Jumat, 07 Februari 2014

Eling lan Wospodo (Sadar dan Waspada)


Oleh : Samanera Herman Vimalaseno
Mahasiswa STAB Kertarajasa-Batu



Mereka yang telah melakukan yang terbaik,
dan berlatih dalam ajaran yang pernah semua Ku-ajarkan,
siaga dan penuh konsentrasi,
pada waktunya akan pergi melampaui kekuatan kematian.
(Samyutta Nikaya 1.52)

            Eling merupakan satu kalimat dalam bahasa jawa yang berarti ingat, sadar. Orang pada saat sekarang ini adalah selalu lupa dan lengah serta tidak waspada dengan apa yang ia kerjakan. Hal yang kurang wospodo (waspada) itulah yang akan menyebabkan seseorang gagal dalam meraih hidup sukses.
            Kesadaran merupakan modal utama dalam kehidupan, sadar dalam berpikir, sadar dalam berucap dan sadar dalam berprilaku/bertindak. Dari kesadaran yang muncul, maka ia telah waspada dari ketiga pintu indera itu.
Orang yang tidak sadar bahwa ia sedang berpikir, maka tanpa sengaja pula ia akan melontarkan kata-kata sesuai dengan yang ia pikirkan, dari apa yang ia lontarkan, maka ia aplikasikan (praktikkan) dalam tingkah lakunya.
            Seperti contoh enam Teroris yang baru-baru ini di tembak mati oleh Densus 88, dari salah salah satu bukti yang ditemukan ada 50 daftar wihara yang akan siap di bom, akan tetapi gagal. Mereka tidak sadar dengan apa yang mereka pikirkan, mereka berpikir dengan kejahatan, berucap dengan kejahatan dan bertindak dengan kejahatan.
Tindakan kejahatan dapat seseorang lakukan, karena kejahatan muncul dari pikiran, hal ini merupakan virus berbahaya, apabila tidak disadari dan diwaspadai. Diumpamakan seperti komputer terkena virus, akan menghancurkan semua sistem yang ada di dalam komputer.
Kehidupan sekarang ini merambah pada kehidupan yang maju dan modern. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi dikota besar akan tetapi juga hingga ke desa. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan dunia informasi yang cepat, sulit dibendung. Kesadaran dalam bertindak sebagai modal kewaspadaan dalam bersikap diera modern sangat diperlukan.
Sangat disayangkan dengan kemajuan teknologi saat ini tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang cukup sehingga terjadi ketimpangan bahkan salah arah. Mereka menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berdasarkan pada asas kesadaran dan kewaspadaan yang membawa manfaat, melainkan menggunakan luapan emosi. Sehingga mereka menganggap cara hidup modernlah paling unggul dibanding cara hidup sederhana.
Peradaban manusia akan mengarah ke peradaban yang serba bebas dan tidak terarah. Kesadaran, kewaspadaan, kepedulian, moralitas, serta sikap mental positif secara perlahan akan ditinggalkan dan bergeser pada peradaban bebas. Jika kondisi ini berlarut, maka akan mendorong kemerosotan bagi masyarakat yang sejak dulu dikenal dengan peradaban beretika.
Cara hidup sederhana bukanlah cara hidup yang tidak bermutu. Bermutu atau tidaknya adalah ditentukan oleh diri sendiri. Bagi mereka yang selalu sadar dengan apa yang dikerjakan serta selalu waspada, bekerja tanpa cela, beretika, dengan semangat, penuh tanggung jawab. Maka kesuksesan dalam hidup dapat diraih.
Banyak orang yang enggan hidup dengan cara hidup berdasarkan Dhamma. Karena anggapan cara hidup berdasarkan Dhamma adalah cara hidup yang kuno. Dhamma adalah ajaran Buddha yang berlandaskan pada kesadaran, kewaspadaan, etika, serta panutan untuk menghadapi permasalahan kehidupan yang kompleks seperti saat ini.
Tanpa Dhamma, hidup seseorang akan merosot bahkan mengarah pada kehancuran. Kerena mereka buta akan arah kebaikan yang harus dijalankan. Gaya hidup sesuai Dhamma tentu tidak terlepas dari hidup berkesadaran, berkewaspadaan, bertetika . Erat hubungannya dengan proses mental (cetasika).
Dalam membangun sikap peduli, moralitas, dan sikap mental positif yang selalu sadar dengan yang dikerjakan, selalu waspada dengan apa yang dilakukan. Sehingga hal ini menjadikan cerminan untuk merefleksi/ bercermin/ berinstropeksi terhadap diri sendiri.
Usaha untuk melihat diri sendiri akan membawa dampak positif. Selain itu seseorang harus berani melihat kekurangan dirinya sendiri dan tidak menonjolkan ego (sifat kesombongan). Dengan melihat kekurangan diri sendiri, maka mereka akan memperbaiki diri untuk lebih baik, mereka akan maju serta suskes dengan cara hidup sesuai Dhamma.
Kesadaran dan kewaspadaan dapat dibangun dari mereka yang mau berlatih samadhi. Samadhi adalah olah mental yang positif dan membangun energi positif dalam diri. Dengan pengolaan bantin melalui samadhi, batin seseorang akan berkembang kearah yang positif.
Samadhi kadang menjadi momok bagi sebagian orang yang tidak mengenali arti, cara melaksanakan, tujuan dan manfaat yang akan didapat dari praktik samadhi. Samadhi identik dengan mengosongkan pikiran dan duduk diam. Prespektif / pandangan masyarakat adalah negativ mengenai samadhi. Apabila mereka paham. Maka mereka akan termotivasi untuk melakasanakan samadhi.
            Langkah awal dalam membangun konsentrasi untuk selalu sadar dan waspada di dalam samadhi adalah tekad dan semangat. Tanpa tekad samadhi yang diajalankan tidak akan bertahan lama, akan mengalami berbagai macam halangan didalam samadhi, maka mereka akan putus asa dan tidak semangat untuk melanjutkan samadhi.
            Banyak orang yang menghindari kesulitan, lari dari permasalahan yang dihadapi di dalam melaksanakan samadhi. Hal ini tidak akan membawa perkembangan, kemajuan serta sikap membangun mental yang positif dalam diri. Justru sebaliknya, bagi mereka yang sadar, dan waspada di dalam mengamati proses batin dan jasmani di dalam samadhi, maka mereka telah membangun power yang luar biasa di dalam dirinya sendiri.
            Menjadi masyarakat yang berkualitas bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan, lingkungan, pergaulan, dan cara hidup adalah tantangan yang berat di dalam kehidupan sosial masyarakat. Apabila seseorang tidak mampu bersosialiasi dengan masyarakat, cara hidup yang salah, maka mereka akan tersisihkan dari komunitas masyarakat dan menjadi sampah masyarakat.
Bukan berarti kita patah semangat akan hal itu. Melainkan Dhamma menuntun seseorang selalu “eling lan wospodo” (hidup dengan berkesadaran dan berkewaspadaan). Mereka akan hidup tenang seimbang di dalam kehidupan bermasayarakat. Bagaikan teratai yang tumbuh diatas kolam berlumpur, akan tetapi bunganya tidak ternodai.
Banyak orang hanya bisa berkata tapi tidak mampu berbuat. Banyak orang yang bisa mengkritik, tapi tidak mampu memberikan solusi. Kehidupannya tidak akan seharum bunga dan ini akan ditinggalkan oleh komunitasnya dan ia akan menjadi benalu di dalam dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Menghormat Sang Guru (Buddha) dengan mempraktikkan Dhamma dengan benar, maka sama halnya seseorang mempersembahkan rangkaian bunga yang harum kepada semua makhluk. Orang yang seimbang adalah mereka yang mau belajar dan mempraktikkan Dhamma dengan selalu sadar dan waspada dalam setiap langka hidupnya. Maka kesuksesan dan kebahagiaan akan menjadi miliknya, bagaikan bayangan yang tidak pernah meninggalkan bendanya.
Ada tiga S di dalam hidup ini, yaitu: S yang pertama adalah “Syukur” merasa puas dengan yang dimiliki, serta mensyukuri dengan melihat S yang kedua adalah “Sekitar”, bahwa tidak semua orang di sekitar anda merasa mensyukuri dengan yang mereka dapatkan. Setelah anda mensyukuri maka anda akan melihat S yang ketiga yaitu “Saya”, saya adalah motivator terbesar bagi diri saya sendiri, bukan orang lain. Tidak ada orang lain lebih mengenal anda selain anda sendiri. Anda sendirilah yang mampu menggerakan kaki anda untuk berjalan ke arah yang lebih baik. Otot-otot tangan andalah yang membuat anda memiliki kebiasaan-kebiasaan baru yang positif.
Daftar Pustaka:
Abhayanando. 2010. Dhamma Solusi Kehidupan. Vihara
Dharma Ratna. Tangerang

               Uttamo. 2005. Agama Buddha Pedoman Hidupku. Bodhi
Buddhist Centre Indonesia. Medan

               Sunandar, Vidi Yulius. 2010. Nasi Basi. Ehipassiko
Foundation. Jakarta

               Tanpa Nama. 2007. Suskes Dengan Dhamma 3. Keluarga
Buddhis Brahmavihara (KBBV) Makassar. Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar