Kamis, 13 Juni 2013

Diri sendiri



Kota Batu, 24 Maret 2013

            Mereka yang ingin memahami kebenaran sejati, maka ia harus
memahami kebenaran bagi dirinya sendiri. Setelah ia tahu tentang suatu kebenaran, maka ia selayaknya kuat dan tegar apabila kritikan menghampirinya, karena kritikan merupakan suatu evaluasi dalam meningkatkan mutu hidup, apabila kritikan ditanggap secara negatif, maka kritikan itu menyakitkan, melukai perasaan dan sulit untuk diterima. Sebaliknya kita jangan terlena kepada pujian, karena pujian merupakan pendukung motivasi diri untuk lebih dapat ditingkatkan menjadi kualitas hidup, apabila pujian dijadikan sebagai pedoman kesombongan, maka diri ini akan menganggap “Akulah yang terhebat,Akulah....,....”, sehingga manusia akan lupa dengan menyadari siapa dirinya?!
            Jika seseorang tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri, maka pada saat kritikan datang yang menyatakan bahwa ia buruk, maka ia akan merasa dirinya buruk, jika seseorang menyatakan diri kita buruk, maka kita menanggapinya dengan cara, kita melakukan pengamatan diri, apabila tidak benar kita hiraukan, sebaliknya benar kita belajarlah dari mereka.
            Dalam dua permasalahan di atas, mengapa harus marah? jika anda dapat melihat segala sesuatu seperti ini, anda benar-benar berada dalam kedamaian. Tidak ada yang salah, yang ada hanyalah kebenaran, karena anda mampu menjadikan kritikan sebagai evaluasi perbaikan diri, sehingga dalam kegiatan selanjutnya diharapkan membawa pengendalian diri jauh lebih baik, dan pujian juga sebagai penyemangat diri dalam menjalankan aktifitas
            Seorang yang bijak, mereka akan berfikir dan melakukan pembinaan diri terlebih dahulu, untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya, untuk meluruskan hatinya, ia terlebih dahulu memantapkan tekadnya, untuk memantapkan tekadnya, maka ia terlebih dahulu mencukupi pengetahuannya, untuk mencukupi pengetahuannya, maka ia meneliti hakikat setiap perkara, dengan meneliti hakikat setiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya, dengan cukup pengetahuannya, akan dapat memantapkan tekadnya, dengan memantapkan tekadnya, maka ia dapat meluruskan hatinya, dengan hati yang lurus, maka ia dapat membina dirinya sendiri, sehingga dapat tercapailah tujuan yang damai dan harmonis.
            Jika anda betul-betul menggunakan alat kebenaran, anda tidak perlu merasa iri terhadap orang lain. Oleh karena itu, orang malas hanya ingin mendengarkan dan percaya, kita akan bisa mandiri, mampu menghidupi diri sendiri dengan usaha sendiri. Terkadang kita menemukan suatu masalah dalam hidup, hal tersebut merupakan suatu tantangan yang perlu seseorang pecahkan, sehingga menemukan solusi dalam masalahnya tersebut.
            Tidak sedikit orang mengalami stres ataupun depresi ringan hingga yang berat, apabila mereka tidak mampu melewati problem itu, maka bisa saja jalan pintas yang dianggap pantas bisa mereka lakukan, yaitu bunuh diri, maka sebelum problem yang muncul didalam diri berlarut, ada upaya untuk mencegahnya dengan cara seseorang dapat mengolah diri sendiri melalui pengembangan batin dengan mendalami spritualitas sebagai kunci atau pondasi penguat pedoman kehidupan ini.
            Batin seseorang yang rapuh, sangat mudah dirobohkan, ibarat pohon yang tidak memiliki akar yang kuat, maka pada saat pohon itu diterjang angin, pohon tersebut akan tumbang dengan mudah, sebaliknya apabila seseorang telah menanamkan keyakinan yang kuat pada pemahaman agama dan terpenting telah mampu mempraktikkan ajaran agamanya dengan baik, benar dan bijaksana, maka kerapuhan hati terhadap problem apapun dapat dilewati dengan tenang dan damai, diibarat pohon yang telah tertanam dengan kuat, hingga akarnya dapat menjalar keatas tanah, sehingga angin maupun badai tidak mampu mengguncangkannya.
