Selasa, 27 Agustus 2013

Mukzizat dan Kesaksian




 Dipublikasikan oleh: Samanera Vimalaseno 

Sering kita membaca koran, menonton televisi, ataupun mendapat ajakan dari teman yang `non-Buddhis' untuk menghadiri kebaktian dengan tujuan menyaksikan kebesaran `Hyang Agung' yang memperlihatkan kemampuan-Nya dalam menyembuhkan orang yang cacat fisik (seperti pincang, buta) dan menyembuhkan orang dari berbagai penyakit ringan (seperti batuk-batuk terus) hingga penyakit yang ganas seperti kanker.

Pernahkah Anda mengikuti acara seperti itu? Apakah Anda memang tertarik atau ikut-ikutan saja? Yakinkah Anda bahwa kemampuan yang ditunjukkan adalah benar milik `Hyang Agung'?
Seiring dengan perkembangan jaman, cara penyebaran agama pun sudah tidak seperti dahulu. Saat ini `agama' sudah disetarakan dengan `produk' oleh kaum `non-Buddhis', yang dalam menunjang suksesnya perlu dilakukan berbagai promosi, di samping penyusunan strategi yang jitu.

Melalui televisi dapat kita saksikan berbagai `acara yang menayangkan kesaksian-kesaksian atas mukjizat yang terjadi, terutama oleh orang-orang yang tadinya tidak memeluk agama tersebut. Acara tersebut dikemas seperti sedang mempromosikan suatu produk. Kesaksian atas mukjizat yang ditayangkan tidak jarang merupakan pengakuan yang belum tentu benar dan objektif. Ironisnya, tidak sedikit nara sumber yang mengaku dulunya beragama `Buddha', yang jika kita teliti dengan seksama sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti agama `Buddha'.

Tidak jarang di rumah sakit, kita menjumpai kelompok agama `non-Buddhis' yang sedang mendoakan pasien yang tidak seagama dengan mereka. Suatu perbuatan yang sesungguhnya sangat mulia dan patut dihargai jika tidak diilhami dengan maksud tertentu yang kurang bijaksana. Sering terdengar pesan dari mereka bahwa Anda akan sembuh jika benar-benar menyerahkan diri atau percaya pada `Hyang Agung' mereka dan jangan percaya pada `Hyang Agung' yang lain (dalam agama si pasien). Jika si pasien sembuh, mereka akan menyatakan bahwa hal itu karena mukjizat dari `Hyang Agung' mereka, seakan-akan mereka lupa bahwa pada saat bersamaan si pasien masih terus menerima pengobatan medis. Jika tidak sembuh, mereka akan menyatakan bahwa hal itu karena si pasien tidak/kurang percaya pada `Hyang Agung' mereka. Jika si pasien meninggal dan sempat dialihkan agamanya menjadi penganut agama yang mereka yakini sebelum detik-detik kematian si pasien, mereka pasti menyatakan dia akan berada di sisi `Hyang Agung' atau surga dan sudah terselamatkan. Apakah Anda yakin, semudah itukah surga dapat dicapai hanya dengan modal 'percaya'?

Coba Anda bayangkan, ada beberapa suku primitif yang masih belum mengenal atau tidak yakin pada dunia pengobatan. Jika ada anggota suku yang sakit mereka hanya membawanya ke `dukun' dan meletakkannya di bawah pohon. Setelah si `dukun' membacakan `mantra-mantra', ternyata sembuh. Mungkin ini lebih canggih karena tidak diperlukan bahwa si pasien harus "percaya."

Demikian juga, tidak kurang acara kebaktian yang dikoordinasikan oleh berbagai jenis aliran `non-Buddhis', dengan tujuan untuk mempertontonkan mukjizat-mukjizat `Hyang Agung' dan dikemas seperti acara `show'. Pada acara tersebut akan terlihat adanya sekelompok orang, baik yang cacat fisik (misalnya buta, pincang), mengalami sakit (misalnya diabetes, hepatitis, kanker), hingga yang sedang stress atau depresi, berbondong-bondong menunggu dan mengharapkan terjadinya mukjizat dari `Hyang Agung' melalui pemuka aliran `non-Buddhis' tersebut.

Apakah `Hyang Agung' perlu mempertontonkan kesaktian-Nya agar manusia percaya akan keberadaan-Nya? Apa sesungguhnya tujuan yang hendak dicapai, memuji kebesaran `Hyang Agung'? Apakah pengakuan/pemujian manusia terhadap-Nya begitu penting hingga mengalahkan rasa cinta/kasih-sayang yang seharusnya diberikan oleh-Nya? Bukankah akan lebih baik `Hyang Agung' menunjukkan mukjizat-mukjizat-Nya di rumah sakit, yang jelas-jelas merupakan orang yang harus segera disembuhkan daripada mukjizat dipertontonkan di depan umum? Siapa tahu suatu saat tidak diperlukan lagi dokter dan rumah sakit seperti kembali ke masa lalu.

Demikian beberapa contoh pertanyaan yang akan terlintas di pikiran orang yang tidak mudah percaya begitu saja.

Dari data yang diperoleh, kalaupun benar terjadi mukjizat pada saat acara 'kebaktian' tersebut, diperkirakan hanya 1-3 yang mungkin sembuh setiap 100 orang. Dalam bidang statistik, kesimpulan yang diambil adalah bahwa mukjizat `Hyang Agung' yang dipertontonkan pada saat acara tersebut tidaklah benar. Bayangkan saja, persentase orang yang tidak sembuh berada di atas 90%, sehingga yang sembuh lebih tepat disebut sebagai `sampling error' (data yang menyimpang) untuk mengambil suatu kesimpulan generalisasi. Sebagai gambaran, andaikan dalam proses pengobatan untuk seratus pasien ternyata yang sembuh hanya tiga pasien, apakah dapat dikatakan proses pengobatan tersebut sukses? Komentar defensif yang sering terdengar adalah bahwa orang yang benar-benar percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya pada `Hyang Agung hanyalah sekitar 1-3 % tadi, dan itu adalah suatu keberhasilan yang telah disimpulkan secara terbalik. Tidak jarang justru yang sembuh adalah orang yang tidak pernah atau jarang kelihatan di tempat ibadah mereka.
Belum lagi ditambah banyaknya penipuan yang sering dilakukan oleh pemuka aliran agama yang tidak benar, di mana untuk acara seperti itu, terdapat pengurus yang dikhususkan untuk mencari orang-orang yang berpura-pura mengalami cacat fisik ataupun sakit, dan terlihat sembuh mendadak saat dibacakan `doa kesembuhan' oleh sang pemuka aliran agama tersebut. Kasus yang sudah dianggap kriminal ini pernah diungkapkan dalam berita.

Dalam agama Buddha, peristiwa yang mengisahkan mukjizat tak terhitung banyaknya, dan bukan monopoli Sang Buddha saja, tetapi juga dapat dilakukan oleh siswa-siswa Beliau, baik itu bhikkhu maupun upasaka/upasika. Tidak saja dengan mengacu pada peristiwa di dalam kitab suci Tipitaka (saudara dapat membacanya), berbagai peristiwa pun dapat kita jumpai saat ini, di mana tidak sedikit yang sembuh dari penyakit berat seperti kanker dan sebagainya, dengan melatih meditasi Vipassana. Terdapatnya umat yang mempunyai kemampuan membaca pikiran orang, menyembuhkan orang dari jarak jauh, dan sebagainya.

Dalam agama Buddha, seseorang yang mempunyai kekuatan batin bukanlah sesuatu yang luar biasa, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Melalui meditasi, jika seseorang sudah mencapai Jhâna keempat, ia dapat mengembangkan enam Abhiñña dan Iddhividhañna (kemampuan yang luar biasa) sebagai berikut:
  1. Pubbenivâsânussatiñâna: kemampuan untuk melihat kehidupan masa lampau
  2. Dibbacakkhuñâna atau Cutûpptañâna: mata batin, mampu melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk yang lahir sesuai dengan kammanya masing-masing.
  3. Cetopariyañâna atau Paracittavijañâna: kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain.
  4. Dibbasotañâna: telinga dewa, kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam manusia, alam dewa, alam brahma yang dekat maupun yang jauh.
  5. Iddhividhiñâna: kekuatan magis, yang terdiri dari:
    a. Adhittana-iddhi, yaitu kekuatan kehendak (will power) untuk mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak. Atau dari banyak menjadi satu.
    b. Vikubbanâ-iddhi, yaitu kemampuan untuk mengubah rupa, misalnya mengubah rupa menjadi anak kecil, raksasa, ular, membuat diri menjadi tidak nampak.
    c. Manomaya-iddhi, yaitu kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran, misalnya menciptakan istana, taman, singa, dan benda-benda lain.
    d. Ñânavipphara-iddhi, yaitu pengetahuan menembus ajaran.
    e. Samadhivipphrâ-iddhi, yaitu konsentrasi lebih jauh sebagai berikut:
    - Kemampuan menembus dinding, gunung, dan lain-lain,
    - Kemampuan menembus ke dalam bumi bagaikan menyelam air
    - Kemampuan berjalan di atas air.
    - Kemampuan tak terbakar oleh api.
    - Kemampuan terbang di angkasa.
  6. Âvakkhayañâna: kemampuan untuk memusnahkan sava atau kekotoran batin. Pemusnahan kekotoran batin ini akan membimbing ke arah kesucian tertinggi (Arahat).
Penyebaran ajaran melalui kesaktian atau mukjizat sudah ada jauh sebelum masa Sang Buddha, di mana para pertapa sering menunjukkannya untuk memperbanyak pengikutnya. Tetapi saat agama ‘non-Buddhis’ menggunakan ‘mukjizat’ untuk menyebarkan ajarannya, justru Sang Buddha menunjukkan sikap Beliau yang unik dengan melarang para bhikkhu ataupun para siswa-Nya menggunakan kesaktian untuk menyebarkan Dhamma, dan telah ditetapkan menjadi larangan untuk para bhikkhu dalam Vinaya.

Dikisahkan, seorang bendahara dari Rajagaha membuat tantangan untuk para pertapa, bila ada yang berhasil mengambil mangkuk (yang terbuat dari kayu cendana) yang digantungkan di udara dengan seutas tali dari sambungan bambu dengan ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah, maka dia beserta anak dan istrinya akan menjadi muridnya. Pada saat tidak ada seorang pertapa pun yang dapat mengambil mangkuk tersebut, Y.M. Pindola Bharadvaja yang sedang berpindapatta bersama Y.M. Maha Moggollana, terbang dan mengambil mangkuk tersebut. Setelah mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Y. M. Pindola Bharavadvaja, Sang Buddha menegur beliau dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil serta menyerahkannya kepada para bhikkhu untuk dijadikan bubuk kayu cendana. Sejak itu, Sang Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktikkan kekuatan supranatural untuk tujuan seperti itu di masa yang akan datang.

Pelanggaran atas peraturan latihan akan menyebabkan seorang bhikkhu mendapat hukuman yang disebut apatti. Dalam Vinaya bagian Sudhika Pacittiya, disebutkan bahwa apabila seorang bhikkhu mengatakan/menunjukkan kepada umat awam kemampuan gaib yang dimilikinya, maka ia melanggar pacittiya (pelanggaran yang dapat diperbaiki). Lebih jauh lagi, di dalam Vinaya bagian Parajika , dinyatakan jika seorang bhikkhu berbohong dengan menyatakan dirinya mempunyai kesaktian yang sebenarnya tidak dimilikinya, maka ia melanggar Parajika (pelanggaran berat) dan harus dikeluarkan dari kebhikkhuan.

Di dalam Dîgha Nikâya I, Sang Buddha menyatakan bahwa para pertapa yang melakukan peramalan suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, penujuman, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci dan berpraktek sebagai ‘dokter’, merupakan pertapa-pertapa yang mendapatkan penghidupan dengan cara rendah.

Berbagai kesaktian dan mukjizat yang pernah ditunjukkan oleh Sang Buddha dan para siswa, tidak untuk memamerkan kesaktian para Ariya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kisah, misalnya:
  • Pada saat Sang Buddha mengunjungi Kapilavatthu atas undangan Raja Suddhodana (ayah Pangeran Siddharta). Karena telah menjadi Buddha maka tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Raja Suddhodana (sesuai dengan tradisi saat itu bahwa seorang anak harus bersujud di depan ayahnya). Sang Buddha terbang ke angkasa mendekati Raja Suddhodana dan dari badan sebelah atas menyala api yang berkobar-kobar dan bagian bawah badan memancarkan air dingin, dan setelah itu air memancar dari badan sebelah atas dan api menyala berkobar-kobar dari badan sebelah bawah.
  • Sang Buddha terbang dan melayang di atas sungai Rohini memberikan khotbah untuk mencegah terjadinya perang antara suku Koliya dan suku Sakya dalam memperebutkan air.
  • Pada saat Añgulimala akan membunuh ibunya untuk melengkapi jari tangan yang dikumpulkan (seribu tangan) untuk dipersembahkan kepada gurunya. Sang Buddha mendatangi Añgulimala dan berdiri di antara Añgulimala dan ibunya. Pada saat Añgulimala melihat Sang Buddha, dengan pedang terhunus Añgulimala berlari mengejar Sang Buddha untuk membunuhnya. Walaupun Sang Buddha berjalan dengan lambat, Añgulimala tidak pernah berhasil mengejar dan menyentuh Sang Buddha walaupun sudah mengejar sekuat tenaga. Kemudian Sang Buddha memberikan nasehat kepada Añgulimala. Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, Añgulimala menyadari perbuatannya dan kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian Arahat.
  • Seorang upasaka ingin pergi ke Jetavana untuk melihat Sang Buddha. Ia sampai di tepi sungai Aciravati ketika hari sudah malam, dan tidak ada perahu untuk menyeberangi sungai itu karena tukang perahunya sedang pergi ke tempat Sang Buddha mendengarkan pembabaran Dhamma. Karena pemusatan pikirannya yang kuat sekali kepada Sang Buddha, ia dapat berjalan di atas air menyeberangi sungai, dan kakinya tidak tenggelam dalam air. Ia berjalan bagaikan di atas tanah.
Sang Buddha tidak mengajarkan kita untuk mencari kesaktian dan mukjizat, mempercayainya sebagai suatu kekuatan yang dapat memberikan kita berkah dan keselamatan. Karena hal itu tidak benar dan tidak berguna untuk pengembangan spritual atau batin.

Orang yang selalu mencari perlindungan pada hal-hal seperti itu, tidak akan dapat melihat Dhamma nan mulia yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha. Umat Buddha hanya akan mencari kesaktian dan mukjizat di luar dirinya, dan lupa akan pencapaian yang menjadi tujuan hidup seorang Buddhis.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, keberuntungan dan kebahagiaan dapat dicapai
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, kematian dapat dicegah
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, roda samsara dapat dihentikan.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, kesucian dapat diperoleh.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, penderitaan akan berakhir.
Tidak dengan mengandalkan kesaktian dan mukjizat, pembebasan dapat direalisasikan.
Dhamma berada sangat dekat, mengundang untuk dibuktikan sendiri. Berkah kebahagiaan dapat Anda ciptakan sendiri tanpa harus menunggu terjadinya mukjizat dari luar diri kita. Karena dengan menjalankan Dhamma, ajaran nan agung yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha, Anda dapat menciptakan sendiri ‘mukjizat-mukjizat’ dalam kehidupan Anda.

Senin, 26 Agustus 2013

Kumpulan Inspirasi Samanera Vimalaseno

1. kehidupan memang amat menyakitkan,
    bagi mereka yang mencari kepuasan duniawi,
    tanpa memikirkan apa yang seharusnya ia kerjakan.

2. Awan hitam akan menyelimuti cahaya mentari,
    ketidaktahuan seseorang tentang  hidup ini,
    akan menutupi jalan kesuksesan seseorang mencapai sebuah impian.

3. Pohon yang tua belum berarti kuat dan kokoh,
    justru bisa saja rapuh dahan dan rantingnya,
    begitupula seseorang yang dituakan,
    tidak luput dari kesalahannya karena prilakunya.

4. Ketegaran gulungan ombak menerjang batu karang yang kokoh,
    pada akhirnya batu karang akan terkikis olehnya,
    ketegaran semangat jiwa akan menerjang kemalasan bagi mereka yang waspada.

5. Hiduplah seperti pohon yang berdaun rindang mampu memberi kesejukan,
    seperti batangnya yang kokoh. pemberi kekuatan,
    seperti buahnya yang manis, pemberi kenikmatan,
    layaknya seseorang hidup dapat memberi hasil bagi semua orang,
    sehingga hidup dapat membari warna dan arti bagi mereka yang melihat dan bersahabat denganmu.

6. Petikan gitar akan menghantarkan melodi yang indah,
    bagi mereka yang mengerti kunci nada,
    langkah kehidupan akan menghantar simponi melodi kehidupan,
   bagi mereka yang selalu menghargai dan mengerti kunci dalam menghargai waktu.

7. Lukisan yang indah pada awalnya adalah hasil dari tangan-tangan seniman yang handal,
    mereka mampu memberi warna pada kanvas yang mereka goreskan dengan talenta mereka,
    selayaknya kita hidup saat ini dapat berkarya, dari sebuah ide yang cemerlang,
    bagaikan pelangi yang tidak terpisah dari keindahannya.

8. Pelangi sungguh indah apabila mereka selalu datang dan pergi secara bersamaan,
    mereka tidak pernah menunjukkan ego mereka masing-masing, meskipun mereka beda,
    indahnya sebuah persahabatan adalah mereka yang selalu setia, selalu ada bila ia dibutuhkan,
    itulah sahabat sejati, meskipun ia jauh tetap dekat di hati.

9. Padi yang berisi akanlah merunduk, apabila ia telah menguning, ia akan manjadi padi,
    padi yang tidak berisi ia akan tetap berdiri, meskipun menguning, ia akan menjadi gabuk (kosong),
    demikian pula mereka yang pintar akan merunduk, merendah hati, tidak sombong, berbagi pengetahuan,
    dan sedikit berbicara,
    berbeda halnya bagi mereka yang tidak pintar, akan tetapi berlagak pintar, sombong, dan banyak bicara,
    apa yang ia lakukan sesungguhnya adalah mengandung unsur kemunafikan belaka.

10. Percikan api akan menghasilkan api, api yang digunakan dengan sebaiknya akan menghasilkan hal yang
      baik dan bermanfaat,
     sebaliknya percikan api akan menghasilkan api, dan api akan mendatangkan bencana bagi mereka yang
     tidak dapat menjaga dan menggunakannya,
     demikian seseorang yang bersemangat adalah membakar sebuah tekad dalam sebuah perjuangan,
     sebaliknya seseorang yang bersemangat untuk melakukan hal yang tidak berguna,
     sama halnya ia membakar dirinya sendiri diatas tungku yang ia buat.

Kamis, 18 Juli 2013

Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng



Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.

Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.

Legenda 1
Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.

Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup "melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru", tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).

Konon, sesudah Yu agung (Âçã», raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.

Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).

Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.

Legenda 2
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Legenda 3

Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

Legenda 4
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.

Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.

Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.

Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.

Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.

Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan.

Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.

Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno "Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah". *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.

Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.

Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian *(ðãðè): ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.

Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju *(sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.

Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai "hari raya penanaman pohon". Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.

Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.

Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).

Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.

Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu
penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan.
Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.

Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar
tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.

Sumber Penulisan:
1. Berdasarkan cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Indonesia.
2. http://www.hoktekbio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62:qing-ming-ceng-beng&catid=27:ritual-a-budaya&Itemid=72
3. http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/6742-cengbeng.html
4. http://www.chinapage.com/festival/qingming.html
5. TRADITIONAL CHINESE CULTURE by Qizhi Zhang.
6. The Legend of the Kite: A Story of China(Make Friends Around the World)by Kuiming Ha, Yiqi Ha. Published by Soundprints
7. http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-41419.html
8. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
9. Dong Zhou Lie Guo Zhi (
東周列國志), Feng, Menglong, 1574-1646, 2008.(pertama terbit 1752, Shanghai shu ju)
10. Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
11. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
Irfan_utha0 komentar

Kamis, 04 Juli 2013

DUNIAKU-DUNIAMU



Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Makanya sayangilah anak kita walau bagaimanapun karna itu adalah darah daging kita.