Senin, 14 Oktober 2013

PENGANTAR BAHASA PALI



      Disusun oleh : Kuncoro, B A (B. Dh)
            I.            Pendahuluan
Dua orang bhikkhu dari suku brahmana mengajukan pendapat untuk mengubah kata-kata dari Buddha ke dalam Chandasa, tetapi Buddha sendiri tidak menyetujuinya. Buddha berkata bahwa para bhikkhu diperbolehkan untuk belajar ajaranya ke dalam Sakanirutti.
        II.          Menurut Catatan Dari Culavagga
Dua bhikkhu dari suku brahmana yang bernama Yamelu dan Tekula memiliki kata-kata yang manis, mereka mendekati Buddha dan berkata bahwa ada banyak para bhikkhu dari berbagai suku dan kasta memasuki perkumpulan para bhikkhu (Sangha). Mereka mengotori kata-kata dari Buddhavacana ke dalam Sakaniruttiya mereka. Jadi kedua bhikkhu dari suku brahmana mengajukan untuk mengubah kata-kata dari Buddha ke dalam Chandasa.
III.        Instruksi Dari Buddha
Setelah mendengar penolakan dari Buddha tentang permintaan mereka, Buddha menjelaskan bahwa untuk menterjemahkan kata-kata dari Buddha ke dalam Chandasa tidaklah kondusif untuk manfaat bagi orang banyak. Kemudian Buddha mengumpulkan para bhikkhu dan beliau memberikan instruksi yang menjadi salah satu peraturan vinaya. “O Bhikkhu, kata-kata dari Buddha tidak seharusnya diterjemahkan ke dalam Chandasa. Jika seseorang melakukan hal tersebut akan ada pelanggaran dari tindakan salah (Dukkata). O Bhikkhu saya memperbolehkan kamu untuk mempelajari ajaran Buddha ke dalam bahasa dialekmu sendiri (Sakaniruttiya).
IV.        Bagaimana Sumber Pali Diturunkan Dari Istilah Chandasa
Berdasarkan Samanthapasadika bhikkhu Boddhaghosa menginterpretasikan istilah Chandasa dengan “Vedaÿviya sakkata bhasaya vacana maggaÿ” di sini Chandasa berarti bentuk pengulangan dari bahasa Sansekerta sebagai Veda.
Menurut kitab komentar Sutta Nipata “Savitti Chandada mukham” mengacu bahwa yang harus dipelajari dulu oleh mereka yang mempelajari veda. Jadi Chandasa mengacu pada bahasa veda dan ini adalah suatu keharusan bagi mereka yang belajar lebih lanjut dari bahasa ini.

V.          Pentingnya Instruksi Dari Buddha
Dari peninjauan kedua bhikkhu dari suku brahmana, kelihatan bahwa mereka sangat bangga dengan kebudayaanya dan mereka tidak memiliki rasa hormat dari bahasa dialek. Dari pendapat para sarjana bahwa Chandasa adalah bahasa Veda yang dibanggakan oleh kaum brahmana.
Istilah Sakaniruttiya muncul dua kali dalam syair Culavagga: pertama dalam percakapan antara dua bhikkhu dari suku brahmana yang tidak setuju mengenai berbagai suku dan kasta yang mengotori Buddhavacana ke dalam Sakaniruttiya; yang kedua,di dalam instruksi Buddha memperbolehkan mereka untuk mempelajari Buddhavacana ke dalam Sakaniruttiya.
VI.        Bagaimana Kitab Komentar Dan Para Sarjana Mendefinisikan Istilah Sakanirittuya
Kitab Komentar mengatakan “Sakaniruttiya” berarti bahasa dari Magadha sebagai yang diucapkan oleh Buddha. Sementara ini para sarjana Buddhist modern menginterpretasikan bahwa “Sakaniruniya” merujuk pada dialek dari mereka yang belajar Agama Buddha. Dari sudut pandang Tata Bahasa merujuk pada dialek mereka yang belajar ucapan dari Buddha.
VII.      Arana Vibhanga Sutta
Di dalam Sutta ini menyebutkan dan menekankan bahwa Buddha menjelaskan secara detail sebuah bowl yang bisa disebut dengan berbagai nama dan dialek, contohnya: Patta, Pati, Pona, atau bahwa Pisila.
VIII.    Asal Dari Pali
     Ada beberapa pandangan yang berbeda dari asal muasal Pali. Beberapa sarjana dari Eropa Tengah berpendapat bahwa Pali berasal dari dialek India termasuk di kerajaan kosala, Magadha, Kosambi, Avatti, Kalinga, Vindiya, Taxila, dan Pataliputra. Dari pandangan tradisi mengatakan bahwa Pali adalah Magadhi (Magadhinirutti, Magadhikabhasa). Seorang komentator besar dari Theravada yaitu Bhikkhu Buddhaghosa Thera mengatakan bahwa Pali Adalah bahasa Yang diucapkan oleh Buddha. Dia mengatakan “Sabuddha Mulabhasa Desente Dhammam Muttanam Jananti Satta Sabbepi Sakabhasam’va attano” artinya Buddha mengajarkan Dhamma yang mulia, beliau menggunakan bahas asli dan semua mahkluk mengetahui dan mengerti seperti halnya bahasa mereka sendiri, maka dari itu Buddhaghosa Thera mengatakan bahwa Pali bukanlah Bahasa lain tetapi Magadhi.
     Wapola Rahula, mempertahankan bahwa Pali adalah suatu reformasi aktif yang dasarnya dari bahasa Magadhi.
     Rahula menganalisa bahasa Pali dan menemukan bahasa Pali mengandung beberapa bentuk dialek. Dia juga memiliki pendapat yang sama dengan Windisch bahwa Pali telah dimodifikasi dengan Magadhi.
     W. Geiger mengembangkan bahasa Pali sebagai bentuk dari bahasa Magadhi. Dari kenyataan sejarah tiga konsili diadakan di Kerajaan Magadha yaitu di Kota Rajagaha, Vesali, dan Pataliputra.
    IX. Perkembangan Bahasa Pali.
     Bahasa Pali bukanlah suatu bahasa asli, tetapi merupakan gabungan dari beberapa dialek. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Pali merupakan bahasa percakapan, bahasa terus menerus melalui perkembangan selama beberapa abad.
     Buddha dengan rasa demokrasinya untuk mempelajari ajaran Buddha dari mereka yang berbeda suku, ras, memperbolehkan mereka untuk belajar sesuai dengan dialek mereka. Lebih lanjut lagi, kitab Kanon di tulis dalam bentuk yang bukan bahasa Ceylon, yang bahasanya berbeda dengan bahasa Pali.
X.          Kesimpulan
    Sudah sangatlah jelas bahwa Yang Terberkahi tidak menginginkan ajaranya diajarkan dalam bahasa kaum minoritas. Demikinlah, beliau memberikan suatu wejangan untuk memberikan larangan kepada para siswanya untuk menterjemahkan ajaranya ke dadalam bahasa Veda. Untuk manfaat bagi para pengikutnya yang yakin kepada Buddha dan ajarannya, Buddha mempersilahkan untuk mempelajarinya menurut bahasa yang mereka dapat mengerti. Bahasa inilah yang sekarang disebut bahasa Pali.


  



MEDITASI VIPASSANᾹ




Oleh: Samanera Vimalaseno

Idaṁ me puññaṁ
Magga. phala. ñaṇassa paccayo hotu
Idaṁ me puññaṁ
Nibbᾱnassa paccayo hotu

Semoga dengan kebajikan-kebajikan yang telah saya lakukan,
menjadi suatu kondisi bagi pencapaian Pengetahuan Jalan dan Buah,
Semoga dengan kebajikan-kebajikan yang telah saya lakukan,
Menjadi suatu kondisi bagi pencapaian Nibbᾱna.
(Mettᾱ Chating;Aspirasi; hal 12)

            Pada era saat ini banyak ditemukan dalam masyarakat mereka mengalami suatu beban mental sikap akibat konterversial hati dengan lingkungan yang dihadapi. Tidak sedikit diantara mereka yang tidak dapat membendung beban mental yang menyerang kedirinya, sehingga stres dan aksi bunuh diri tidak terelakan.
            Beban sikap mental yang menjadi dasar dari sebuah permasalahan harus mendapatkan sebuah solusi sebagai jalan menuju pada kebahagiaan tertinggi. Solusi tidak semua tepat yang digunakan oleh kebanyakan orang. Ada yang menggunakan narkoba, pesta seks, bernyanyi, melukis, sebagai solusi.
            Solusi yang semacam itu apabila ditinjau dalam kacamata Dhamma tentu sangat bertentangan, khususnya seperti menggunakan narkoba, pesta seks. Dalam Buddhisme solusi untuk keluar dari sebuah problem tekanan sikap mental/ psikis adalah melalui praktik meditasi. tidak sedikit orang yang paham dan mau berlatih meditasi.
            Meditasi adalah suatu aktivitas belajar memusatkan pikiran, dalam bahasa inggris disebutkan “concentration.” Sedangkan dalam bahasa Sansekerta atau Pᾱḷi adalah Samᾱdhi.  Samᾱdhi adalah konsentrasi dirumuskan sebagai “ekᾱrammane citassa ekaggata,” ialah memusatkan pikiran pada suatu obyek (eka arammana).
            Meditasi dalam buddhisme ada dua bagian yaitu meditasi Samatha memiliki empat puluh obyek setiap obyek mewakili karakter setiap individunya. Cara meditasi Samatha adalah memiliki konsentrasi kuat pada obyek yang diambil. Samatha dapat mencapai ketenangan berupa pencapaian Jhana-jhana, bahkan kekuatan batin (Abhiñña).
            Meditasi yang kedua adalah Vippasanᾱ. Vippasanᾱ atau Insight meditation (meditasi dengan melihat kedalam diri atau pandangan terang dengan mengamati proses batin dan jasmani yang tidak tetap keberadaannya. Dalam meditasi Vippasanᾱ akan mendapatkan suatu pengalaman pribadi dan dari pengalaman itulah seseorang seseorang yang cermat dan terfokus dalam mengamati proses bergerak batin dan jasmani secara terus menerus tanpa terputus, maka pandangan terang atau pengetahuan sejati Insight akan muncul.
            Vippasanᾱ bukan sekedar relaksasi, melainkan adalah realisasi dari batin dan jasmani. Pikiran harus selalu terjaga dan fokus dan perhatian penuh, tubuh dalam suasana rileks, tidak tegang dan tidak kaku. Vippasanᾱ juga bukan sekedar pelepas stres, melainkan mengidentifikasikan, mengenal dan selanjutnya pengurangan faktor-faktor stres dan tidak hanya untuk saat ini melainkan juga untuk kehidupan selanjutnya.
            Dalam latihan meditasi Vippasanᾱ, dilakukan secara terus-menerus tidak mengutamakan istirahat. Dimulai sejak pukul 03.00 hingga pukul 21.00 dalam waktu di Indonesia. Sedangkan menurut beberapa guru meditasi Vippasanᾱ yang pernah mengikuti meditasi Vippasanᾱ di Yangon, meditasi Vippasanᾱ dilaksanakan dari pukul 03.00 hingga pulu 22.00. Apabila peserta meditasi (yogi) melatih Vippasanᾱ dengan ketat, maka mereka akan mendapatkan sebuah pemahaman suatu hal yang berguna, bermanfaat, dan tidak berguna maupun bermanfaat.
            Selain hal kita paham dengan apa yang baik dan tidak, seseorangpun akan  tumbuh sebuah paham merelakan atau melepas dari segala apapun yang ia miliki. Dari seseorang yang melatih meditasi Vippasanᾱ dengan keseriusan, mereka juga akan mengalami sensitifitas terhadap indria akan lebih tajam dan lebih jelas. Untuk apa hal itu dilakukan?, untuk dapat membebaskan diri dari kemunculan masa lalu karena kamma kita.
            Mengawali latihan Vippasanᾱ, adalah harus dimulai dari tempat yang sunyi dan jauh dari tempat keramaian lingkungan. Pada yogi yang awal memulai meditasi akan merasakan beban yang dialami kesehariannya akan muncul, gema dari kehidupan akan terus datang di dalam meditasi Vippasanᾱ tersebut.
            Didalam Vippasanᾱ  seseorang bertujuan untuk melepaskan diri dari segala bentuk kekotoran batin yang ada dalam diri seseorang. Datangnya kekotoran batin berasal dari pengalaman-pengalaman dimasa lalu. Pengalaman baik maupun buruk telah lama mengendap atau terpendam, sehingga yogi jarang bahkan tidak merasakah atau tahu mengenai kekotoran batinnya sendiri.
            Pengalaman yang baik maupun tidak baik, akan muncul satu persatu di dalam meditasi Vippasanᾱ. Hal tersebut muncul pada suatu kondisi tertentu. Dalam latihan Vippasanᾱ, kita berusaha mengembangkan kesadaran terhadap jasmani (rūpa) dan batin (nᾱma). Kesadaran (sati) ini sangat penting bahkan merupakan pelindung kita di dalam kehidupan sehari-hari supaya kita tidak terseret oleh kondisi-kondisi dari dalam diri akibat dari sebuah reaksi tantangan-tantangan di luar diri.
            Seorang yogi akan banyak mengalami permasalahan seperti masalah dari luar diri yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan, kita sebaiknya memiliki persiapan agar tidak terseret keadaan tersebut. Misalnya, apabila seseorang tidak sadar, akan muncul kemarahan, kekhawatiran, ketakutan, hal tersebut seseorang tidak menyadarinya.
            Apabila kekotoran batin muncul seperti halnya diatas, maka sebagai solusi seorang yogi secepatnya mengembangkan sati (kesadaran) untuk mengetahui pikiran seorang yogi mengarah kearah mana. Pengendalian diri terhadap pikiran, jasmani dan perasaan dapat diatasi melalui pencatatan batin.
            Pencatatan batin bearti mengingat kata-kata dalam batin. Pencatatan batin biasanya  mengenai pengalaman yogi, baik pengalaman pada batin dan jasmani, pengalaman batin seperti kecewa, marah, malas, mengantuk, bosan, merindukan pengalaman lalu, traumatik, sedih. Sedangkan pengalaman jasmani seperti sakit, kram, lelah. Jika seorang yogi menyadari hal tersebut terjadi tanpa melakukan analisis, membandingkan, memikir atau menilai.
            Apabila yogi telah terlatih dalam Vippasanᾱ, maka pencatatan batin, tidak perlu digunakan, terkadang ada yogi yang merasa dengan pencatatan merasa terganggu, sehingga yogi cukup melakukan pengamatan atau menyadari proses batin dan jasmani yang bergerak.
            Dalam melakukan Vippasanᾱ, pencatatan terhadap obyek yang mendominasi dengan satu kata, yaitu cukup kata kerja yang digunakan, seperti: “makan, makan,makan..., jalan...., berdiri....,dst....” Ingatlah pencatatan batin dilakukan tidak perlu mencatat obyek hingga menghilang sebab kadang-kadang tidak mau hilang.
            Jangan menggunakan perhatian dan pencatatan batin untuk menghacurkan sesuatu yang tidak anda sukai. Bagi para yogi jangan berkonsentrasi pada pencatatan, sebab pencatatan hanya untuk mengarahkan pikiran kepada proses yang terjadi saat ini tanpa berpikir atau menilai.
            Didalam meditasi Vippasanᾱ, ada beberapa posisi yang dapat dilakukan dalam posisi duduk, berdiri, berjalan dan berbaring. Dalam Vippasanᾱ teknik Mahasi Sayadaw, meditasi dilakukan dengan keteraturan seperti 1 jam meditasi jalan, setelah itu dilanjutkan dengan 1 jam meditasi duduk.
            Meditasi duduk akan terasa sulit di lakukan, apabila tidak diawali dengan meditasi berjalan, pengamatan yang dilakukan dalam meditasi duduk adalah kembung dan kempis perut. Pada saat yogi bermeditasi jalan ingin menuju meditasi duduk atau sebaliknya, harus benar-benar menjaga kesadarannya pada setiap gerakan batin dan jasmani.
            Untuk memulai meditasi duduk yogi sebaiknya mengatur posisi duduk yang rileks, nyaman dan dapat bertahan hingga 1 jam untuk tidak bergerak dalam kondisi apapun. Maka tekad, usaha dan semangat dibutuhkan dalam Vippasanᾱ, sehingga keteraturan dapat menghantarkan yogi pada hasil yang memuaskan di dalam Vippasanᾱ.
            Kembung kempisnya perut menjadi obyek utama dalam meditasi duduk, yogi tidak dianjurkan untuk melakukan pengamatan sensasi keluar masuknya nafas, karena Vippasanᾱ tidak sama dengan meditasi Samatha dengan obyek anapanasati (meditasi pernafasan).
            Pada saat meditasi duduk yogi mengamati kembung kempisnya perut, rasakan setiap potongan-potongan proses pergerakan perut mengembung dan proses dari kembung ke kempis, dan diulang secara terus menerus secara alami. Apabila pikiran yang mendominasi seperti ingat masa lalu, lakukan pencatatan batin dan kesadaran berfikir, sehingga pada saat pikiran melemah, maka tugas yogi menggiring pikiran kembali ke obyek utama.
            Kesalahan yang sering terjadi bagi yogi yang baru pertama mengikuti retret Vippasanᾱ adalah pikiran yang mendominasi justru dicut atau dipaksa untuk dikembalikan ke obyek utama yaitu kembung dan kempisnya perut secara kasar, maka apa yang terjadi??, yogi akan merasakan syaraf dikepala menjadi sakit dan sekujur tubuh menjadi tegang dan sakit. Sehingga wajar-wajar saja, apabila yogi tidak kuat mengikuti retret pada hari ke 3- hari ke 5, karena pada umumnya masa-masa itu dimana para yogi merasakan tubuhnya seperti sangat letih dan seperti sehabis bekerja keras.
            Kestabilan tubuh dan penguasaan obyek di dalam Vippasanᾱ akan dirasakan mulai hari ke 7, itupun apabila yogi mengikuti prosedur yang diinstruksikan oleh Guru Meditasi Vippasanᾱ. Para yogi yang tidak ketat dalam menjalani Vippasanᾱ, maka mereka akan mundur di dalam retret, karena para yogi belum sepenuhnya siap untuk menerima kenyataan yang terjadi seperti mengalami rasa sakit, kenangan yang pahit dimasa lalunya.
Akan tetapi sebaliknya bagi para yogi yang telah memahami Vippasanᾱ sebaik mungkin. Justru para yogi akan tersenyum dan menerima dengan lapang dada dari sensasi sakit dan kepahitan masa lalunya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Sehingga mereka akan tumbuh suatu pemahaman akan hakikat anicca (ketidak kekalan di dalam hidup), dukkha (ketidakpuasan di dalam hidup), dan anatta (tanpa aku/ inti di dalam hidup). Yogi akan menilai kehidupan yang berproses hanya seperti ini saja, ada dukkha dan ada sukha yang silih berganti. Pada dasarnya hidup saat ini hanya menunggu datangnya kematian, dengan persiapan yang matang,  salah satunya mereka yang ketat dalam menjalani Vippasanᾱ.
Dalam meditasi jalan yogi juga mengamati proses kaki yang bergerak, baik dari kanan dan kiri, semakin pencatatan dilakukan secara mendetail, maka potongan akan semakin jelas dirasakan oleh yogi, tahap kedua yogi dapat merasakan : “kaki ingin mengangkat....., angkat....., ingin maju..., maju..., ingin letak..., letak....” sehingga kesadaran akan lebih terfokus pada gerak kaki yang melangkah. Yogi tidak meneruskan meditasi jalan sejenak, apabila pikiran yogi mengembara. Yogi tetap berdiri dan melakukan pencatatan batin terhadap hal yang mendominasi, apabila pikiran melemah, yogi menggiring kembali ke kembung kempisnya perut sejenak, dan mulai untuk meneruskan meditasi berjalan.
Meditasi berjalan dilakukan tidak terlalu jauh, berkisar 5- 10 M, apabila terlalu jauh yogi kurang terfokus untuk pengamatan langkah kaki yang dilalukan. Posisi kepala tidak terlalu merunduk dan juga tidak terlalu diangkat, melainkan disesuaikan dengan kenyamanan jarak pandang. Usahkan indria mata yogi tidak terkontak dengan  obyek sekitar, karena dapat mengganggu konsentrasi meditasi jalan.
Prinsip seorang meditator Vippasanᾱ adalah untuk mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat ini. Catatlah di dalam batin yogi untuk selalu mengamati apa yang muncul dari dalam maupun dari luar diri, bukan lari dari kenyataan, berkeinginan untuk melupakan, membasmi ataupun menghacurkan.
Dalam Vippasanᾱ, yogi sebaiknya mengutarakan segala keluhan, pengalaman, baik mengalami hambatan maupun kemajuan di dalam meditasi kepada Guru pembimbing, melalui interview, selama interview para yogi coba menjelaskan apa yang telah anda dapatkan melalui pengamatan terhadap perut, sensasi perasaan, khayalan atau ide-ide, perhatian penuh terhadap kegiatan sehari-hari.
Para yogi perlu mengetahui segala bentuk kegiatan, dari bangun tidur hingga tidur malam, para yogi tidak boleh terputus dari kesadaran dalam pengamatan gerak batin dan jasmani, sehingga semua aktifitas dilakukan selambat-lambatnya, pengamati 3 keberlangsungan: awal, keberlangsungan dan tahap pelenyapan.

Refrensi:
            Janakabhivamsa,Chanmay Sayadaw. Petunjuk Latihan Meditasi Vipassanᾱ
(Vipassanᾱ Meditation Guidelines). Lembaga Satipatthana Indonesia. Jakarta

            Dhammarakkhita. Meditasi Vipassanᾱ Yang Berhasil. Lembaga Satipatthana
Indonesia. Jakarta
           
            Thitaketuko. 2012. Kumpulan Ceramah Tulisan Meditasi Vipassanᾱ. Denpasar
            Kusaladhamma. 2011. Mettᾱ Chating The Chant of Lovingkindness. Padepokan
Dhammadῑpa Ᾱrᾱma. Batu
           
           
           

Lima Kesempatan



 Appamado ca dhammesu, Etammangalamuttamanti
Tekun melaksanakan Dhamma, itulah Berkah Utama.

Oleh: Bhikkhu Santamano Thera
Publikasi: Samanera Vimalaseno
 
Melalui banyak jalan kita melewati proses kehidupan ini. Segala problem dan rintangan yang datang kepada kita diselesaikan dengan cara damai maupun peperangan, akhirnya pun akan kembali kepada tanggung jawab kita semua. Seandainya kita berusaha ingin melepaskan peranan kita di masyarakat atau hubungan antara individu dengan individu lainnya, maka akan terdapat sesuatu yang ganjil. Banyak sekali perbuatan bermanfaat yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari, dan perbuatan baik itu tak mungkin bisa ditunda atau ditinggalkan begitu saja.
Pada zaman modern yang penuh persaingan sekarang ini, banyak ditemui prilaku yang menghalalkan segala cara yang tidak sesuai lagi dengan kaidah kemoralan. Hal ini juga dapat mempengaruhi seseorang atau kita untuk berbuat seperti kelaziman di sekitar kita berada. Sebagai contoh banyak sekali perilaku konsumtif atau kegiatan yang menggunakan materi hanya untuk memuaskan kesenangan saja. Hal ini tentunya tidak dilarang oleh orang lain ataupun ada peraturan untuk menggunakan kekayaan kita. Namun semua yang kita lakukan itu akan ada batas akhirnya.
Untuk mencapai suatu keberhasilan, tentunya kita harus melakukan usaha yang giat dan setiap usaha akan disertai dengan pengorbanan baik materi ataupun nonmateri. Oleh sebab itu tidak semua orang mau bahkan mampu dalam mewujudkan cita-citanya itu. Selagi masih berusia muda, seringkali kita mengabaikan tutur kata yang bijak dari orang-orang tua yang banyak mengalami manis asamnya garam kehidupan. Kita beranggapan bahwa waktu dan umur kita masih panjang, sehingga perilaku bermalas-malasan dan menunda-nunda suatu pekerjaan/perbuatan (yang bermanfaat) itu menjadi ciri khas pemikiran dan kebiasaan seseorang dalam hidupnya. Jika kita tidak mengerjakannya selagi kita mampu dan memiliki potensi untuk berkarya, apakah yang akan kita harapkan di kemudian hari?
Memiliki usia muda dan produktif ialah modal bagi kesejahteraan di masa mendatang. Rajin bekerja dan banyak berbuat baik tentu akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan di hari tua, ini adalah yang pertama untuk diperhatikan.
Yang kedua ialah jasmani yang sehat. Kesehatan adalah keuntungan utama, di saat kesehatan sedang memburuk, baru kita akan sadar bahwa materi hanya mampu menyenangkan kita untuk sementara. Tetapi demi kesembuhan tubuh dari penyakit, kita mengeluarkan biaya atau uang dan kekayaan yang tidak sedikit untuk berobat. Bahkan kita merelakan sebagian tubuh untuk dipotong (amputasi) demi keselamatan dan hidup ini.
Yang ketiga, hidup yang berkecukupan dengan merasa puas terhadap yang didapat dari usaha yang dilakukan pasti akan membuat ketenangan dan kepuasan di dalam batin. Agama Buddha tidak menentang seseorang memiliki kekayaan yang melimpah. Kita bisa membaca bahwa donatur terbesar Anathapindika yang hidup di zaman Sang Buddha, adalah seorang umat awam yang bukan hanya mampu mengelola dan mengembangkan kekayaannya, namun Anathapindika juga memiliki keyakinan yang besar terhadap Sang Buddha. Dengan harta yang melimpah itu digunakannya untuk kemajuan Buddha Dhamma. Anathapindika memang seorang Sotapanna atau telah menjadi pengarung arus kesucian pertama, maka tidaklah mengherankan jika ia selalu melayani atau menyokong kehidupan brahmacari (suci) para pertapa siswa Sang Buddha.
Selama kehidupan yang tidak kekurangan dan semua orang memiliki pekerjaan yang pantas, di situ sangat sulit ditemukan pelanggaran-pelanggaran Hukum Kebenaran (Dhamma) dan khususnya Kemoralan (Sila). Adanya kekacauan yang terjadi selalu membawa ketakutan (trauma kejiwaan) dalam hidup seseorang.
Oleh karena itu pemimpin yang bersih dan bijaksana sangat diperlukan untuk mengatur kehidupan semua rakyat di dalam bermasyarakat dan bernegara. Pemimpin yang berperilaku sesuai pada kebenaran (Dhamma) akan membawa negeri yang makmur, tentram dan aman.
Hal yang ke empat adalah keadaan yang saling bersahabat, rukun, damai-harmonis antara seseorang dengan lainnya, golongan dengan golongan lainnya dan semua komponen masyarakat, keadaan seperti ini tentu menimbulkan kesejahteraan dan kemajuan. Mengeluarkan ucapan yang menyejukkan hati, tidak mengharapkan kejatuhan/kehancuran dari keuntungan orang lain, membina pergaulan yang baik, maka di lingkungan seperti itu akan berkembang kesejahteraan juga keberhasilan.
Dan unsur kelima yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki keyakinan yang sama (sama-dana). Ialah mempunyai kebijaksanaan dalam melaksanakan kebajikan-kebajikan. Sesungguhnya kebahagiaan itu datang dari hasil meninggalkan kejahatan (Dhammapada 333).
Selalu waspada terhadap kemungkinan di hari mendatang bukanlah karena dorongan ketakutan, melainkan kita betul-betul mengenal dan memahami semua kondisi dan perbuatan yang sesuai untuk dilakukan. Telah dijelaskan oleh Guru Agung kita, bahwa kebaikan akan membuahkan kebahagiaan. Lima Saat/Usaha Yang Tepat Yang Harus Kita Lakukan Untuk Menunjang Tumbuhnya Semangat Hidup Dan Berbuat Kebajikan, seperti di dalam Aṅguttara Nikaya III; 65 ini perlu kita pertimbangkan sebagai kompas menuju keberhasilan dan Pantai Kebebasan. Semoga semua makhluk bahagia. 

[,Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 3 Oktober 1999 ]