Sabtu, 09 Agustus 2014

SIFAT IRI HATI DALAM PERSPEKTIF ABHIDHAMMA


Oleh: Sāmaṇera Vimalaseno
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Issā-macchera-kukkucca-virati-karuṇādayo
Nānā kadāci Māno ca thῑna-middhaṁ tathā saha.
Yathāvuttānusārena sesā niyatayogino
Saṭgahaṭ ca pavakkhāmi-tesaṁ dāni yathārahaṁ
(Abhidhammatthasaṅgaha).
artinya:
Keiri-hatian, kekikiran, penyesalan, berpantang, welas asih, dan sebagainya (yaitu turut bersuka cita), dan kecongkakan muncul secara terpisah dan partikular. Begitu Pula dengan kemalasan dan kelambanan namun dalam kombinasi.

         Manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, serta tidak bahagia dengan kebahagiaan orang lain merupakan sifat iri hati (issa). Sifat iri hati dengan merasa tidak suka atas kebahagiaan orang lain, serta secara tidak langsung orang tersebut telah menanamkan sifat kebencian (dosa) dalam dirinya sendiri. Terkait dengan sifat keiri-hatian terdapat dalam Akusala-cetasika, sifat iri hati ada dalam dosa-cattuka-4 (dosa adalah kebencian, issa adalah keirihatian, macchariya adalah egois, dan kukkuccā adalah kekhawatiran. Apabila dilihat dari kejadian di masyarakat sifat iri hati merupakan suatu tindakan yang hampir menjadi kebiasaan terjadi. Terbukti dengan rasa iri hati ditempat kerja, tidak suka melihat keberhasilan orang lain, sehingga dengan seribu cara orang yang berhasil ditempat kerjanya harus disingkirkan, bahkan dibunuh karena rasa tidak suka atau dendam.
Sifat semacam itu jelas mengandung unsur kebencian (dosa). Terkait dengan sifat benci juga bagian dari akusala-cetasika, yaitu dosa-cattuka. Kebencian yang muncul berkaitan dengan perasaan tidak suka, baik dari diri sendiri, maupun dengan ajakan orang lain. Hal ini dijelaskan dalam akusala-citta, yang terdapat dalam dosamula-citta 2, adalah sebagai berikut Domanassa-sahagataṁ patighasampayuttaṁ asankhārikaṁ, yaitu kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai ketidak-senangan, bersukutu dengan dendam, dan Domanassa-sahagataṁ patighasampayuttaṁ sasankhārikaṁ, yaitu kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan disertai ketidak-senangan, bersukutu dengan dendam. Sifat iri hati tidak terlepas dari sifat dendam yang terjadi dalam diri seseorang. Sifat dendam akan muncul dimana seseorang tidak berhasil mengikuti rasa iri-hatinya terhadap kebahagiaan orang lain.
Rasa iri hati dalam diri seseorang yang terus berkecamuk, merupakan sifat kebencian dengan dikuti perasaan dendam. Domanassa ini adalah vedanā (perasaan), yang disebut Domanassa-vedanā. Domanassa vedana merupakan vedanā cetasika yang mencerap objek tidak baik. Apabila dihubungkan dengan pancakkhandha adalah vedanā-khandha. Seseorang yang memiliki sifat iri hati dengan kebahagiaan orang lain akan berdampak sikap kebencian yang kuat terus terjadi dalam pikiran dan tindakannya. Sikap iri hati merupakan bagian dari perbuatan tidak baik.
Ketidakpuasan terhadap yang diinginkan, seperti selalu ingin menyaingi orang lain dengan cara yang tidak baik. Rasa yang selalu mengejar sikap rasa iri hati juga bertautan dengan sikap tamak atau serakah yang adalah bagian akusala citta, yaitu lobhamula citta. Iri hati sebagai faktor akibat dari adanya sebab sebelumnya, yaitu dengan adanya sebab kontak (phassa) terhadap kebahagiaan, kesuksesan orang lain, setelah adanya kontak yang melihat objek maka perasaan (vedanā) muncul. Kontak merupakan sebab dan disebut sebagai phassa-cetasika, bertautan dengan 32 lokiya-vipāka citta. Setelah seseorang memiliki kontak dengan objek indera dengan keberhasilan orang lain dan diikuti sebab-sebab yang lain dengan ada perbuatan yang tidak baik (akusala) maka vipāka lainnya adalah akusala.
Kontak indera dengan objek, salah satunya adalah mata, dengan adanya rasa tidak suka atau iri hati, maka banyak tindakan yang dapat dirasakan dalam perbuatannya. Kontak juga merupakan kondisi untuk munculnya perasaan. Perasaan (vedanā) merupakan vedana-cetasika dan bertautan dengan 32 lokiya-vipāka citta. Antara phassa dan vedanā muncul secara bersamaan dan terutama phassa menjadi sebab terdahulu, maka rasa iri hati (issa) dapat terjadi karena adanya kontak terhadap sesuatu yang tidak disukai serta munculnya sebagai akibat adalah domanassa-vedanā.
Fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, penulis memiliki suatu pengalaman dalam dunia kerja, sewaktu semasa menjadi umat awam. Saya bekerja pada suatu perusahaan dan memiliki banyak karyawan, saya salah satu karyawan baru pada perusahaan tersebut. Selain bekerja dengan aturan yang berlaku, memiliki tingkah laku yang membuat pimpinan menjadi nyaman, serta pekerjaan yang dikerjakan selesai tepat pada waktunya membuat resah karyawan yang memiliki rasa iri hati pada saya. Merupakan halangan terbesar bagi beberapa sahabat saya yang tidak suka dengan sikap dan cara kerja yang saya lakukan. Wajar saja apabila saya memiliki posisi atau hubungan yang baik dengan pimpinan. Pada suatu saat dimoment yang tepat dengan rasa tidak suka dan sikap iri hati, beberapa karyawan bekerjasama untuk menghambat pekerjaan, sehingga terkesan saya lamban dalam bekerja, mereka menghasut pimpinan dengan menjatuhkan, sehingga rasa tidak suka juga muncul dari pimpinan. Saya merasa tidak nyaman dalam pekerjaan, serta saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu.
Kasus yang terjadi diatas merupakan bagian terkecil dari kasus-kasus besar lainnya dalam masyarakat. Perasaan tidak suka (domanassa-vedanā) kerap terjadi, baik dimanapun, kapanpun, dan siapapun. Tidak menutup kemungkinan bagi kita sebagai puthujana (manusia biasa) memiliki sikap iri hati atas keberhasilan orang lain. Orang yang iri hati biasanya juga memiliki nafsu keinginan untuk gila dipuji, dihormati, padahal itu semua tidak pantas untuk dirinya. Orang yang bekerja dengan ketulusan, kebaikan akan menjadi sasaran orang-orang yang disebut komplotan atau individu yang iri hati. Iri hati tidak terlepas dari adanya 6 nafsu keinginan (taṅhā), salah satunya adanya dhamma-taṅhā (nafsu keinginan terhadap objek pikiran). Pikiran yang tidak baik (akusala mano-kamma) merupakan bagian dari pikiran orang yang memiliki sikap iri hati. Sikap mempertahankan nafsu keinginan berkaitan dengan keiri-hatian akan berdampak pada upādānā (kemelekatan) yang akan memunculkan diṭṭupādānā (kemelekatan pada pandangan salah).
Sikap iri hati harus dapat diatasi dengan cara yang baik. Sehingga dengan adanya tindakan yang baik, sikap iri hati dapat dipangkas secara tuntas. Dalam hidup ini seseorang harus memiliki pengetahuan sehingga pengetahuan akan mendorong seseorang memiliki pikiran yang baik (kusala-citta). Dalam Kāmāvacarasobhana-citta dijelaskan ada mahākusala-citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang maha baik, pikiran baik dapat timbul dalam 31 alam kehidupan. Kesadaran atau pikiran ini dapat menimbulkan kefaedahan dalam mempraktikkan dāna, sῑla serta giat dalam melatih konsentrasi (samādhi). Seseorang yang melatih konsentrasi dalam dirinya maka akan mendapatkan ñaṇa (pengetahuan), yang akan mengahantarkan seseorang mencapai pembebasan atau kebahagiaan tertinggi (Nibbāna).