            Ada sebuah cerita, seorang anak tunggal dari keluarga yang sederhana, Ayah dan ibunya memiliki keyakinan yang berbeda dengannya, memiliki harapan agar anaknya dapat bekerja, berumah tangga, dan tidak boleh terlalu mendalami keyakinan yang dianut oleh anaknya, kedua orang tuanya tersebut sangat mengkhawatirkan apabila anaknya melangkah untuk tidak berumah tangga menjadi seorang Imam dari agamnyanya itu. Sehingga pada saat remaja anak ini dibatasi ruang pergaulannya terutama dalam hal keagamaan, pada sewaktu ketika anak tersebut melangkah untuk menempuh pendidikan diluar pulau tempat mereka tinggal.
Pada saat anak ini menempuh pendidikan, kedua orang tuanya hanya bisa meratapi dan berharap agar si anak dapat melepaskan ikatan keagamaannya, dengan cara ditelepon sepanjang saat, tentunya si anak memiliki komitmen bahwa agama adalah hak asasi setiap orang dan tidak dapat diganggu gugat karena hal tersebut telah tercatat dalam UUD 1945. usaha dari kedua orang tuanya terus menghantui si anak, agar anaknya dapat memenuhi keinginan mereka, sedangkan pada kenyataan kedua orang tuanya sudah tidak bersama, tidak pernah membiayai pendidikan anaknya dan belum tentu mereka dapat menjamin si anak, apabila melepaskan pendidikan keagamaannya bisa memiliki masa depan yang cerah. si anak terus berjuang untuk meluluskan pendidikannya, dan apabila kekuatan kebaikannya mendukung anak tersebut akan meneruskan cita-cita mulia menjadi Imam, meskipun kedua orang tuanya tidak mendukung, kerena ini sebuah tekad yang muncul dari sebuah panggilan hati nurani yang paling dalam.
Sebagai orang tua yang bijaksana tentunya memiliki toleransi dalam beragama dan memberikan kebebasan bagi anak untuk memilih dan memutuskan masa depan yang akan dia jalankan, bukan sebaliknya orang tua menjadi hakim yang memutuskan dan menuntut anak seperti apa yang diinginkan. Pada dasarnya diri sendiri terbentuk menjadi baik maupun tidak tergantung dari lingkungan keluarga, masyarakat yang mempengaruhinya.
Teori Naturalisme diungkapkan oleh seorang filsuf Prancis bernama J.J. Rousseaue. Teori ini mengatakan bahwa setiap anak yang baru lahir pada hakikatnya memiliki pembawaan baik, namun pembawaan baik itu dapat berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Aliran ini juga dikenal sebagai aliran Negativisme.  (H.7) . “Segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam, dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan manusia ”. Seorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, maka anak tersebut harus diserahkan ke alam. Kekuatan alam akan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang terlahir secara alamiah sejak kelahiran anak tersebut. Dengan kata lain J.J.Rousseaue menginginkan perkembangan anak dikembalikan ke alam yang mengembangkan anak secara wajar karena hanya alamlah yang paling tepat menjadi guru.  (H 8).
Diri sendiri adalah sebagai penentu masa depan, karena semua rencana, hingga keputusan hanyalah kita seorang diri yang dapat memutuskan, orang lain hanya sebagai penasehat, bukan hakim dan juga bukan jaksa penuntut, sehingga langkah awal kita agar memiliki sebuah keputusan yang cemerlang adalah kita dapat mengasah dunia spritualitas dengan baik sehingga arah dari masa depan yang berlandas pada rencana dapat terlealisasi dengan harapan yang memuaskan.
 Terus maju....., berkarya untuk alam.... dan salam sukses luar biasa...!!!

Refrensi:
Guttadhammo. 2011. Inspirasi Kehidupan 1. Temanggung.
Susanto, Jusuf. 2007. Kearifan Timur dalam Etos Kerja dan Seni Memimpin. PT. Kompas
Media Nusantara. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar