Sabtu, 09 Agustus 2014

Pengetahuan Sumber Kehidupan (Knowledge The Source Of Life)


Oleh: Sāmaṇera Vimalaseno

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Anavaṭṭhitacittassa
 saddhammaṁ avijānato
pariplavapasādassa
paññā na paripūrati.
     Wisdom  never becomes perfect,
in one whose mind is not steadfast,
who knows not the Good Teaching
        and whose faith wavers.

Orang yang pikirannya tidak teguh,
yang tidak mengenal ajaran yang benar,
yang keyakinannya selalu goyah,
orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya.
(Dhammapada; Citta-vagga: 38)


Pada dasarnya pengetahuan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan seseorang. Banyak orang yang putus sekolah atau bahkan tidak dapat mengenyam pendidikan salah satu faktornya adalah ekonomi. Kemiskinan dapat membuat seseorang menjadi miskin dalam pengetahuan. Tidak sedikit mereka yang hidup dalam garis kemiskinan materi dan kemiskinan intelektual juga berdampak pada kemiskinan akhlak (moral). Terkait dengan pendidikan dijelaskan oleh Ihsan (2005: 2) bahwa pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Seseorang tanpa pendidikan maka mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju sukses, sejahtera, dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.
            Memajukan kehidupan, seseorang dituntut harus menempuh pendidikan menjadi sarana utama yang perlu diperhatikan dalam hidupnya. Semakin tinggi cita-cita manusia semakin menuntut kepada peningkatan mutu pendidikan  sebagai sarana mencapai cita-cita tersebut. Pendidikan bagi bangsa yang sedang membangun seperti bangsa Indonesia saat ini merupakan kebutuhan mutlak yang harus dikembang sejalan dengan tuntutan pembangun setahap demi setahap. Terkait masalah pendidikan juga dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I berkenaan dengan Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1 yang menerangkan bahwa Pendidikan adalah usaha yang sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
            Pendidikan yang ditempuh tidak terlepas dari tenaga pendidik (guru), apabila guru yang profesional dan mengikuti kodetik keguruan, maka guru memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam mendidik, mengajar siswa. Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2008 Tentang Guru, Bab 1 Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam fakta yang terjadi saat ini ada guru yang hanya menjalankan tugasnya sebagai rutinitas profesinya saja.  Terjadinya penurunan akhlak bangsa Indonesia saat ini terkait pendidikan terbukti dari beberapa kasus, seperti contoh kasus guru melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap siswanya, terjadi tawuran antar pelajar, guru, bahkan kepala sekolah memukul siswa dengan alasan memberi pelajaran pada siswa atas kenakalannya di sekolah. Tindakan kriminalitas yang terjadi dengan pelaku seorang pendidik merupakan tindakan yang telah melanggar kodetik keguruan. Seorang guru merupakan panutan bagi banyak orang. Dalam filosofi Jawa, guru adalah gu= diguguh (dipegang) ucapannya, dan ru adalah ditiru prilakunya. Guru yang baik adalah mengarahkan, mendidik siswanya dengan ketulusan yang berjiwa cinta kasih.
            Guru merupakan orang yang terpelajar dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Dalam Buddhisme guru merupakan orang yang berpegang teguh dalam Dhamma, guru secara akademisi, maupun guru dalam spritualitas, seperti yang Buddha jelaskan dalam Nāvā Sutta-Sn bahwa guru yang patut dihormat adalah mereka yang mempraktikkan Dhamma dalam hidupnya, bagaikan para dewa menghormat kepada Indra. Guru yang dihormati itu, karena senang pada muridnya, akan membuat Dhamma menjadi jelas. Guru yang baik sebaiknya harus menjadi guru yang sudah benar-benar teruji dalam Dhamma, minimal sudah mempelajari Dhamma, pernah mengikuti latihan pembinaan diri (Pabbajja), sering melatih diri dalam meditasi, bukan guru yang sekedar tahu isi buku agama Buddha saja. Untuk dapat disenangi oleh muridnya tentu guru harus memiliki prilaku yang baik, terkait sikap yang baik Buddha menjelaskan dalam Kiṁsῑla Sutta-Sn bahwa orang (guru) dengan watak, prilaku, tindakan seperti apa, yang akan menjadi mantap sehingga mencapai kesejahteraan tertinggi, adalah melatih diri dalam berprilaku benar.
            Terkadang seseorang menjumpai guru yang tidak memiliki pengetahuan akan tetapi berlagak seperti memiliki pengetahuan yang sempurna, maka hal demikian tidak dipuji oleh Buddha. Hal tersebut Buddha jelaskan dalam Nāvā Sutta-Sn; 3 bahwa orang yang mengikuti guru yang tolol dan rendah, yang belum menyadari makna Dhamma, dan yang iri hati, akan mendekati kematian tanpa memahami Dhamma dan tidak terbebas dari keraguan. Buddha juga mengritik kepada guru spritual yang patut dicela yang dijelaskan dalam Lohicca Sutta-DN. bahwa ada tiga jenis guru di dunia ini layak dicela, dan jika siapapun mencela guru-guru demikian, celaannya adalah pantas, benar, sesuai dengan keyataannya dan tidak salah. Tiga hal itu adalah seorang guru yang telah meninggalkan keduniawian dan menjalankan kehidupan tanpa rumah, tetapi sudah maupun belum mencapai buah pencerahan, dan ajarannya dicela maupun dipuji, diperhatikan, didengar ataupun tidak oleh siswanya, Buddha tetap mengatakan guru seperti ini patut dicela. Guru yang dipuji dan patut dihormati tidak patut dicela adalah seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna, serta murid yang diajarkan juga mencapai keluhuran, maka guru itu adalah yang di dunia ini tidak boleh dicela.
            Pengetahuan merupakan penuntun ke dalam kehidupan masing-masing. Pengetahuan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam pendidikan dan guru. Pada zaman ada dan sebelum Buddha sudah banyak pengetahuan yang diajarkan oleh para guru-guru di India. Hal ini terbukti dalam Brāhmajāla Sutta-DN dinyatakan oleh Buddha ada 62 pandangan salah, sedangkan Buddha mengajarkan Dhamma untuk menembus pengetahuan tertingggi adalah Nibbāna. Terkait adanya guru-guru besar yang ada di India pada zaman Buddha tertulis pada Samaññaphala Sutta-DN bahwa Pakudha Kaccyāna, Sañjaya Belaṭṭhaputta, dll. Masing-masing guru agama ini memiliki metode berbeda-beda untuk mendapatkan pengetahuan. Dari para guru tersebut berselisih paham (konflik) akan pandangannya masing-masing, dan menganggap pengetahuannya yang paling benar, dan pengetahuan lainnya salah.
            Khotbah Buddha dalam sutta yang sama dijelaskan bahwa terdapat dua kaum yang besar dizaman Buddha adalah kaum tradisionalis dan kaum rasionalis, serta empiris. Kaum tradisionalis adalah menyandarkan diri pada kitab suci, seperti Veda. Sedangkan kaum Rasionalis bermain pada pemikiran rasionalis (takka), serta Buddha menolak dirinya dianggap dalam kategori ketiga, yaitu kaum empiris (pengalaman sebagai pengetahuan). Terkait mengenai pengetahuan Buddha juga pernah menyampaikan sebuah Sutta kepada kaum Kālāma, disebut Kesamutti Sutta atau dikenal Sutta populer adalah Kālāma Sutta; An: III; 65. Dalam Sutta tersebut dijelaskan ada sepuluh sumber pengetahuan yang tidak dipercayai begitu saja tanpa adanya pengalaman diri. Setelah seseorang menyelidiki, mengalami sendiri dan pengetahuan itu membawa manfaat, kesejahteraan bagi diri sendiri dan makhluk lain, maka dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan, apabila tidak sebaliknya harus ditinggalkan.
            Buddha mengkritik sumber-sumber pengetahuan yang muncul karena tradisi (anussava) dan pada sumber pengetahuan lainnya. Hal ini dijelaskan dalam Caṅki Sutta-MN yaitu ada lima hal yang memiliki dua akibat dalam kehidupan ini, yaitu pengetahuan yang berbasis pada keyakinan (saddha), kesukaan (ruci), tradisi (anusava), sesuatu yang telah direnungkan (ākāraparivitakka), dan pemikiran teori yang sudah disetujui (diṭṭhinijjhānakkhantiya). Buddha menyatakan meskipun Beliau telah telah mendengar secara mendalam terkait tradisi, hal itu bisa saja kosong, hampa, dan tidak benar. Sebaliknya Buddha menyatakan apa yang Beliau dengar bukan tradisi yang dalam, dapat juga sesungguhnya sesuai dengan fakta, benar dan tidak menyimpang pada umumnya. Sehingga pada dasarnya sebagai manusia yang bijaksana, tidak selayaknya menyimpulkan apa yang diketahui itu sebagai pengetahuan pribadi yang paling benar, dan pengetahuan milik orang lain adalah salah. Orang bijak akan mengatakan bahwa pengetahuan yang ia miliki adalah sebatas yang ia ketahui, cukup itu saja, tanpa harus membuat kesimpulan bahwa yang ini benar, sedangkan yang itu salah. Sehingga diharapkan pengetahuan yang bijaksana akan menjadikan pengalaman hidup yang berarti dalam masyarakat.