Sikap iri hati apabila disikapi dengan faktor mental yang baik, maka sifat, pandangan keliru mengenai kepuasan diri akan disikapi dengan bijaksana. Dalam sobhana-cetasika, seseorang harus memiliki sikap saddhā (keyakinan) dari sesuatu yang dikerjakan. Orang lain sukses, bahagia, karena tidak terlepas dari usaha, tekad, dan semangat, selain itu dalam meraih kesuksesan dibutuhkan perhatian murni (sati) dalam mengerjakan sesuatu. Terkadang seseorang mengerjakan sesuatu hanya dengan menggunakan emosional, tanpa menggunakan moral dan intelektual. Ketenangan pikiran (cittapassadhi) sangat dibutuhkan dalam mengikis rasa iri hati atas kebahagiaan orang lain. Selain itu yang terpenting adalah seseorang harus memiliki sikap hiri (malu untuk berbuat jahat), dan ottapa (takut akan akibatnya).
Kesuksesan seseorang tidak diukur dari seberapa besar kita mampu mengalahkan orang lain dengan sikap iri hati, benci, dan dendam. Akan tetapi dengan Tatramajjhattata (kesimbangan batin), kāyapassadhi (ketenangan dari bentuk-bentuk batin atau cetasika khanda), cittapassadhi (ketenangan pikiran), kāya-lahutā (kegembiraan pikiran), citta-mudutā sifat menurut pikiran, kāya-kammaññatā (sifat menyesuaikan diri-dari bentuk-bentuk batin) atau cetasika-khandha (adaptasi dari bentuk mental), citta-kammaññatā (sifat menyesuaikan diri dari pikiran), kāya-pāguññatā (kemampuan dari bentuk-bentuk mental), citta-pāguññatā (kemampuan dari kesadaran), kāyujukatā (ketulusan/ kejujuran dari bentuk-bentuk mental), dan cittujukatā (ketulusan/kejujuran dari kesadaran) akan membawakan sebuah kebahagiaan dan kesuksesan bagi diri seseorang. Bukan dengan rasa benci, iri hati, dendam, dan perasaan yang tidak menyenangkan untuk meraih sebuah kesuksesan dalam hidup.
Selain itu rasa iri hati teerkadang mengeluarkan kata-kata yang menjurus pada ucapan tidak benar, memfitnah, gosip, bahkan kasar. Hal ini dalam virati-cetasika  sangat dibutuhkan dalam menangkal sikap iri hati yang berdampak pada perbuatan yang tidak baik, maka seseorang selayaknya harus mampu berbicara benar (sammā-vācā), sehingga mengkondisikan untuk memiliki perbuatan benar (sammā-kammanta), biasanya orang yang iri hati lebih cenderung untuk melakukan perbuatan yang tidak baik (akusala-kaya kamma). Selain itu keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam berkarir adalah memiliki sammā-ājiva (mata penchariaan benar), selain itu mata pencaharian benar dapat terbebas dari pelanggaran sῑla dan Dhamma. Sikap karunā dan mudita harus dimiliki seseorang dalam hidup bermasayarakat, sikap ini snagat mendukung keharmonisan dan menjauhkan diri dari sikap iri hati (issa). Terpenting dalam hidup ini seseorang harus memiliki kebijaksanaan (Pañña) guna menangkal munculnya pandangan, pikiran yang tidak baik terkait dengan akusala-kamma.

Ref:
Anuruddha. 2011. Panduan Komperhensif Tentang Abhidhamma
                              Karaniya.
Kaharuddin. 2005. Abhidhammatthasaṅgaha. 
                              Vihara Padumuttara: Tangerang.
Mon, Mehm Tin. 2012. The essence of Buddha Abhidhamma. 
                               Yayasan Hadaya Vatthu: Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar