuah tempat suci yang dihuni oleh  hulun hyang, yakni orang yang menghabiskan hidupnya sebagai abdi dewata. Prasasti kedua yang ditemukan, masih dalam abad yang sama, menyatakan bahwa di kawasan ini penduduknya melakukan peribadatan yang berkiblat kepada Gunung Bromo, dan menyembah dewa yang bernama Sang Hyang Swayambuwa, atau yang dalam agama Hindu dikenal sebagai Dewa Brahma.  Pada tahun 1880 seorang perempuan Tengger menemukan sebuah prasasti yang terbuat dari kuningan di daerah penanjakan yang termasuk Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Prasasti ini berangka tahun 1327 Saka atau 1407 M (1405 M?). Prasasti ini menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandhit dihuni oleh hulun hyang atau abdi dewata, dan tanah di sekitar Walandhit disebut hila-hila atau suci. Warga desa Walandhit dibebaskan dari kewajiban membayar  titileman, yakni pajak upacara kenegaraan karena mereka berkewajiban melakukan pemujaan terhadap Gunung Bromo, sebuah gunung yang dikeramatkan. Prasasti tersebut dihadiahkan oleh Bathara Hyang Wekas in Sukha (Hayam Wuruk) pada bulan Asada.
            Nama Walandhit disebut juga oleh Prapanca, seorang  pujangga kenamaan dari kerajaan Majapahit dalam Kakawin Nagarakertagama. Walandhit adalah nama sebuah tempat suci yang sangat dihormati oleh kerajaan Majapahit. Di tempat ini bermukim kelompok masyarakat yang beragama Buddha dan Saiwa.
            Prasasti Walandhit menunjukkan bahwa kawasan Bromo-Tengger-Semeru sudah berpenghuni sejak Kerajaan Majapahit masih berjaya. Oleh karena itu, adanya keyakinan bahwa nenek moyang orang Tengger adalah pengungsi dari Majapahit perlu dikaji ulang. Ada dua kemungkinan yang perlu  dipertimbangkan, pertama meskipun orang Walandhit bukan keturunan Majapahit, kegiatan beragama mereka sama dengan warga kerajaan Majapahit pada umumnya, yaitu melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bercorak Hindu-Budha. Kemungkinan kedua, orang Walandhit dengan suka cita menerima para pengungsi dari Majapahit yang terdesak oleh ekspansi Kerajaan Islam Demak, terutama setelah  Karsyan Prawira dan daerah sekitarnya berhasil diislamkan oleh tentara Demak pada abad ke-16 M. Para pengungsi dari Majapahit tersebut kemudian menyatu dan menurunkan orang Tengger yang kita kenal sampai sekarang. Pada waktu itu daerah pedalaman termasuk dataran tinggi Tengger, belum sempat direbut oleh tentara Demak.
      Masyarakat Tengger dikenal luas beragama Hindu, berpadu dengan kepercayaan tradisional. Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan Hindu di Bali. Perbedaannya antara lain, Hindu Tengger tidak mengenal ngaben sebagai upacara kematian sebagaimana di Bali. Masyarakat Tengger juga tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.
            Memang, pada zaman Majapahit diakui ada dua agama, yakni Hindu dan Budha. Pada abad ke- 14 setelah masuknya Islam, kata “Budha” dipakai untuk orang yang belum menganut Islam.
           
Dukun: Pimpinan Agama dan Adat
            Kepala kelompok-kelompok masyarakat disebut Dukun. Dukun sebagai pimpinanAgama sekaligus sebagai Kepala Adat, bertugas dan bertanggung jawab memimpin upacara-upacara adat. Dalam menunaikan tugasnya, Dukun dibantu oleh beberapa orang petugas yaitu:
Ø  Wong Sepuh, bertugas sebagai pembantu dalam menyiapkan sesaji upacara-upacara kematian.
Ø  Legen, bertugas membantu Penobatan Tamu Kehormatan mempersiapkan peralatan dan sesaji pada upacara perkawinan.
Ø  Dukun Sunat, bertugas melaksanakan khitanan anak laki-laki menjelang umur remaja. Khitan bagi anak laki-laki Tengger berbeda dengan khitan dalam Agama Islam. Khitan anak laki-laki Tengger hanya sekedar memotong sedik kulit ujung penis.
Ø  Dukun Bayi, bertugas menolong ibu yang akan melahirkan.
            Memperhatikan betapa pentingnya peran dukun bagi Masyarakat Tengger, maka ditetapkan setiap desa dikepalai seorang Dukun. Dukun dipilih oleh warga dengan persyaratan tertentu, yaitu :
Ø  Laki-laki sudah menikah
Ø  Keturunan Dukun / titisan darah
Ø  Dapat menguasai semua mantera / adat istiadat.
            Ujian calon Dukun dilakukan di Poten tempat upacara adat dan dilaksanakan bertepatan dengan Yadnya Kasada.

Berbagai Macam Upacara Adat di Tengger
            Orang Tengger kaya akan upacara adat tetapi hampir  tidak memiliki produk kesenian. Upacara adat yang sampai saat ini masih diselenggarakan di wilayah Tengger adalah sebagai berikut.
1.      Upacara Kasada.
            Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada, adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta para saudaranya.  Kasodoan  merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger.Kepergian dukun Tengger ke Bromo bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk minta berkah kepada yang menjaga Gunung  Bromo. Permintaan itu ditujukan kepada Sang Dewa Kusuma yang dikurbankan (dilabuh) di Kawah Bromo. Selain meminta sesuatu, dukun Tengger juga memberi sesuatu, yaitu melaksanakan amanat Raden Kusuma yang diucapkan pada masa lalu yang berbunyi sebagai berikut:  “Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk aku saben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing  ana rupa tuwuh, rupa sandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya, weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutan panjaluke rika ya mesti kinabulna.” (“Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia, di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, dan makanan yang kalian makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmu dan permintaanmu pasti kukabulkan”).

2.      Upacara Karo.
            Upacara ini bertujuan untuk kembali ke Satyayoga, yakni kesucian. Upacara Karo juga merupakan upacara besar. Masyarakat Tengger mempercayai, pada Hari Raya Karo inilah Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) menciptakan “Karo”, yakni dua manusia berjenis lelaki dan perempuan sebagai leluhurnya, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger. Upacara Karo dilaksanakan 12 hari. Masyarakat Tengger mengenakan pakaian baru, perabot baru. Makanan dan minuman melimpah pada hari raya mereka. Antar keluarga saling mengunjungi. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya. Memperingati asal usul manusia. Untuk kembali pada kesucian. Untuk memusnahkan angkara murka.

3.      Upacara Unan-Unan.
            Upacara ini diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuan dari unan-unan adalah untuk mengadakan penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan.

4.      Upacara Entas-Entas.
            Upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan  roh orang yang telah meninggal dunia pada hari ke-1000 agar supaya dapat masuk surga. Biaya upacara ini sangat mahal karena penyelenggara harus mengadakan selamatan besar-besaran dengan  menyembelih kerbau. Sebagian daging kerbau tersebut dimakan dan sebagian dikurbankan.

5.      Upacara Pujan Mubeng.
            Upacara ini diselenggarakan pada bulan             kesembilan atau  Panglong Kesanga, yakni pada hari kesemilan sesudah bulan purnama. Warga Tengger berkeliling desa bersama dukun mereka sambil memukul ketipung. Mereka berjalan dari batas desa bagian timur mengelilingi empat penjuru desa. Upacara ini dimaksudkan untuk membersihkan desa dari gangguan dan bencana. Perjalanan keliling tersebut diakhiri dengan makan bersama di rumah dukun. Makanan yang dihidangkan berasal dari sumbangan warga desa.
6.      Upacara Kapat.
      Upacara Kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.



7.      Upacara Kawulu.
      Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun saka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.



B.     MASYARAKAT SUKU BADUY

Masyarakat suku baduy merupakan masyarakat yang homogen dengan orang-orang sunda yang tidak terdengar asing lagi oleh telinga masyarakat indonesia, mulai dari businessman sampai tukang sapu jalan, dari mahasiswa sampai anak SD, di kalangan sosialitas sampai ibu-ibu arisan. Memang tidak semua masyarakat indonesia mengomsumsi produk-produk impor tersebu, sebab masih ada segelintir orang yang hanya bertindak sebagai pengamat atau sekedar ingin tahu saja. Dan suku baduy tebagi menjadi dua yaitu suku baduy luar disebut Suku Urang Panamping dan suku baduy dalam yang disebut  Suku Urang Tantu. Dam mereka memiliki cara hidup masing- masing dan memiliki pemukiman yang berbeda pula antara suku baduy dalam dan suku baduy luar.
ADAT ISTIADAT ORANG PEDALAMAN (BADUY)
Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).
WILAYAH
Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20°C
ASAL USUL
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
            Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
 BAHASA
            Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes ‘dalam’ tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
     RUMAH ADAT DAN ISTIADATKU
Orang-orang Baduy dalam membangun rumah dari susunan bambu dengan pondasi pasak-pasak kayu. Rumah –rumah merka berdiri mengikuti kontur tanahnya yang berlobang. Tidak ada paku, tidak perlu palu, cukup dengan menyambung engsel kayu-kayu dan bambu, rumah khas orang-orang baduy dalam sudah biasa berdiri dengan kokoh. Sementara rumah-rumah baduy luar memiliki dua pintu, dan rumah-rumah baduy dalam hanya memiliki satu pintu. Satu pintu ini melambangkan prinsip orang baduy dalam hidup berkeluarga. Satu pintu berati hanya boleh satu istri dan satu suami. Mereka hanya terkait dalam satu hati, satu tujuan, satu adat membangun masa depan. Orang baduy tidak mengenal kata perselingkuha, poligami, apalagi perceraian hal-hal yang sudah lumrah pada kehidupan sekarang. Dengan perinsip satu pintu inilah, keluarga masyarakat baduy mampu menjaga kerukunan rumah tangganya dari zaman ke zaman.  
     KEPERCAYAAN
      Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin.
     STRUKTUR PEMERINTAHAN
      Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “puun”. Struktur pemerintahan
     MATA PENCAHARIAN
Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.
     RITUAL NGASEK DAN BUNYI CALINTUN
            Bagi masyarakat Baduy, berarti bukanlah sekedar penanam padi disawah, namunjuga dianggap juga sebagai bagian dari tradisi. Masyarakat baduy dalam sangat menghormati padi, bahkan sejak padi itu masih berupa benih. Menjelang musim tanam selalu melakukan ritual menanam padi yang mereka sebut Ngasek. Sebelum penanaman, pemimpin adat akan bertapa dan berpuasa selama tiga hingga sampai tuju hari. Setelah Sang pemimpin adat selesai berdo’a, benih yang akan ditanam “dihibur” dengan musik angklung dan nyanyian pantu.


C.    MASYARAKAT SAMIN

     MASYARAKAT SAMIN
            Samin adalah nama seorang tokoh yang hidup pada zaman colonial belanda (sekitar tahun 1900-an). Nama lengkap tokoh tersebut adalah Kyai Samin Surosentiko. Menetap di desa bapangan kecamatan menden kabupaten Blora jawa tengah. Sebutan “kyai” dalam konteks kultur jawa menunjuk pada posisi special, biasanya menunjuk pada kekuatan supranatural. Labeling “kyai” tidak hanya untuk sebutan manusia tetapi bisa juga digunakan pada benda, hewan, dan tumbuhan. Sebagai contoh: tombak pusaka keraton solo disebut sebagi kyai Plered, kerbau keraton dinamakan kyai Slamet, pohon besar nan rimbun yang tumbuh di tepi sungai, disebut sebagai kyai Danyang, sedangkan orang yang dituakan dalam masyarakat jawa juga biasa dipanggil dengan sebutan “kyai”.
            Perkembangan selanjutnga, kyai Samin membakukan perilaku dan gaya hidupnya menjadi suatu ajaran sehingga terlembagakan menjadi saminisme yang memanelkan pada perilaku yang kemudian menjadi ajaran yang terinstitusionalisasi, kemudian berkembang menjadi sikap kebatinan. Dalam perkembangan saminisme terbagi menjadi dua golongan , yang satu disebut sebagia samin peniten (sikap), artinya masyarakat samin yang berperilaku dan gaya niteni (memperhatikan terhadap milik sendiri). Sebagai contoh: si A dikenai pajak Rp.250,-untuk pekarangan rumah dan isinya. Tetapi si A tidak mau membayar karena merasa tanah pekarangan dan seluruh isinya tersebut adalah milik pribadi sehingga tidak perlu membayar pajak. Sedangkan golongan yang kedua adalah sebagai samin sangkak, yaitu masyarakat samin yang gaya hidup dan ajarannya memakai logika yang berdasarkan pada perspektif mereka sendiri. Misalnya si B ditanya; anaknya berapa? Maka akan dijawab: anaknnya dua (padahal jumlah anaknya lima). Kalau ditanya: kok cuma dua? Maka akan dijawab: iya dua, laki-laki dan perempuan. 

     Asal ajaran Saminisme

Ajaran Saminisme muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang.Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri.

     Tokoh perintis ajaran Samin

Tulisan ini merupakan salah satu dari teks historis-sosiologis yang mencoba disuguhkan untuk mengenal suatu masyarakat secara komprehensif dan mendalam. Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang masyarakat samin meliputi; ide terbentuknya masyarakat samin, tiga unsur gerakan Saminisme, masa kepemimpinannya, sumber ajaran Samin, daerah persebaran ajaran Samin, sebab perlawaan orang Samin, pandangan orang Samin terhadap pemimpinnya, potret pemuka masyarakat Samin saat ini, bahasa yang digunakan, kepribadian orang Samin, rites perkawinan orang Samin, pandangan orang Samin pada sebuah nasib, identitas pakaiannya, perkembangan kepercayaannya, dan strategi politik orang Samin.
Tulisam ini diharapkan menjadi suguhan kepada pembaca secara berbeda, karena sampai saat ini masih kentalnya pengetahuan masyarakat akan Orang Samin tidak beda dengan masyarakat yang terbelakang, terisolir dan anti kemajuan. Karena penulis khawatir dari kesekian kalinya kekerasan pada pemeluk aliran kepercayaan sering dipertontontan, dan sangat mungkin terjadi pada pada entitas masyarakat samin.Tulisan ini merujuk dari berbagai sumber, termasuk buah tangan Sastroatmodjo (2003), film dokumenter mas Arto di Studio 12 Ungaran, dan hasil diskusi hasil KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pada saat duduk di bangku kuliah di Program Studi Pendidikan Sosiologi & Antropologi Unnes.Otak intelektual gerakan Saminisme adalah Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini di dapat dari ayahanda, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto, yaitu kawasan distrik pada kabupaten Tulungagung Jawatimur). Lelaki kelahiran tahun 1859 di Ploso ini sejak dini dijejali dengan pandangan-pandangan viguratif pewayangan yang mengagungkan tapabrata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir) dan mencintai keadilan. Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas yang terjadi, dimana banyaknya nasib rakyat yang sengsara, dimana Belanda pada saat itu sangat rajin melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Pada saat itulah, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin. Dia juga menghimpun para brandalan di Rajegwesi dan Kanner yang dikemudian hari menyusahkan pihak Gupermen. Pada saat itulah, Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarkat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “sami-sami amin” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika Raden Surawijoyo melakukan langkah membrandalkan diri untuk membiayai pembangunan unit masyarakat miskin. Kyai Samin Surosantiko tidak hanya melakukan gerakan agresif revolusioner, dia juga melakukan ekspansi gagasan dan pengetahuan sebagai bentuk pendekatan transintelektual kaum tertindas (petani rakyat jelata) dengan cara ceramah dipendopo-pendopo pemerintahan desa. Isi dari ceramah ini yaitu keinginan membangun kerajaan Amartapura. Adapun pesan substantif yang didengung-dengungkan yaitu meliputi; jatmiko (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam dan jatmiko selalu berpegangan akan budi pekerti.
     SYSTEM BAHASA MASYRAKAT SAMIN
            Masyrakat samin secara umum menggunakan bahasa jawa sebagai media bahasa antar warga. Bahasa jawa memiliki banyak tingkatan yang penggunaannya disesuaikan dengan konteks dan posisi/derajat antar komunikator dan komunikan. Tingkatan dalam bahasa jawa terdiri dari: bahasa kedaton, Krama inggil, Mudha krama, krama andhap, krama Ndesa, Ngoko andhap, dan Ngoko. Krama inggil digunakan oleh orang derajatnya lebih rendah kepada orang yang kedudukannya lebih tinggi, bahasa kedaton digunakan untuk kalangan bangsawan di lingkungan kedaton, Mudha karma dipakai untuk golongan priyai, dimana diantara mereka setara derajatnaya, tetapi belum akrab. Kromo Andhap digunakan oleh Priyai kepada orang yang derajatnya lebih rendah tetapi orang tersebut memiliki martabat yang lebih ringgi. Ngoko Andhap digunakan oleh Priyai (golongan terhormat) yang mempercayai derajat sama. Ngoko digunakan oleh mereka yang mempunyai kesamaan derajad pada lingkungan pedesaan. Pengetahuan yang mempelajari tentang bahsa  dantingkatan-tingkatan bahasa disebut paramasastra. Orang samin kebanyakan mempergunakan bahasa Ngoko dalam percakapan diantara mereka. Hal ini mencerminkan kesamaan derajat yang kental. Ketika berinteraksi dengan orang yang diluar lingkungan, mereka baru menggunakan bahasa di luar Ngoko tergantung siapa yang dihadapi.
abdullah masmun, j. s. (2003). Agama Tradisional: potret kearifan masyarakat samin dan tengger. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
Lahansari. (2011, mei). Masyarakat Baduy: sebuah cermin keanggunan nilai tradisional di tengah era globalisasi. paramita media informasi dan ekspresi kreatifitas , pp. 21-24.
Munfangati, T. (2004). Kearifan lokal masyarakat samin kabupaten blora. Yogyakarta: Jarahnitra.
Rosmana, E. (2008, Maret 21). Suku baduy dipedalaman banten. Retrieved Maret 28, 2012, from Indotoplist.om: http://info.indotoplist.com
Savitri, A. (2010). Sejarah agama dan tradisi suku tengger gunung bromo.
Syharto, A. Sekilas Tentang Masyarakat Tengger .
















ARIYA PUGGALA (MAKHLUK-MAKHLUK SUCI)


Publikasi: Samanera Vimalaseno

Agama Buddha merupakan suatu agama yang dalam mencapai suatu tujuannya menekankan pada praktek moral. Dewasa ini banyak yang beranggapan bahwa agama buddha merupakan suatu agama yang bersifat religius yang menyembah berhala. Namun sebenarnya tidaklah demikian, karena setiap agama mempunyai cara-cara tersendiri untuk mencapai tujuannya. Buddha menganjurkan kepada setiap umatnya untuk selalu tekun menjalankan praktek sila dalam kehidupan sehari-hari. didalam agama Buddha terdapat suatu jalan yang digunakan oleh sang Buddha dalam mencapai suatu pencerahan yang membawa setiap manusia kepada ketenangan abadi.
Didalam agama Buddha terdapat 4 (empat) tingkatan makhluk suci berdasarkan pada praktek jalan mulia berunsur delapan, yang terdiri dari Sotapati,Sakadagami, Anagami dan tingkat kesucian yang sempurna yaitu Arahat. Dalam pencapaiannya tidak lepas dari melatih diri dengan melaksanakan Sila, Samadhi, Panna. Selain pencapian kesucian tidaklah ditentukan oleh kedudukan seseorang, pakaian, dan juga pola makan. Namun yang menentukan seseorang mencapai kesucian adalah keinginan batin yang kuat dalam melaksanakan jalan mulia berunsur delapan.



A Pengertian Makhluk Suci
Dalam Buddha Dhamma makhluk suci di sebut juga dengan Ariya puggala. “ ariya “ artinya agung, mulia baik atau benar. “ puggala “ adalah individu, seseorang yang mulia atau agung. Makhluk suci adalah siapa saja yang telah menghancurkan atau melenyapkan dengan tuntas belenggu – belenggu atau sepuluh samyojana, sehingga mencapai tingkat kesucian sotapana, sakadagami, anagami dan arahat. Orang yang belum memiliki keseimbangan batin belum bisa dikatakan sebagai makhluk suci. 

B Tingkat – tingkat kesucian
Tingkat kesucian dalam agama Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :
Puthujjana Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai     tingkat kesucian.
Ariya-puggala Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama.

C Empat tingkat kesucian
Sotapanna : tingkatan Sotapanna , dimana kata ini secara harafiah berarti "Pemasuk Arus" : Orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi.
Sotapanna telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana),yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikiccha, dan (3) silabbata-paramasa. 

Ada tiga macam Sotapanna :
a) Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali sekali lagi.
b) Kolamkola Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.
c) Sattakkhattuparana Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.
Sakadagami : Orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi.
Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana) yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikiccha, dan (3) silabbata-paramasa dan telah melemahkan belenggu (4) kama-raga dan (5) vyapada.
Anagami:  Orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa. Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana.
Anagami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana) yaitu
(1) sampai dengan (5).
Ada lima macam Anagami :
1. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan             mereka/Antaraparinibbayi
2. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupanmereka/Antaraparinibbayi
3. Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi)
4. Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)
5. Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi (Uddham-soto-akanitthagami)
pertama dan ke dua digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.
Arahat : Orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.
Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 - 10).
Terdapat empat macam arahat:
1. Sukhavipassako Arahat.
Arahat yang tidak memiliki jhana/abhinna, hanya mencapai kesucian dengan melaksanakan vipassana bhavana.

2.Tevijjo Arahat.
Arahat yang memiliki tiga pengetahuan (vijja):
a. Pubbenivasanussati Nana; memiliki kesadaran akan kelahirannya yang lampau
b. Dibbacakkhu Nana; memiliki "mata dewa" sehingga dapat mengetahui kelahiran makhluk di alam dewa atau peta setelah meninggal.
c. Asavakhaya Nana; memiliki pengetahuan bagaimana cara melenyapkan asava (kekotoran batin yang paling dalam).

3. Chalabhino Arahat:
a sampai c seperti di atas ditambah dengan tiga kemampuan lain, yaitu:
d. Cetopariya Nana (paracitta vijja Nana); dapat membaca atau mengetahui pikiran makhluk lain.
e. Dibbasota Nana (telinga dewa); dapat mendengar percakapan suara dari alam dewa, brahma, dan apaya.
f. Iddhividha Nana, yang terdiri dari:
1. Adhitthana Iddhi, kekuatan kehendak mengubah tubuh dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu lagi.
2. Vikubbana Iddhi, kemampuan `menyalin rupa' menjadi anak kecil, raksasa, rupa buruk, menjadi tak tampak.
3. Manomaya Iddhi. Kemampuan `mencipta' dengan kekuatan pikiran. Misalnya: mencipta istana, taman, binatang. Lamanya ciptaan itu tergantung dari kekuatan pikiran.
4. Nana vipphara Iddhi. Pengetahuan menembus ajaran yang sulit.
5. Samadhivipphara Iddhi. Kekuatan konsentrasi untuk:
i.   menembus dinding
ii.  meyelam ke dalam bumi seperti di air
iii. berjalan di atas air seperti di tanah datar
iv. masuk ke dalam api tanpa hangus
v.  terbang seperti burung

4. Patisambhidappatto Arahat.
Arahat yang memiliki empat patisambhida (pengetahuan sempurna):
a) Atthapatisambhida.
Pengertian mengenai arti/maksud ajaran dan dapat memberi penerangan secara rinci, hampir seperti Sang Buddha.
b) Dhammapatisambhida.
Pengertian mengenai intisari dari ajaran dan mampu mengajukan pertanyaan ajaran yang mendalam.
c) Niruttipatisambhida.
Pengertian mengenai bahasa dan mampu menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pendengar.
d) Patibhanapatisambhida.
Pengertian mengenai kebijaksanaan dan mampu menjawab spontan bila ada pertanyaan mendadak.
            Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.
Sakkayaditthi : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal
Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat           membebaskan manusia dari penderitaan.
Kamaraga : Nafsu Indriya.
Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.
Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).
Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.
 Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri          dengan orang lain .
Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.
 Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang   bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

Catatan : Untuk Belenggu ruparaga dan aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga).
Lima Samyojana/Belenggu pada Sotapanna dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana.
Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.


Banyak dari siswa Sang Buddha yang memiliki 6 kekuatan batin tersebut. Sang Buddha sendiri juga memiliki keenam Abhinna tersebut secara lengkap dan sempurna, tetapi tentunya bukan hanya itu saja. Sang Buddha juga memiliki 10 rangkaian Pandangan Terang dari Tathagata (Dasabala Buddha), sebagai berikut:

1. Beliau mengetahui apa yang mungkin sebagai mungkin, dan yang tidak mungkin sebagai tidak mungkin. Misalnya beliau mengetahui bahwa tidak mungkin Sankhara itu kekal (permanen), dan tidak mungkin bahwa yang telah lahir tidak akan mati..
2. Beliau mengetahui dengan benar masaknya buah karma dari yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang, apa yang bakal terjadi dan apa penyebabnya.
3. Beliau mengetahui dengan benar ke alam kehidupan yang mana cara hidup tertentu menuju, misalnya perilaku tertentu menuju neraka, perilaku lain akan mengakibatkan kelahiran di alam binatang dan sebagainya.
4. Beliau mengetahui sifat dan unsur-unsur dari alam semesta
5. Beliau mengetahui berbagai tingkat perkembangan dari individu
6. Beliau mengetahui karakter dan kemampuan dari individu
7. Beliau mengetahui pencapaian pandangan terang dan Jhana, juga kemundurannya
8. Beliau mengetahui kelahiran kelahiran yang lampau dari makhluk makhluk
9. Beliau mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk sesuai dengan karmanya.
10. Beliau memiliki pandangan terang untuk menghancurkan kekotoran batin seketika dan untuk selamanya.

Inilah kesepuluh kekuatan dari kebajikan Sang Buddha yang berupa Pandangan Terang yang menempatkan Beliau sebagai pemimpin dunia dan pemutar roda Dhamma. Di samping itu masih ada lagi kemampuan khusus dari Sang Buddha, sebagai berikut:

1. Indriya-Paro-Pariyatti-Nana: mengetahui tingkat perkembangan Saddha (keyakinan), Viriya (semangat/kegigihan), Sati (kesadaran penuh), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan / pandangan terang) dari seseorang sehingga Sang Buddha bisa memberikan kotbah yang sesuai.
2. Asaya-Anusaya-Nana: menemukan kecenderungan atau bakat lampau terpendam dalam diri seseorang.
3. Anavarama-Nana: Pandangan yang tak terhalangi
4. Sabbannuta-Nana: Dengan kemahatahuan ini, Sang Buddha mengetahui semua tentang lima hal:
- Sankhara, bagaimana Terbentuknya
- Vikara, bagaimana lenyapnya
- Nibbana
- Lakkhanabagaimana corak universal anicca, dukkha, anatta (ketidakkekalan, penderitaan,    dan tanpa diri)
-  Pragnapti, semua tentang kebenaran konvensional, seperti: konsep orang,makhluk, kursi, gunung, dan  seterusnya.
5. Maha-Karuna-Nana : Beliau mempunyai kasih sayang yang universal.
6. Yamaka-Patiaraya-Nana: Sang Buddha memiliki 5 Cakkhu (mata)
- Mansa-Cakkhu atau mata jasmani biasa yang dapat melihat benda sangat kecil dari jarak yang sangat jauh.
- Dibba-Cakkhu atau mata batin yang dapat melihat bagaimana makhluk lahir dan mati (disebut juga Catupapata-nana)
- Buddha-Cakkhu atau mata Buddha. Ini adalah gabungan dari Indriya-Paro-Pariyatti-Nana dan Asaya-Anusaya-Nana
- Panna-Cakkhu atau mata kebijaksanaan. Ini adalah Vipassana-Nana
- Samanta-Cakkhu atau mata pengetahuan tanpa batas. Ini adalah Sabbannuta-nana.


Di luar itu semua masih ada lagi 18 faktor luar biasa dalam diri Sammasambuddha (18 avenikadharma), yaitu:

1. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa lampau.
2. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa sekarang
3. Setiap Buddha memiliki pandangan terang yang tak terhalangi akan masa yang akan datang
4. Semua perbuatan jasmani dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
5. Semua ucapan dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
6. Semua kegiatan pikiran Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
7. Tidak ada apapun yang dapat menentang kehendak Sang Buddha
8. Tidak ada yang dapat merintangi pencapaian konsentrasi dari Sang Buddha
9. Tidak ada yang dapat merintangi pengetahuan Sang Buddha melalui pandangan terang
10. Tidak ada yang dapat merintangi Kebebasan Sang Buddha
11. Tidak ada yang dapat menghalangi upaya Sang Buddha
12. Tidak ada yang dapat menghalangi Sang Buddha dalam mengajarkan Dhamma
13. Tidak ada unsur kelengahan ataupun sifat main-main dalam diri Sang Buddha
14. Sang Buddha tidak berisik
15. Sang Buddha tidak menunjukkan reaksi jasmani sehubungan perasaan gembira
16. Sang Buddha tidak pernah terburu-buru dalam setiap tindak tanduknya, selalu tenang dan terkontrol.
17. Sang Buddha tidak terlibat dengan kegiatan yang tidak berguna
18. Sang Buddha tidak pernah bersikap tidak peduli yang didasarkan kegelapan batin.

Demikianlah daftar kekuatan Sang Buddha Gotama yang tentunya juga merupakan daftar kekuatan standar bagi setiap Sammasambuddha dari segala masa.
Batin Orang Biasa.
Akusala 14 (abhidhamma/cetasika).
1.      Mohacatuka ;
Moha               : kebodohan batin.
Ahirika             : tidak malu berbuat jahat.
Anottapa          : tidak takut akibat perbuatan jahat.
Uddhacca         : kegelisahan.

2.      Dosa catuka
Dosa                 : kebencian
Issa                  : cemburu
Macchariya       :  pelit
Kukkuccha       : cemas, tidak tenang   

3.      Lobhacatuka/papanca dhamma  ;
Lobha   : keserakahan.
Dhitti   : pandangan salah.
Mana    : kesombongan.

4.      thiduka/endtri ;
Thina   : malas.
Middha : lamban.

5.      Vicikiccha ;
Vicikiccha  : keragu-ragua

Siswa sang buddha yang sudah mencapai kesucian (siswa laki-laki).
Sangha Bhikkhu:
1. Yang Ariya SARIPUTTA, Terkemuka dalam Kebijaksanaan
2. Yang Ariya MOGGALLANA, Terkemuka dalam Kekuatan Gaib
3. Yang Ariya ANANDA, Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma
4. Yang Ariya MAHA KASSAPA, Terkemuka dalam Pelaksanaan Latihan Keras
5. Yang Ariya ANURUDDHA, Terkemuka dalam Mata Dewa
6. Yang Ariya UPALI, Terkemuka dalam Menjaga Sila
7. Yang Ariya RAHULA, Terkemuka dalam melaksanakan Kebaikan

SISWA-SISWA UTAMA SANG BUDDHA (THERI)
1. Yang Ariya Maha Pajapati Gotami Theri
Berasal dari suku Koliya, pada waktu Mahà Pajàpati Gotami dilahirkan, ada seorang peramal yang meramalkan bahwa jika besar nantiia akan menjadi pemimpin dari suatu perkumpulan yang akan mempunyai banyak pengikut. Dan oleh sebab itu ia diberi nama dengan “Pajàpati”, yang mempunyai arti pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sedangkan “Mahà” yang berarti luar biasa.
Mahà Pajàpati Gotami dan Màya, merupakan kakak beradik yang telah menikah dengan Raja Suddhodana, dan akhirnya mereka tinggal bersama di Kapilavattu. Tetapi Ratu Màya yang merupakan kakak dari Mahà Pajàpati Gotami, hamil terlebih dahulu dan kemudian melahirkan Pangeran Siddharta, tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddharta, Ratu Màya-pun meninggal dunia. Karena sudah menjadi suatu tradisi maka Mahà Pajàpati Gotami menggantikan kakaknya, menjadi Permaisuri dari Raja Suddhana. Walaupun sebagai ibu tiri, tapi beliau menyusui dan mengurus Pangeran Siddharta seperti anaknya sendiri, dan kemudian Mahà Pajàpati Gotami melahirkan dua orang anak, yaitu: Sundari-Nanda dan Nanda.
Mahà Pajàpati Gotami adalah wanita yang pertama kali diterima dalam pasamuan Bhikkhuni. Yang diterima oleh para Bhikkhu sesuai dengan peraturan yang telah diajarkan Sang Buddha.(Delapan Peraturan Utama<Aññhasila>).

2. Yang Ariya Khema Theri
Khemà berasal dari desa Sagala, Magadha salah satu keluarga yang sangat berkuasa. Selain itu ia juga cantik, kulitnya berwarna kuning keemasan dan kecantikan Khemà tersebut membuat Raja Bimbisara meminang dan menjadikannya sebagai permaisuri. Ratu Khema, amat memuja kecantikan wajahnya. Namun ia pernah mendengar bahwa Sang Buddha mengatakan bahwa kecantikan bukan hal yang utama, dan karena itu Ratu Khema menghindar untuk berjumpa dengan Sang Buddha. Raja Bimbisara mengerti sikap Ratu Khema terhadap Sang Buddha, ia juga mengetahui betapa istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya, lalu meminta pengarang lagu untuk menciptakan sebuah lagu yang isinya memuji keindahan hutan Veluvana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.
Ketika Ratu Khema mendengar lagu tersebut menjadi penasaran, karena hutan Veluvana yang digambarkan sebagai suatu tempat yang indah itu belum pernah ia dengar dan lihat sendiri.
"Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?" , tanya Ratu Khema kepada para penyanyi.
"Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang tentang hutan Veluvana", jawab mereka.
Setelah mendengar lagu dari penyanyi tersebut Ratu Khema lalu menjadi ingin sekali mengunjungi hutan Veluvana.

3. Yang Ariya Kisa Gotami Theri
Seorang gadis yang berasal dari sebuah keluarga miskin di kota Savatthi, nama yang sebenarnya “Gotami”. Akan tetapi karena tubuhnya yang kurus maka dia dipanggil dengan nama “Kisà”, sehingga setiap orang yang melihatnya berjalan dengan badannya yang tinggi dan kurus, tak seorang pun dapat melihat kebaikan yang ada dalam dirinya.Kisa Gotami sulit mendapatkan suami karena miskin dan tidak memilik daya tarik. Namun secara tak terduga kebaikan Kisa Gotami terlihat oleh seorang pedagang kaya yang menganggap bahwa kebaikan tidak dapat dilihat dari penampilan luar saja. Pedagang kaya itu kemudian menikahi Kisa Gotami.

Kisa Gotami tidak menduga ternyata keluarga suaminya memandang rendah dirinya karena kasta, kemiskinan, dan penampilan dirinya. Hal-hal tersebut membuat Kisa Gotami sangat menderita, terutama karena suaminya tercinta harus menghadapi konflik antara orang-orang yang ia sayangi, yaitu orangtua dan isterinya.

Waktu terus berlalu, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pernikahannya itu. Kisa Gotami mulai diterima dan dihormati oleh seluruh keluarga suaminya. Dia sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, anaknya tersebut meninggal dunia ketika ia baru saja belajar berjalan. Kematian anaknya itu membuat Kisa Gotami sangat sedih dan amat takut.
"Akankah keluarga suamiku memandang rendah dan menyalahkan diriku atas semua yang telah terjadi?"
"O, tidak, aku harus berbuat sesuatu", pikirannya amat kalut.

Kejadian tersebut membuat Kisa Gotami menjadi gila, apalagi dia tidak pernah melihat kematian sebelumnya. Kisa Gotami tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal, dia menganggap anaknya hanya sakit dan harus mendapatkan obat untuk menyembuhkannya.

Dengan menggendong anaknya, Kisa Gotami meminta obat dari rumah ke rumah
"Tolong..., oh tolonglah, berikanlah obat untuk anakku yang sakit ini", ucapnya dengan penuh pengharapan.

4. Yang Ariya Patacara Theri
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.

Patacara merupakan putri seorang saudagar kaya dari Savatthi. Ia sangat cantik. Orangtua Patacara sangat menyayangi dan menjaganya dengan ketat. Oleh karena itu ketika Patacara menginjak umur 16 tahun, ia selalu dikelilingi oleh beberapa penjaga, untuk melindunginya dari gangguan para pemuda. Karena selalu dijaga oleh para penjaga dan dikelilingi para pelayan di rumahnya, Patacara terlibat hubungan asmara dengan salah seorang pelayan di rumahnya. Hubungan tersebut berlangsung tanpa diketahui oleh orangtua Patacara.

Pada suatu hari, orangtua Patacara merencanakan pernikahannya dengan seorang pemuda dari golongan yang sederajat. Mengetahui hal tersebut, membuat Patacara menjadi sangat terkejut. Patacara tidak mau menikah dengan pemuda pilihan orangtuanya, karena itu ia melarikan diri meninggalkan kota bersama kekasihnya, pelayan orang tuanya, pergi melalui pintu gerbang utama, dan tinggal di sebuah desa kecil, jauh dari Savatthi.

5. Yang Ariya Bhadda Kapilani Theri
Setelah melihat bahaya kehidupan dunia, kami berdua menjadi pertapa dengan memusnahkan kekotoran batin dan kami mencapai Nibbana

Bhadda Kapilani dilahirkan di dalam keluarga yang makmur dari suku Kosiya. Bhadda tumbuh menjadi dewasa di Sagala, ibukota dari kerajaan Madda. Pada suatu hari, ketika Bhadda masih kecil, ia melihat seekor burung gagak memakan serangga dan serangga tersebut kelihatan sangat menderita bergeliat-geliut diantara benih wijen kering. Kejadian tersebut sangat menakutkan Bhadda. Tetapi yang lebih menakutkan lagi ketika beberapa anak yang lebih tua mengatakan bahwa kematian serangga tersebut merupakan kesalahan Bhadda. Walaupun kejadian tersebut terlihat biasa, tetapi tidak menurut Bhadda. Semenjak kejadian itu, Bhadda mengambil keputusan untuk melepas hidup keduniawian.

6. Yang Ariya Sona Theri
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang penuh dengan semangat. Sona adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai sepuluh orang anak. Beliau merawat, mengasuh, membesarkan, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk anak-anaknya.Suami Sona adalah pengikut Sang Buddha, ia belajar banyak mengenai kehidupan. Setelah beberapa tahun menjadi kepala rumah tangga, suami Sona memutuskan untuk terbebas dari belenggu kehidupan dengan cara menjalani kehidupan suci. Dengan persetujuan Sona sebagai isterinya, suami Sona meninggalkan keluarganya, menjalani kehidupan suci dan ditahbiskan (upasampada) sebagai bhikkhu. Sona menjadi orang tua tunggal yang menghidupi dan merawat kesepuluh anak-anaknya.
Waktu berlalu, Sona telah tua, dan anak-anaknya telah berkeluarga. Sona banyak menghabiskan waktunya pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Walaupun demikian Sona yang telah tua, merasa takut dan cemas menghadapi hari tuanya. Sona merasa ia hanya menjadi beban bagi keluarga anak-anaknya saja. Sona takut akan kesepian, ditinggalkan oleh anak-anaknya.

7. Yang Ariya Ambapali Theri
Demikianlah tubuh ini. Sekarang berkeriput, tempat berbagai rasa sakit bersemayam, rumah tua dengan plesteran dinding yang mengelupas. Ucapan Pembabar Kebenaran tidaklah salah.Pada suatu pagi, seorang tukang kebun dari Kerajaan Licchavi di Vaseli, menemukan seorang bayi perempuan terbaring di bawah pohon mangga dan memberikannya nama. Ambapali, yang berasal dari kata amba (mangga) dan pali (garis atau batang).Kemudian Ambapali tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.Banyak pangeran dari Licchavi ingin menikahinya. Mereka saling bertengkar ingin menjadikan Ambapali sebagai isteri. Untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut, mereka berdiskusi dan sepakat memutuskan, "Biarlah Ambapali menjadi milik semua orang."

Dengan demikian, Ambapali menjadi wanita penghibur. Dengan sifatnya yang baik, dia melatih ketenangan dan kemuliaan. Ambapali sering memberikan dana dalam jumlah besar dalam setiap kegiatan amal. Walaupun Ambapali seorang wanita penghibur, namun dia terlihat seperti ratu yang tak bermahkota di Kerajaan Licchavi itu.

Ketenaran Ambapali menyebar dan terdengar oleh raja Bimbisara dari Magadha. Kemudian Raja Bimbisara menemuinya, Beliau sangat terpesona akan kecantikannya. Terjalinlah hubungan diantara Raja Bimbisara dengan Ambapali, dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki.

Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesali dan tinggal vihara di hutan mangga. Ambapali datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha memberikan khotbah kepada Ambapali. Keesokan harinya Ambapali mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk datang ke rumahnya.

Kesucian merupakan sesuatu yang bukanlah hal mudah untuk digapai oleh seseorang dengan hanya menjalani suatu ritual tertentu. Kesucian dalam agama Buddha sudah menjadi suatu bagian dari pada hidup sesuai dengan Dhamma yang diajarkan oleh Buddha. Buddha bersabda :
‘” Dengan perbuatan,pengertian, dan kebajikan
    Dengan sila dan hidup suci
    Dengan cara inilah orang-orang menjadi suci
    Dan bukan karena keturunan dan harta kekayaan”.
Dalam hal ini kesucian seharusnya dipahami sebagai Nibbana, yang terbebas dari segala kekotoran batin, yang sungguh-sungguh murni. Adapun cara yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mencapai suatu tingkat kesucian yaitu dengan menjalankan jalan mulia berunsur delapan, yang terdiri dari pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar,usaha benar perhatian benar dan kosentrasi benar. Apabila dikelompokkan yaitu dua yang pertama digolongkan sebagai kebijaksaan (panna) tiga berikutnya sebagai kesusilaan (sila) dan tiga terahir adalah kosentrasi (Samadhi). Terdapat empat tingkatan dalam pencapaian kesucian yaitu:
1.      Sotapati (pemasuk arus)
2.      Sakadagami (yang kembali sekali)
3.      Anagami (tidak kembali lagi)
4.      Arahat (kesempurnaan dalam kebijaksanaan)
Didalam pencapaian pemasuk arus Sotapati dan sakadagami yaitu dengan melaksanakan sila atau ditunjukan dengan sila. Sedangkan Anagami ditunjukkan dengan Kosentrasi dan Arahata dengan kebijaksanaan.
1.      Sotapati (pemasuk arus)
Pemasuk arus adalah masuk kedalam jalan yang tidak berbalik kembali menuju kepembebasan dan kesadaran yang mengalami pencapaian tersebut adalah kesadaran jalan pemenang arus. Arus atau sota terdiri dari jalan mulia berunsur 8. Untuk mencapai tingkatan ini yaitu dengan melenyapkan:
1)     vicikicha (keragu-raguan).
2)     sakayaditthi (pandangan salah mengenai aku).
3)     Silabataparamasa (kemelekatan ritual dan upacara yang dianggap dapat membawa kebebasan).
 Kesadaran jalan ini menghilangkan secara tetap permanen 5 jenis kesadaran buruk yaitu,
1)     Ditthigatasampayutta citta 4,
2)     Vicikichasampayutta citta 1.

2.      Sakadagami (yang kembali sekali)
Orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi. Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu  samyojana) yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicch, dan (3) silabbata-paramasa dan telah melemahkan bentuk-bentuk batin yang kasar dari nfsu keinginan indriawi (kamaraga) dan niat jahat ( byapada).
3.      Anagami (tidak kembali lagi)
Orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa. Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana. Anagami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana) yaitu 1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicch, (3) silabbata-paramasa (4) kamaraga (5) byapada.


4.      Arahat
Kesadaran ini menghancurkan10 belenggu batin yang halus yaitu kemelekatan pada kehidupan alam materi halus (Ruparaga) kemelekatan pada kehidupan alam tanpa materi (Aruparaga), ia juga memotong kesombongan (mana), Uddhaca (kegelisahan), Kegelapan batin (Avijja) dan kesadaran ini juga memotong sisa dari jenis kesadaran tidak baik yaitu ditthigatavipayutta 4 dan uddhacasamapyutta 1.

Dalam usahanya untuk mencapai penerangan sempurna, Buddha melakukan upaya dengan melatih diri dengan mutlak pantang makan. Namun pada saat itu dewa berkata :
“jangan mempraktekkan mutlak pantang makan secara total, tuan yang baik. Jika anda mempraktekannya kami akan menuangkan sari surgawi melalui pori-pori tubuh anda. Dengan demikian anda akan bertahan”. Lalu buddha berpikir dengan makan sedikit demi sedikit, sehingga tubuhnya menjadi kurus sekali. Apa yang dilakukan tidak membawanya kepada suatu tingkat kesucian. Dalam hal pakaian Buddha bersabda:
“ walaupun seseorang dengan mewah dihiasi, jika ia berjalan dengan damai,
Jika ia tenang, mengalahkan nafsunya dengan pasti dan bersih, dan jika ia menahan diri dari melukai makhluk hidup apapun, orang itu adalah brahmin, orang itu adalah pertapa,orang itu adalah Bhikkhu.

Agama Buddha Bukan Religius Berhala
Banyak orang sering menyebutkan secara keliru bahwa umat Buddha melakukan sembahyang di vihara. Untuk itu, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu istilah `sembahyang' yang sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu`sembah' berarti menghormat dan `hyang' yaitu dewa. Dengan demikian,`sembahyang' berarti menghormat, menyembah para dewa. Apabila `sembahyang' diartikan seperti itu, maka umat Buddha sesungguhnya tidak melakukan sembahyang. Umat Buddha bukanlah umat yang menghormat maupun menyembah para dewa. Umat Buddha mengakui keberadaan para dewa-dewi di surga, namun umat tidak sembahyang kepada mereka. Umat Buddha juga tidak `berdoa' karena istilah ini mempunyai pengertian ada permintaan yang disebutkan ketika seseorang sedang berdoa.
Umat Buddha tentu saja tidak pernah meminta kepada arca Sang Buddha maupun kepada pihak lain. Keterangan ini jelas menegaskan bahwa umat Buddha bukanlah penyembah berhala karena memang tidak pernah meminta-minta apapun juga kepada arca Sang Buddha, arca yang lain bahkan kekuatan di luar manusia lainnya. Daripada disebut `sembahyang' maupun `doa', umat Buddha lebih sesuai dinyatakan sedang melakukan `puja bakti'.
Istilah puja bakti ini terdiri dari kata `puja' yang bermakna menghormat dan `bakti' yang lebih diartikan sebagai melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan puja bakti, umat Buddha melaksanakan tradisi yang telah berlangsung sejak zaman Sang Buddha masih hidup yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan tenang, melakukan namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormat kepada lambang Sang Buddha, jadi bukan menyembah patung atau berhala.
Kebiasaan bersujud ini dilakukan karena Sang Buddha berasal dari India.
Sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu di berbagai negara timur termasuk India bahwa ketika seseorang bertemu dengan mereka yang dihormati, maka ia akan melakukan sujud yaitu menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan menunjukkan upaya untuk mengurangi keakuan sendiri. Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk melakukan tindakan itu. Tidak masalah, karena sebentuk arca tidak mungkin menuntut dan memaksa seseorang yang berada di depannya untuk bersujud.
Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk   melakukan tindakan itu.
 Kalimat Ini sudah jauh sekali dari pemahaman Budhisme, kalau orang-orang  beranggapan bahwa menyembah itu hanya sebagai tradisi tanpa dasar pemahaman yang kuat mengenai arti dari menyembah maka ini SUATU KEMEROSOTAN BESAR DALAM BUDDHA DHARMA.

Daftar Isi

Buddhagosa Bhadantacariya, Jalan Kesucian 1,Mutiara Dhamma, Bali,:1997
Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajarannya II, Yayasan DhamamaDipa Arama, Jakarta:1992
Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajarannya I, Yayasan DhamamaDipa Arama, Jakarta:1992
Sumber : http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Delapan-Jalan-Kemuliaan.htm