            Buddha menyatakan bahwa pengetahuan yang Beliau ajarkan sangat jauh berbeda dengan pengetahuan yang diajarkan oleh kaum-kaum lainnya. Pada Zaman di India banyak pertapa yang melakukan praktiknya masing-masing dan mendapatkan pengetahuan (abhiñña), akan tetapi karena latar belakang pengetahuan dan tujuan yang berbeda, maka mereka menggunakan kemampuannya untuk kepentingan pribadi dan tidak menghantar pada kesucian. Berbeda dengan Buddha, dijelaskan dalam Ariyapariyesana Sutta-MN bahwa saat Beliau masih seorang pertapa, Beliau mencari pengetahuan untuk membebaskan dirinya, dan makhluk lain dari kelahiran, usia tua, sakit, dan mati. Beliau bertemu kedua gurunya, dan belajar serta tidak membawa pengetahuan yang diinginkan. Setelah dengan kebijaksanaan Beliau berlatih sendiri dan mencapai kesempurnaan menjadi Buddha dengan usahannya sendiri.
            Buddha adalah seorang pendidik Dhamma yang berbeda dengan pendidik yang ada dizaman itu, maupun dizaman sekarang. Buddha dengan kesungguhan hatinya mengajarkan Dhamma sehingga siswanya mampu menembus Dhamma mencapai Nibbāna. Terkait akan hal itu dijelaskan dalam Sabbāsava Sutta, Buddha menekankan bahwa pencapaian pengetahuan tertinggi (Nibbāna) dengan melenyapkan kekotoran batin adalah dengan mereka yang mengetahui, melihat, dan bukan pada seseorang yang tidak mengetahui, dan tidak melihat. Orang saat ini hanya pintar dalam intelektual seperti berlogika, pandai berdebat, seperti di faceebook, hal itu tidak membawa pada pencapaian Nibbāna, akan tetapi hanya mengukur kemampuan kepintaran yang nantinya adalah memintarkan orang lain yang bertautan dengan akusala citta, maupun akusala cetasika.
            Pengetahuan dalam agama Buddha memiliki berbagai macam tingkatan adalah sañña,viññaṇa, abhiñña, pariññā, dan pañña. Diantara kelima pengetahuan sañña,dan viññaṇa tidak mengarah pada pembebasan, akan tetapi harus disikapi dengan bijaksana sehingga tidak menyebabkan muncul belenggu dan penderitaan. Sedangkan abhiñña, pariññā, dan pañña mengarah pada pencapaian Nibbāna. Dalam Madhupiṇḍika Sutta terkait dengan enam landasan indera beserta objek-objeknya. Apabila prosesnya tidak diantisipasi berkenaan dengan pikiran, maka akan terjadi sumber konflik dan penderitaan. Terkait dengan bahayanya persepsi dijelaskan juga dalam Suttanipata syair 853 disebutkan bahwa mereka yang masih melekat pada persepsi dan pandangan akan terus bertengkar di dunia ini. Dijelaskan pula dalam Aṅguttara Nikāya; II: iv bahwa sumber pertentangan (konflik) terjadi antara para pertapa dengan para pertapa karena persepsi, pandangan dengan menganggap pengetahuannya paling benar, dengan mengatakan pengetahuan lainnya salah, sedangkan konflik dalam rumah tangga adalah disebabkan oleh keinginan. Hanya Buddha sebagai guru yang bebas dari keduanya.
            Sebagai umat Buddha yang telah mengenal Dhamma, selayaknya sudah tiba saatnya untuk terus mempelajari Dhamma (pariyatti), mempraktikkan Dhamma (patipatti), dan menembus Dhamma (pativedha) dengan pengalaman diri sebagai sumber pengetahuan yang absah/ murni. Pengetahuan yang absah akan membawa pada sumber kehidupan yang bermanfaat, menuntun seseorang menjadi bijaksana, terbebas dari kekotoran batin (kilesa), serta dapat memperoleh pengetahuan sejati yaitu Nibbāna.


Daftar Pustaka:

Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya
                              Vihāra Bodhivaṁsa Klaten:
                               Wisma Dhammaguṇa.

Bodhi. 2010. Tipiṭaka Tematika. Tanpa kota:
                               Ehipassiko Foundation.

Ihsan, Fuad. 2005. Dasar-Dasar Kependidikan
                           Jakarta: PT Rineka Cipta.

-Kalupahana, J. David. 1976. Filsafat Buddha (Sebuah Analisis Historis).
                               Terjemahan oleh Hudaya Kandahjaya. 
                               1985. Jakarta: Elangga.

-Mon, Mehm Tin. 2012.  The Essence of Buddha Abhidhamma.
                               Jakarta: Hadaya Vatthu.

-Rasidi. 2009. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 
                                Jakarta: Cv. Naga Jawa Berdikari

-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.

-Supandi, J. Cunda. 2010. Tata Bahasa Pāli
                               Tanpa kota: Vidyāvardhana Samūha.

-Tim Giri Mangala Publication 2009. Kotbah-kotbah Panjang Sang Buddha -
                                  Dῑgha Nikāya. Tanpa kota: 
                                  Dhammacitta Press.


-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: 
                                 Bahussuta Society.






           
             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar