Senin, 31 Maret 2014

Filsafat Buddhis

Oleh: Samanera Herman Vimalaseno

Pada masa Pra Buddha ada tiga golongan besar dalam teori Kauasalitas, dalam kausalitas sendiri memiliki penjelasan yang pertama adalah faktor yang menyebabkan terjadinya sesuatu berasal dari dalam diri menurut kaum Subtansialis, sedangkan pandangan kedua adalah tentang faktor yang menyebabkan adalah dari luar diri menurut kaum Naturalis, dan yan terakhir adalah faktor yang menyababkan terjadinya adalah dua sebab baik dari dalam diri dan dari luar diri hal ini dipegang oleh kaum Jaina.
Kaum Substansialis berpendapat bahwa segala faktor berasal dari dalam diri, umumnya orang berpendapat bahwa kita memiliki jiwa, roh, nyawa,ego, aku atau atma sebagai sesuatu inti yang kekal, tetap dan absolut yang merupakan substansi yang tidak berubah-ubah, di balik “dunia yang terlihat ini” yang senantiasa dalam keadaan bergerak dan berubah.
Dalam sejarah umat Buddha, ajaran Buddhalah yang menentang adanya roh, aku atau atma yang kekal dan abadi. Didalam pandangan ajaran Buddha sendiri bahwa dengan adanya ide tentang roh, aku atau atma adalah khayalan belaka. Ide ini menciptakan pikiran yang sangat merugikan, yaitu tentang adanya aku, milikku, serta adanya keinginan yang mementingkan diri sendiri, kebencian, pikiran yang jahat, persilisihan hingga peperangan antar negara dapat terjadi, semua ini dapat disimpulkan adalah dengan adanya ide ini maka kejahatan dapat dicari melalui sumbernya yaitu pandangan salah ini.
Secara Psikologis ada dua macam pandangan berakar kuat dalam setiap diri manusia, yaitu:
1.     Pandangan tentang perlindungan diri (Self-Protection).
2.     Pandangan tentang kelangsungan diri (Self- Preservation).
Selanjutnya adalah pandangan tentang faktor penyebab adalah dari luar diri yang
dipengang oleh kaum Naturalis. Untuk melindungi dirinya, manusia lalu menciptakan kekuatan luar, kepadanya dia bergantung untuk mencari perlindungan, keselamatan, dan keamanan, seperti halnya seorang anak kecil yang bergantung dan mencari perlindungan kepada orang tuanya.
            Untuk kelangsungan diri, manusia menggambarkan dalam pikirannya satu ide tentang adanya roh, jiwa, nyawa, atau atma yang dapat hidup kekal abadi. Manusia memerlukan dua hal tersebut karena dengan hal tersebut dia akan merasa terhibur terus dan ia akan memegang hal itu erat-erat dan tidak merasakan rasa takut lagi dalam dirinya.
Dalam pandangan kaum jainah yang berusaha menyatukan kedua pandangan itupun di tentang dalam ajaran Buddha, yang dimana dijelaskan bahwa, Agama Buddha tidak menyokong kedua pandangan itu dan bertujuan untuk menolong manusia mencapai Kesadaran Agung dan Buddha benar-benar mengaskan bahwa ajaran beliau melawan arus dan bertentangan dengan keinginan yang mementingkan diri sendiri dari seorang manusia.
Didalam ajaran Buddha dijelaskan pada penjelasan Kata ‘Paticcasamuppāda’ mempunyai arti : PATICCA, berarti : Tinggal atau menempati SAM, berarti : Siap UPPĀDA, berarti : Timbul. Paticcasamuppāda, berarti : Keadaan yang menempati dan siap untuk timbul. Kata “Paticcasamuppada” mempunyai makna Hukum Originasi tergantung /Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan atau timbul karena kondisi-kondisi yang saling bergantungan. Paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dan pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.

 Apabila dikaitkan dalam Hukum Paticcasamuppada yang berbunyi:
 "Imasmim sati idam hoti;
imasuppāda idam uppajjāti
 Imasmim asati idam na hoti;
imassa nirodhā imam nirujjhati"

Artinya :

Dengan adanya ini, adalah itu; dengan timbulnya ini, timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, tidak adalah itu; dengan lenyapnya ini, lenyaplah itu. Dengan  memahami  seluruh  fenomena  kehidupan  ini,  agama  Buddha memandangnya sebagai  suatu lingkaran  dari kehidupan  yang tak dapat diketahui permulaan dan akhirnya. Dengan demikian masalah Sebab Pertama (causa prima) bukan menjadi masalah dalam filsafat agama Buddha.
Proses kemunculan yang saling bergantungan (Anuloma):
1.   Avijja, mengkondisikan sańkhara
2.   Sańkhara, mengkondisikan viññana
3.   Viññana, mengkondisikan nāma-rūpa
4.   Nāma-rūpa, mengkondisikan salāyatana
5.   Salāyatana, mengkondisikan phassa
6.   Phassa, mengkondisikan vedanā
7.   Vedanā, mengkondisikan taņhā
8.   Taņhā, mengkondisikan upādanā
9.   Upādanā, mengkondisikan bhāva
10.   Bhāva, mengkondisikan jāti
11.   Jāti, mengkondisikan jarā-marana
12.   Jarā-marana


Proses kepadaman yang saling bergantung (Patiloma):
·     Dengan padamnya avijja maka padam-lah sańkhara
·     Dengan padamnya sańkhara maka padam-lah viññana
·     Dengan padamnya viññana maka padam-lah nāma-rūpa
·     Dengan padamnya nāma-rūpa maka padam-lah saļāyatana
·     Dengan padamnya saļāyatana maka padam-lah phassa
·     Dengan padamnya phassa maka padam-lah vedanā
·     Dengan padamnya vedanā maka padam-lah taņhā
·     Dengan padamnya taņhā maka padam-lah upādanā
·     Dengan padamnya upādanā maka padam-lah bhāva
·     Dengan padamnya bhāva maka padam-lah jāti
·     Dengan padamnya jāti maka padam-lah jarā-marana

Segala sebab yang terjadi bukan dikarenakan oleh satu sebab melainkan dari berbagai sebab, mungkin saya akan memberikan suatu contoh perumpamaan:
Proses terjadinya hujan. Hujan terjadi dengan menguapnya air laut atau air danau. Uap air ini naik ke angkasa, di angkasa uap air menjadi awan dan terbawa oleh angin. Awan tertahan oleh gunung atau diam diangkasa karena pendiginan dan tak ada angin. Karena pendiginan, awa yang berisi uap air membentuk titik-titik air. Titik-titik air hujan jatuh ke bumi ini disebut hujan. Air hujan mengalir ke dataran yang rendah membentuk aliran air dalam got atau kali kecil menuju sungai. Aliran air sungai menuju danau atau laut. Selanjutnya karena terik matahari air laut atau air danau menguap. Demikian selanjutnya, proses terjadinya hujan tetap berlangsung, tanpa henti.
Demikianlah maka penjelasan yang paling ilmiah dan berdasarkan akal pikiran mengenai sesuatu peristiwa hanya mungkin diberikan berdasarkan Hukum Paticcasamuppada.
Banyak contoh yang ada di sekitar kita yang berproses terus tanpa hentinya. Proses terjadi, lalu hal yang terjadi terurai. Hal yang telah terurai berproses menjadi lagi dan seterusnya.

Daftar Pustaka

Maha Thera Narada.(2006). Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya. Majalah Dhammacakka, no.43/XII/. Jakarta.
K. D. Buddhima Hansinie Subasinghe.(2008). Hukum originasi tergantung. Artikel  Pelajaran Agama Buddha.
Maha Thera  Dhammavuddho.(2008). Asal Usul Yang Saling Bergantungan.Patria Sumatra Utara. Medan
Felita Nursatama Lestari.( 2003). Buku Pelajaran Agama Buddha Sekolah Menegah Tingkat Atas Kelas III. ”,  C.V. Felita Nursatama Lestari.Jakarta.
Mulyadi Wahyono, S.H.,.( 1994/1995.). Modul Materi Pokok-Pokok Dasar Agama Buddha II.,. “Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Dan Universitas Terbuka. Jakarta. 

1 komentar:

  1. Bagus samanera postingnya,,, kunjungi blo saya juga ya
    ensiklopedia-buddhadhamma.blogspot.com

    BalasHapus